Home / BUDAYA / Qingming, Budaya Tionghoa dalam Tradisi Lokal
CHENGBENG - Dalam masyarakat Tionghoa, Chengbeng adalah ziarah ke kuburan leluhur untuk mengenang jasa-jasa mendiang keluarga mereka. Foto: Anita

Qingming, Budaya Tionghoa dalam Tradisi Lokal

MEDIAWARTA.COM – Akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa (lokal) menghadirkan warna pluralisme dalam masyarakat pedesaan. Salah satu budaya yang dikerjakan, baik orang Tionghoa dan Jawa adalah Qingming atau Chengbeng

Dalam masyarakat Tionghoa, Chengbeng adalah ziarah ke kuburan leluhur untuk mengenang jasa-jasa mendiang keluarga. Sementara di Jawa, tradisi itu dijadikan sebagai ritual penanda musim penggilingan tebu. Hampir semua pabrik gula di Jawa, terutama peninggalan Belanda mengadakan acara Cembeng yang berasal dari kata Chengbeng.

Salah seorang pegawai administrasi di pabrik gula Camming, Kabupaten Bone, Sulsel, Sutarno yang kebetulan etnik Jawa, saat ditemui beberapa waktu lalu, menceritakan asal mula Qingming atau cembengan dalam tradisi Jawa.

“Tradisi itu berasal dari budaya Tiongkok, yakni Chengbeng yang berarti ziarah. Pada zaman penjajahan Belanda, pekerja pabrik keturunan Tionghoa melakukan ritual ziarah kepada leluhur. Dalam perkembangannya, rangkaian tradisi cembengan pabrik gula yang ada di Jawa khususnya, meliputi ziarah ke makam-makam tokoh Jawa yang dianggap berjasa di sana,” urainya.

Kendati demikian, untuk wilayah Sulsel, ia melihat hanya murni dilakukan warga Tionghoa, tetapi beberapa etnik Jawa yang bekerja di daerah ini tetap melakukan ritual dengan melakukan doa serupa di Jawa kepada sanak saudara mereka yang telah berpulang.

Pada saat Chengbeng di Jawa, sambung Sutarno, diadakan juga selamatan untuk memulai menggiling tebu, diiringi dengan pertunjukan kuda kepang atau reog, untuk siang hari, sementara pada malam hari digelar pertunjukan wayang kulit.

“Dalam puncak acara dalam ritual selamatan giling tersebut, dilakukan kegiatan methik (pemetikan) tebu temanten sampai penggilingannya,” jelasnya.

Ditambahkan, cembeng biasanya dilakukan pada April atau Mei setiap tahunnya, dan perayaan bisa berlangsung sekitar 15 hari. Untuk tahun ini, pria yang pernah bekerja di pabrik gula Mojo, Sragen, mengatakan hanya melakukan ritual doa.

“Dulu waktu di Jawa, cembengan di PG Mojo digelar selama satu pekan. Perayaan ini ditujukan untuk buruh pabrik dan masyarakat sekitar, sementara pada waktu yang bersamaan etnis Tionghoa mengadakan Chengbeng sesuai ritual asli mereka,” imbuhnya.

Komentar

Check Also

Ini uang panai orang Tionghoa

MEDIAWARTA.COM – Ini uang panai orang Tionghoa. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, …