Warna Hitam, Simbol Kesederhanaan Suku Kajang

MEDIAWARTA.COM – Menggunakan pakaian berwarna hitam sudah menjadi identitas dari suku Kajang di Kabupaten Bulukumba, Sulsel. Dibalik itu, ternyata pakaian tersebut memiliki makna tersendiri bagi suku mereka. Warna hitam untuk pakaian (baju, sarung) adalah wujud kesamaan dalam segala hal, termasuk kesamaan dalam kesederhanaan.

Menurut papasang (pesan dari nenek moyang) tidak ada warna hitam yang lebih baik antara yang satu dengan yang lain. Semua hitam adalah sama. Warna hitam untuk pakaian (baju dan sarung) menandakan adanya kesamaan derajat bagi setiap orang di depan Turek Akrakna (Tuhan Yang Maha Kuasa).

Peduli lingkungan

Kesamaan yang dimaksud bukan hanya dalam wujud lahir, tetapi juga dalam menyikapi keadaan lingkungan. Sehingga dengan kesederhanaan, tidak mungkin memikirkan memperoleh sesuatu yang berlebihan dari dalam hutan yang ada di sekitarnya. Dengan demikian, hutan akan tetap terjaga kelestariannya.

Suku Kajang Amma Toa sangat menghormati dan menjaga lingkungan. Mereka memperlakukan hutan seperti seorang ibu yang harus dilindungi. Masyarakat dilarang keras menebang kayu, memburu satwa, atau memungut hasil-hasil hutan. Hal tersebut dipercaya bisa mendatangkan kutukan dan mengancam kelangsungan hidup masyarakat.

Kesederhanaan

Berbicara tentang ideologi hidup masyarakat Kajang, tidak dapat terlepas dari sebuah prinsip hidup yang disebut tallase kamase-mase. Itu merupakan bagian dari pasang yang memerintahkan masyarakat Kajang untuk hidup secara sederhana dan bersahaja, menolak segala sesuatu yang berbau teknologi. Menurut mereka, benda-benda teknologi dapat membawa dampak negatif bagi kehidupan.

Sebagian besar penduduk Kajang bermata pencaharian sebagai petani, tukang kayu dan penenun. Aktivitas ini dilakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup saja, tanpa ada kecenderungan mencari sesuatu yang lebih dari kebutuhan hidup.

Secara lebih jelas tallase kamase-mase tercermin dalam papasang sebagai berikut:

  • Ammentengko nu kamase-mase, accidongko nu kamase-mase, adakkako nu kamase-mase, ameako nu kamase-mase, artinya berdiri engkau sederhana, duduk engkau sederhana, melangkah engkau sederhana, dan berbicara engkau sederhana.
  • Anre kalumannyang kalupepeang, rie kamase-masea, angnganre na rie, care-care na rie, pammalli juku na rie, koko na rie, bola situju-tuju, artinya kekayaan itu tidak kekal, yang ada hanya kesederhanaan, makan secukupnya, pakaian secukupnya, membeli ikan secukupnya, kebun secukupnya, rumah seadanya.
  • Jagai lino lollong bonena, kammayatompa langika, rupa taua siagang boronga, artinya peliharalah dunia beserta isinya, demikian pula langit, manusia dan hutan. Filosofi ini menempatkan langit, dunia, manusia dan hutan, sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam suatu ekosistem yang harus dijaga keseimbangannya.

Komentar

Check Also

Ini uang panai orang Tionghoa

MEDIAWARTA.COM – Ini uang panai orang Tionghoa. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, …

Share This
Mediawarta