Home / BUDAYA / Festival Duanwu, dari Bacang hingga Perahu Naga

Festival Duanwu, dari Bacang hingga Perahu Naga

MEDIAWARTA.COM – Lahirnya penganan bacang, tak sesederhana yang dibayangkan banyak orang lantaran hanya berkonotasi kuliner. Bagi sejarawan, khususnya di Tiongkok, bacang juga menyimpan kisah patriotik seorang tokoh Negeri Chu, Qu Yuan, sekitar dua ribu tahun lampau di zaman Sam Kok.

Dinasti Chu pada zaman Sam Kok atau zaman Peperangan (403 SM-231 SM) sudah tidak berarti lagi sebagai negara pusat. Pada zaman itu ada tujuh negara besar, di antaranya Negeri Qi, Chu, Yan, Han, Zhao, Wei, dan Qin. Negeri Qin adalah negeri yang paling kuat dan agresif, maka enam negeri yang lain itu sering bersekutu untuk bersama-sama menghadapi Qin.

Qu Yuan adalah seorang menteri besar dan setia dari Negeri Chu. Ia juga tokoh yang paling berjasa karena berhasil menyatukan keenam negeri itu untuk menghadapi Qin. Karena itu, orang-orang di Negeri Qin terus-menerus berusaha menjatuhkan nama baik Qu Yuan, terutama ketika berhadapan dengan kaisar dari Negeri Chu, Cho Hwai Ong.

Di Negeri Chu, ternyata banyak menteri yang tidak setia. Dengan bantuan orang-orang itu, Tio Gi, seorang menteri Negeri Qin yang licik, berhasil meretakkan hubungan Qu Yuan dengan kaisar Negeri Chu. Akibatnya, Qu Yuan dipecat dan hancurlah persatuan keenam negeri itu.

Cho Hwai Ong bahkan terbujuk janji-janji yang menyenangkan, agar mau berkunjung ke Negeri Qin. Akan tetapi, setelah tiba di sana, ia malah ditawan. Cho Hwai Ong menyesali perbuatannya sampai akhir ajalnya.

Selanjutnya, Kaisar Negeri Chu yang baru, Cho Cing Siang Ong, kembali memberikan kepercayaan kepada Qu Yuan. Keenam negeri yang retak tersebut, dapat dipersatukan kembali sekalipun tidak sekokoh dulu.

Pada tahun 293 SM, Negeri Han dan Wei hancur dan luluh-lantak diserang Negeri Qin. Lantaran peristiwa tersebut, Qu Yuan kembali difitnah. Qu Yuan dikatakan akan membawa Negeri Chu mengalami nasib yang sama seperti Negeri Han dan Wei. Sebagai kaisar muda, Cho Cing Siang Ong ternyata masih labil, dan tak bijak menyikapi semua masalah ketimbang kaisar sebelumnya. Ia tidak saja memecat Qu Yuan, bahkan menjatuhi hukuman agar Qu Yuan dibuang ke daerah Danau Tong Ting, dekat Sungai Miluo.

Di tempat pembuangan ini, Qu Yuan mengalami depresi dan frustasi berat. Namun, ia akhirnya dapat bertahan karena terus dimotivasi kakak perempuannya. Qu Yuan akhirnya ikhlas dan dapat menerima keadaannya yang didepak Kaisar Cho Cing Siang On.

Kendati demikian, Qu Yuan kadang-kadang belum dapat menerima nasibnya yang malang tersebut. Bagaimanapun, jika merunut ke belakang, ia adalah pejabat terpandang dan seorang bangsawan terhormat dari Negeri Chu. Oleh karena itu, Qu Yuan merasa dirinya tidak berarti lagi.

Suatu ketika di daerah perasingannya, ia mendapat kabar Negeri Chu dihancurkan negeri musuh. Qu Yuan yang sangat sedih dan putus asa, mendayung sebuah sampan sembari membaca puisi-puisi patriotik dan kecintaannya terhadap Negeri Chu hingga ke tengah Sungai Miluo, sebelum melompat bunuh diri ke dalam sungai, tepat pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek.

Saat itu, beberapa orang yang melihat tokoh bijak itu melompat ke dalam sungai, segera menolongnya, tetapi hasilnya nihil, jenazahnya pun tidak diketemukan. Rakyat yang bersimpati terhadap Qu Yuan, tertegun mendengar peristiwa tragis tersebut. Mereka beramai-ramai mencari jenazah Qu Yuan dengan menggunakan ratusan sampan dan perahu-perahu kecil, namun sampai seharian tak juga menemukan jazadnya.

Rakyat yang berduka tetap berharap agar jenazah Qu Yuan dapat ditemukan. Untuk menghindari rusaknya jazad karena akan dimangsa makhluk-makhluk di dalam sungai, mereka pun berinisiatif melemparkan makanan “bacang” ke dalam sungai. Tujuannya, untuk mengalihkan perhatian ikan-ikan agar tidak mengganggu jenazah Qu Yuan.

Awalnya, mereka melemparkan nasi dan makanan lain ke dalam sungai, namun agar tak terburai, mereka pun membungkusnya dengan dedaunan bambu yang sampai sekarang dipakai untuk membungkus penganan bacang.

Hingga ribuan tahun berlalu, penganan ini masih dapat ditemui, terutama pada Festival Duanwu yang menghadirkan lomba perahu-perahu Naga. Cikal-bakal hadirnya perahu dalam festival yang sebenarnya digelar untuk mengenang Qu Yuan ini, bermuasal dari perahu dan sampan nelayan yang dulu mencari jenazah Qu Yuan.

Effendy Wongso/Foto: Effendy Wongso

Komentar

Check Also

Ini uang panai orang Tionghoa

MEDIAWARTA.COM – Ini uang panai orang Tionghoa. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, …