Home / BUDAYA / SASTRA DAN SENI / Air Mata Ibuku dalam Semangkuk Sup Ayam
Foto: Istimewa

Air Mata Ibuku dalam Semangkuk Sup Ayam

Air Mata Ibuku dalam Semangkuk Sup Ayam
Oleh Mariska Tracy

MEDIAWARTA.COM – Miranti pergi sendiri dan duduk termenung di sebuah meja restoran. Tidak seperti biasanya ia pergi sendirian. Apalagi hanya untuk makan di sebuah restoran. Sangat tidak etis baginya kalau kemana-mana harus sendirian. Minimal harus ada satu orang yang menemani, baik itu suaminya, Maya anak perempuan semata wayangnya yang masih berusia enam tahun atau salah satu teman karibnya.

Dilihatnya daftar menu, dan ia bingung hendak memesan apa. Dibilang lapar pun juga tidak. Entah apa yang membuatnya refleks memasuki restoran itu.

Setelah membaca daftar menu bolak-balik, tidak ada satu pun yang bisa membuatnya tertarik. Sup ayam? Sepertinya aku butuh itu untuk menghangatkanku. Begitu batinnya meminta.

“Mbak, saya pesan sup ayamnya satu, ya,” seru Miranti kepada pelayan restoran itu.

“Cuma itu saja, Bu? Tidak mau coba yang lain?” tawar gadis itu.

“Tidak,” jawabnya dengan senyum. “Minumnya air putih saja,” tambahnya, dan gadis itu langsung mengiyakan dengan menganggukkan kepala.

Sembari menunggu pesanan datang, ia melanjutkan keheningan itu lagi. Ponsel dalam tasnya bergetar. Ada panggilan, dari Yudi suaminya, namun diacuhkannya begitu saja. Ponsel itu terus bergetar, bergetar dan bergetar secara konsisten. Getaran itu akhirnya terhenti. Mungkin sudah lelah menunggu respons darinya. Dikeluarkan ponsel itu dari tasnya dan sudah tercantum lima panggilan tidak terjawab dari Yudi. Yudi juga mengirimkan pesan SMS.

***

Ma, kamu di mana? Kok, pergi tidak ada kabarnya?

Perhatian itu tetap saja diacuhkan. Bukan karena ia benci Yudi. Malahan, Yudi terlalu baik. Ia menundukkan kepalanya dan meneteskan air mata.

“Permisi, Bu. Ini supnya.” Gadis yang sama mengantarkan pesanannya.

Miranti buru-buru menghapus air matanya. “Oh, iya. Terima kasih.”

Ia boleh sedikit mengurut dada. Setidaknya gadis pelayan itu tidak menanyakan mengapa ia hampir menangis. Lokasi tempat duduk yang dipilihnya juga sudah sangat strategis. Di pojok kiri belakang, sehingga tidak menjadi pusat perhatian orang banyak. Ia sudah merencanakan semuanya itu.

Baru saja ia berniat memasukkan sesendok kuah dan irisan wortel itu ke dalam mulutnya selagi masih hangat, namun terasa begitu berat. Dikembalikannya lagi letak sendok itu. Bukan karena faktor perut kenyang, melainkan hatinya sendiri yang sedang gundah. Air mata itu keluar lagi dan tetesannya terjatuh ke dalam mangkuk sup itu.

Penculik sialan! Gara-gara dia aku tidak bisa melihat Melisa. Melisa yang seharusnya berada di sisiku sekarang. Melisa yang seharusnya sudah mulai bertumbuh menjadi anak yang pintar dan cantik. Kamu di mana, Nak?

Hatinya semakin teriris dan pedih. Kejadian beberapa tahun lalu silam itu masih terus dikenang, dan tak akan pernah terlupa. Sampai sekarang.

Bagaimana tidak, penculik yang hingga kini masih misterius itu telah menculik anak perempuannya yang dulu masih berusia dua tahun di sebuah mal. Polisi tidak mampu melacak jejak sang biadab itu. Ia kecewa. Sungguh kecewa kepada semua orang, termasuk dirinya sendiri yang ia anggap tidak mampu menjaga putrinya dengan baik. Nuraninya mengatakan darah dagingnya itu masih hidup.

Komentar

Check Also

Ornamen Musim Salju

Ornamen Musim Salju Oleh Ryana Mustamin MEDIAWARTA.COM – Menjelang musim semi, gurat matahari masih kerap …

Share This