Foto: Dok AP

Fakta seputar kudeta militer yang gagal di Turki

MEDIAWARTA.COM, TURKI – Ada faktar seputar kudeta militer yang gagal di Turki. Dikutip dari femina.co.id, pada Sabtu (16/7/2016) dini hari lalu, sekelompok pemberontak berusaha melakukan kudeta di Turki. Bentrokan besar meletus di Ankara dan Istanbul.

Situasi di Turki mencekam selama lima jam. Tank-tank turun ke jalan, sejumlah jet dan helikopter tempur dikuasai pemberontak. Jembatan Bhosporus yang menghubungkan Asia dan Eropa di Istanbul diblokade pemberontak. Di hari yang sama, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengatakan kudeta telah gagal dan pemerintah kembali mengontrol negara.

Para pemberontak sempat mengambil alih studio televisi nasional TRT Turk dan meminta stasiun televisi tersebut membacakan pesan mereka untuk warga Turki. Mereka menyebut dirinya sebagai “Peace Council”. Kantor media massa lainnya, CNN Turki juga sempat diduduki para pemberontak.

Mereka menguasai ruang kendali siar dan mematikan akses media sosial. Namun, tidak berlangsung lama. Sebelum tiba di Bandara Ataturk, Presiden Erdogan menghubungi CNN Turki dan tampil lewat video call facetime dan meminta warga Turki untuk turun ke jalan untuk memprotes. Warga diminta menduduki bandara dan pusat keramaian publik.

Menurut pengamat pemerintahan, Hasanuddin M Kholil, upaya kudeta ini bisa digagalkan rakyat Turki karena mereka telah sadar tentang demokrasi dan masa depan bangsa Turki.

“Rakyat Turki menjawab seruan melawan kudeta dari Presiden Erdogan di malam buta, dengan datang secara bergelombang memenuhi jalan utama. Mereka melawan. Rakyat Turki menegaskan kembali pilihan mereka: demokrasi harus diselamatkan, dan itu yang mereka lakukan,” terangnya.

Hingga Senin (18/7/2016) pagi, BBC mencatat ada 6.000 orang yang ditahan karena prokudeta. Ada 29 kolonel dan lima jenderal, serta 2.700 hakim dicopot dari jabatannya. Presiden Erdogan berjanji untuk membersihkan pemerintahan ini dari “virus” yang menyebabkan kudeta.

Korban luka mencapai 1.440 orang, dan korban jiwa yang jatuh akibat kekerasan selama kudeta telah mencapai 290 jiwa. Sekitar 100 orang di antaranya berasal dari militer yang ikut kudeta.

Bagaimana pengaruh kudeta di Turki terhadap perekonomian? Ini adalah ketiga kalinya kudeta militer di Turki sejak 1960. Mata uang lira mengalami penurunan paling tajam dalam delapan tahun terakhir terhadap dolar AS dan Euro setelah kudeta Sabtu lalu.

Presiden Erdogan menuding Fethullah Gulen (75) sebagai dalang di balik kudeta di Turki itu. Fethullah merupakan ulama pemimpin gerakan Hizmet, gerakan tanpa struktur formal yang mengampanyekan kebaikan untuk seluruh umat manusia. Sesuai namanya, “Hizmet” berarti “pelayanan” itu menggambarkan wajah Islam yang toleran.

Fethullah menekankan altruisme, kerja keras, dan pendidikan kepada para pengikutnya yang disebut Gulenist. Lebih 100 sekolah milik gerakan itu di Amerika Serikat (AS) dilengkapi fasilitas berteknologi tinggi, dan banyak siswanya belajar dengan didanai beasiswa dari para pengusaha yang terinspirasi pemikiran Gulen.

Tidak heran, gerakan ini dengan cepat berkembang menjadi salah satu jejaring Muslim terbesar di dunia. Dalam jejaring Gulenist, para pengusaha ini mengendalikan bisnis bernilai miliaran dolar, di antaranya perusahaan media, perbankan, dan perusahaan konstruksi.

Para pemimpin militer dan birokrat Turki level menengah disebut banyak menjadi pengikutnya. Tudingan Presiden Erdogan pada Fethullah bukan hal baru karena sejak lama Erdogan telah menuduh Gulen berseberangan dengannya. Sebetulnya, satu dekade terakhir Presiden Erdogan sempat berhubungan baik dengan Gulen. Bahkan, gerakan Gulen merupakan pendukung kuat Erdogan.

Meski demikian, Gulen menolak tudingan keterlibatan dirinya dalam kudeta Turki. Sejak 15 tahun lalu, Gulen tinggal sebagai eksil di Pennsylvania, AS. “Saya bahkan sudah tidak mengenal siapa saja pengikut saya di Turki,” ujarnya kepada BBC.

Presiden Erdogan meminta pemerintah AS mengekstradisi Gulen. Permintaan ini dikritisi tajam Menteri Luar Negeri AS, John Kerry.

Sekadar diketahui, Turki merupakan negara berpopulasi 74,5 juta jiwa. Di abad ke-15, Turki sempat menjadi pusat Kekaisaran Ottoman, salah satu kekaisaran terbesar dan terpanjang dalam sejarah dunia. Pemerintahan Turki yang modern dan sekuler dirintis pemimpin nasionalis Turki, Kemal Ataturk pada 1920-an.

Komentar

Check Also

Menyusul Rusia, Kini Iran Akan Memblokir Telegram

MEDIAWARTA.COM, IRAN – Rencana pemblokiran telegram  oleh Pemerintah Iran diungkapkan langsung oleh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Khamenei …

Share This
Mediawarta