Home / EDUKASI / Ini permainan tradisional masa kecil yang selalu dirindukan
Foto: Istimewa

Ini permainan tradisional masa kecil yang selalu dirindukan

MEDIAWARTA.COM – Ini permainan tradisional masa kecil yang selalu dirindukan. Semasa kita kecil, tidak ada hari tanpa kumpul bersama anak-anak tetangga. Kita akan bermain bersama, mulai petak umpet, gobak sodor, atau bentengan pasti dimainkan secara bergantian.

Saat ini, seperti dikutip dari femina.co.id, anak-anak kecil zaman sekarang sibuk sendiri dengan gadget. Mungkin saatnya kita mengenalkan kembali tiga permainan tradisional seru, terutama buat anak perempuan seperti bekel, congklak, dan engklek.

Bekel, nama bekel diambil dari permainan bikkelen (Belanda) yang juga menggunakan logam yang disebut bikkels. Meski kelihatannya mudah, permainan ini butuh konsentrasi tingkat tinggi. Sambil melempar bola karet dengan satu tangan, pemain harus terampil menyebar dan mengambil enam biji bekel yang terbuat dari kuningan atau kerang.

Bekel menyerupai knucklebones, disebut juga astragaloi, hucklebones, dibs, jackstones, chuckstones, atau fivestones, yaitu permainan kuno yang dimainkan menggunakan lima benda-benda kecil dan dipercaya sebagai peninggalan Romawi Kuno, Yunani, dan Mesir.

Congklak, sebutan lain untuk congklak adalah congak atau dakon. Konon, permainan yang menggunakan papan berlubang (dua besar, 14 kecil) dan biji-bijian berjumlah 98 (setiap lubang kecil diisi tujuh biji) ini berasal dari Afrika atau Arab. Dari Timur Tengah, permainan ini lalu tersebar ke Afrika dan sampai di Asia berkat pedagang-pedagang Arab.

Conglak hanya bisa dimainkan dua orang. Konon, kalau seorang cewek jago main congklak artinya ia akan mahir mengelola keuangan atau menguasai manajemen. Pasalnya, dengan strategi yang tepat, “lumbung” seseorang bakal terus dipenuhi biji congklak.

Engklek, permainan ini butuh keseimbangan badan. Permainan berasal dari Hindustan. Berhubung tersebar hampir ke seluruh wilayah Indonesia, muncul istilah berbeda-beda untuk menyebutnya. Seperti pacih di Aceh, cak ingking gerpak di Sumatera Selatan, siki doka di NTT, dan masih banyak lagi.

Kata engklek berasal dari bahasa Jawa. Permainan ini dilakukan dengan cara melompati gambar kotak-kotak di atas tanah menggunakan satu kaki. Sebelumnya, pemain harus melempar batu pipih atau kereweng (pecahan genting) ke dalam kotak, tetapi kotak yang berisi batu ini tidak boleh sampai terinjak.

Kalau di Inggris, engklek disebut hopscotch (main jingkat), sementara orang India menyebutnya stapu atau kith-kith, di Spanyol dinamai rayuela, Belanda punya hinkelen, dan Mexico mengenalnya sebagai avioncito yang artinya pesawat kecil yang mungkin karena disesuaikan dengan bentuk kotaknya.

Komentar

Check Also

Digital marketing melahirkan pemuda produktif di dunia maya

MEDIAWARTA.COM, MAKASSAR – Lebih dari setengah penduduk Indonesia telah tersambung dengan internet. Pengguna internet di dunia …

Share This