Home / BUDAYA / Ini uang panai orang Tionghoa
Foto: istjeseserahanku.blogspot.com

Ini uang panai orang Tionghoa

MEDIAWARTA.COM – Ini uang panai orang Tionghoa. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, artinya setiap daerah memiliki adat istiadat yang berbeda. Satu aturan di suatu daerah bisa berbeda dengan aturan daerah lainnya, dan diharuskan benar tidak boleh salah. Begitu pula dengan adat pernikahan suatu daerah, kalau suku Bugis-Makassar mengenal “Uang Panai”, maka adat Tionghoa dikenal sebagai “Sangjit”.

Jika diartikan, Sangjit (naik dalam bahasa Mandarin) adalah proses kelanjutan lamaran dari pihak mempelai pria dengan membawa seserahan (mahar) ke pihak mempelai wanita. Biasanya, Sangjit dilakukan dua minggu sebelum resepsi pernikahan dan berlangsung di siang hari pada pada pukul 09.00-13.00 waktu setempat.

Ketika Sangjit, mempelai pria membawa seserahan bersama orang tua dan beberapa wakil pengantar seserahan. Para pengantar seserahan biasanya adalah saudara atau teman-teman yang belum menikah. Acara Sangjit tentunya dilakukan di rumah orang tua mempelai wanita. Ketika pagi harinya, sudah pasti pihak keluarga mempelai wanita sudah sibuk beberes rumah, memasak, menyiapkan makanan, dan mendekor rumah jadi serba merah. Alhasil rumah tersebut akhirnya dipenuhi keluarga dan sanak saudara mempelai wanita yang menunggu kedatangan mempelai pria bersama keluarga intinya.

Agar makin meriah, biasanya orang-orang yang datang ke acara Sangjit harus memakai baju merah. Mempelai pria dan wanita disarankan menggunakan cheongsam merah, tetapi karena zaman sudah makin modern, mereka tidak harus menggunakan cheongsam. Bisa juga menggunakan jas dan dress. Yang penting, masih ada nuansa merahnya. Nampan untuk menaruh seserahan juga dikemas dengan packaging yang didominasi warna merah.

Wakil keluarga mempelai wanita beserta para penerima seserahan (biasanya anggota keluarga yang telah menikah) menunggu di depan pintu rumah. Dipimpin anggota keluarga yang dituakan, rombongan mempelai pria pun datang membawa seserahan ke rumah mempelai wanita. Seperti dikutip dari pegipegi.com, sebelumnya, rombongan ini terdiri dari orang-orang yang belum menikah.

Seserahan diberikan satu per satu secara berurutan, mulai dari seserahan untuk kedua orang tua mempelai wanita, lalu untuk mempelai wanita, dan seterusnya. Barang seserahan yang sudah diterima keluarga mempelai wanita langsung dibawa ke dalam kamar untuk diambil sebagian. Selanjutnya, acara dilanjutkan ramah-tamah dan makan siang.

Pada akhir kunjungan, barang-barang seserahan yang telah diambil sebagian keluarga mempelai wanita, sisanya diambil lagi keluarga mempelai pria. Soalnya, kalau keluarga mempelai wanita mengambil semua seserahan, artinya mereka menyerahkan mempelai wanita sepenuhnya kepada keluarga mempelai pria. Dengan kata lain, mempelai wanita sudah tidak ada hubungan lagi dengan keluarganya.

Sebelum pulang ke rumah masing-masing, para pengantar nampan dari mempelai pria diberikan angpau dengan maksud agar mereka enteng jodoh.

Biasanya, keluarga mempelai pria berdiskusi dulu dengan keluarga mempelai wanita soal barang-barang apa saja yang bakal dijadikan seserahan Sangjit. Tentunya, hal ini juga disesuaikan kemampuan keluarga mempelai pria. Jumlah nampan yang diserahkan ke keluarga mempelai wanita dibuat genap, misalnya enam atau 12 nampan.

Komentar

Check Also

Tradisi Mengebeg-gebegan di Bali

MEDIAWARTA.COM, BALI – Pementasan Mengebeg-gebegan merupakan satu tradisi turun temurun yang di lakukan di Desa …

Share This