Taruna Ikrar Kupas Neuroscience Leadership di Universitas Negeri Makassar

MEDIAWARTA, MAKASSAR — Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI), Taruna Ikrar, berbagi pandangan mengenai konsep kepemimpinan berbasis ilmu saraf atau neuroscience leadership dalam forum dialog akademik bertajuk Ngobrol Pendidikan Ramadan bersama civitas akademika Universitas Negeri Makassar (UNM). Diskusi tersebut mengangkat tema “Puasa Ramadan dalam Perspektif Neuroscience Leadership”.

Kegiatan yang digelar di Rumah Jabatan Rektor UNM pada Sabtu (6/3) itu dihadiri jajaran pimpinan kampus, mulai dari para wakil rektor, dekan, guru besar, dosen, hingga mahasiswa. Suasana diskusi berlangsung hangat dan reflektif, memadukan kajian ilmiah dengan nilai-nilai spiritual yang menjadi ciri khas bulan Ramadan.

Dalam pemaparannya, Taruna Ikrar menjelaskan bahwa puasa tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga berdampak langsung terhadap kesehatan dan fungsi otak. Dari sudut pandang Neuroscience, puasa dinilai mampu melatih pengendalian diri, meningkatkan fokus, serta membantu otak mengelola emosi dan stres secara lebih efektif.

Menurutnya, kemampuan mengendalikan diri dan memahami emosi merupakan fondasi penting bagi seorang pemimpin. “Puasa Ramadan melatih self-control dan memperkuat fokus. Dari perspektif neuroscience, proses ini turut membentuk karakter kepemimpinan yang matang karena pemimpin sejati lahir dari kemampuan memahami diri sendiri dan orang lain,” ujarnya di hadapan peserta forum.

Taruna juga memaparkan kompleksitas kerja otak manusia yang terdiri dari lebih dari 100 miliar neuron dengan ribuan koneksi sinaptik pada setiap sel saraf. Jaringan yang sangat kompleks ini berperan penting dalam proses berpikir, emosi, hingga pengambilan keputusan, termasuk dalam situasi krisis seperti pandemi.

Ia menambahkan bahwa perkembangan ilmu saraf kini membuka peluang besar dalam berbagai bidang, mulai dari pengembangan kebijakan publik hingga inovasi di sektor kesehatan. Kolaborasi antara neurosains dan teknologi seperti Artificial Intelligence bahkan melahirkan konsep baru yang dikenal sebagai Neuro-AI, yang memungkinkan pengembangan terapi neurologis serta personalisasi pengobatan yang lebih presisi.

Sementara itu, Rektor UNM, Farida Patittingi, mengapresiasi kehadiran Taruna Ikrar yang dinilai mampu menghadirkan perspektif ilmiah yang segar bagi civitas akademika. Ia menilai pendekatan yang mengaitkan nilai spiritual Ramadan dengan ilmu pengetahuan modern membuka ruang diskusi baru dalam memahami konsep kepemimpinan masa depan.

Menurut Farida, dialog akademik seperti ini penting untuk memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat lahirnya gagasan strategis bagi bangsa. Ia berharap forum diskusi serupa dapat terus digelar untuk mendorong lahirnya generasi pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual.

Diskusi yang berlangsung hingga menjelang waktu berbuka puasa itu ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif antara mahasiswa dan dosen. Forum tersebut diharapkan dapat menginspirasi civitas akademika UNM untuk terus mengembangkan kepemimpinan berbasis ilmu pengetahuan, empati, dan nilai kemanusiaan dalam menghadapi tantangan masa depan menuju Indonesia Emas 2045.

Comment