MEDIAWARTA, MAKASSAR – Tidak semua bisnis besar lahir dari tempat mewah. Di sebuah rumah sederhana di Jalan Cokonori, Makassar, perjalanan panjang itu dimulai, pelan, penuh keraguan, namun konsisten. Dari ruang kecil itulah, seorang pelaku UMKM membuktikan bahwa mimpi bisa tumbuh besar melalui dunia digital.
Adalah Muhammad Hizran Rafi, sosok di balik brand fesyen lokal Cambridge, yang kini dikenal luas berkat keberaniannya beradaptasi dengan perubahan zaman.
Ia memulai usaha dengan konsep distro, mengandalkan penjualan langsung yang saat itu masih menjadi pilihan utama. Namun, seiring waktu, ia menyadari bahwa cara lama tak lagi cukup untuk bertahan.
Perubahan datang ketika ia memutuskan masuk ke platform Shopee pada 2023. Keputusan itu bukan tanpa risiko, tetapi justru menjadi titik balik yang mengubah arah usahanya secara drastis.
“Awalnya ragu, tapi setelah dijalani, ternyata peluangnya jauh lebih besar. Pasarnya luas sekali,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Dari yang semula hanya melayani pembeli lokal, kini produknya melanglang ke berbagai penjuru Indonesia. Paket-paket dari Makassar rutin dikirim ke kota besar hingga daerah terpencil, sebuah capaian yang dulu sulit dibayangkan.
Dalam waktu relatif singkat, jumlah pengiriman menembus ribuan. Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan bukti bahwa kerja keras dan keberanian beradaptasi bisa membuka pintu rezeki yang lebih luas.
Kesuksesan ini tidak datang begitu saja. Di baliknya ada proses panjang, mulai dari belajar memahami sistem marketplace, mengatur strategi harga, hingga menjaga kepercayaan pelanggan.
Hizran juga memanfaatkan berbagai fitur yang tersedia di Shopee, mulai dari promosi, diskon, hingga iklan digital untuk meningkatkan visibilitas produknya di tengah persaingan.
Perubahan terbesar juga terjadi pada pola produksi. Jika dulu hanya memproduksi dalam jumlah terbatas, kini ia harus berpikir lebih cepat untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat.
Untuk menjaga kualitas, ia bekerja sama dengan mitra produksi di Bandung, sementara pengelolaan toko tetap dikendalikan dari Makassar. Kolaborasi ini menjadi kunci menjaga keseimbangan antara kualitas dan kuantitas.
Di sisi lain, ia tidak pernah mengabaikan tren. Setiap desain yang dirilis selalu menyesuaikan selera pasar, terutama generasi muda yang menjadi target utama.
Meski terlihat mulus, perjalanan ini juga diwarnai tantangan. Ia pernah mengerjakan semuanya sendiri, dari produksi, pemasaran, hingga pengemasan, dengan segala keterbatasan yang ada.
Kini, ia telah dibantu tim kecil. Namun satu hal yang tidak berubah adalah keterlibatannya langsung dalam memastikan kualitas produk tetap terjaga.
Yang menarik, baginya bisnis bukan hanya soal angka penjualan. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat produknya dipakai oleh orang dari berbagai daerah.
Ke depan, ia berencana mengembangkan strategi baru melalui fitur live selling di Shopee untuk memperkuat interaksi dengan pelanggan.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di era digital, siapa pun punya peluang yang sama untuk berkembang. Kuncinya bukan pada seberapa besar modal, tetapi seberapa cepat beradaptasi dan seberapa kuat bertahan.
Dari Makassar, sebuah brand lokal membuktikan bahwa mimpi tidak mengenal batas wilayah, selama ada kemauan untuk terus melangkah dan berani mencoba hal baru.

Comment