Rahasia di Balik ZAPA EMAS: Inovasi Pewarna Kain yang Membawa Tim Peneliti Polipangkep ke Panggung Nasional

MEDIAWARTA, — Hamparan tebing karst dan lanskap hijau Geosite Rammang-Rammang di Kab. Maros menjadi saksi lahirnya inovasi baru dari Sulawesi Selatan. Tim peneliti dari Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan (Polipangkep) meluncurkan inovasi Zat Pewarna Alam (ZAPA), sebuah terobosan teknologi pewarna kain berbahan dasar limbah alam yang berpotensi merevolusi industri wastra Nusantara. Produk ini berhasil menarik perhatian nasional berkat terobosan teknologi pemanfaatan limbah alam menjadi pewarna kain ramah lingkungan.

ZAPA Emas atau Zat Pewarna Alam Ekosistem Mandiri dan Sejahtera, merupakan produk pewarna batik yang dikemas dalam bentuk kering, sehingga praktis digunakan oleh para perajin batik. ZAPA dikembangkan dari berbagai limbah organik seperti kulit manggis, biji alpukat, kulit rambutan, sabut kelapa, hingga limbah buah mangrove. Melalui proses ekstraksi, bahan-bahan tersebut diolah menjadi cairan pewarna kain yang stabil, aman, dan memiliki karakter warna khas yang cocok digunakan pada wastra Nusantara, khususnya motif tradisional Sulawesi Selatan.

Peluncuran ZAPA turut diliput langsung oleh tim humas dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sebagai bagian dari produksi kisah riset dan wawancara eksklusif terkait dampak pendanaan riset nasional. Produk ZAPA Emas merupakan hasil kolaborasi Kemenditki Saintek Direktorat Diseminasi Pemanfaatan Sains dan Teknologi dengan pendanaan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Tahun 2024.

Riset yang dipimpin oleh Dr. Zulfitriany Dwiyanti Mustaka, S.P., M.P., kolaborasi tiga Politeknik di Sulawesi Selatan yaitu Politeknik Pertanian Negeri Pangajene Kepualauan, Politeknik Negeri Ujung Pandang dan Politeknik Bosowa sudah siap diproduksi secara massal. Riset ini tercatat berhasil lolos sebagai salah satu dari 100 proposal yang mendapat pendanaan LPDP melalui Program Katalisator Kemitraan Berdikari, dari total lebih dari 300 proposal yang bersaing di tingkat nasional.

ZAPA Emas telah dipamerkan dalam gelaran KSTI 2025 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Dimana acara KSTI Agustus 2025 di Sabuga ITB, merupakan momentum penting dalam sinergi dan kolaborasi dengan skema pentahelix yang melibatkan akademisi, pelaku industri, pemerintah, serta praktisi untuk merumuskan peta jalan dan kebijakan menuju kemandirian nasional. Pada akhir Juli 2025, ZAPA EMAS kembali mencatat prestasi setelah dipilih Kemdiktisaintek sebagai satu dari 10 hasil penelitian terbaik yang diusulkan ke ajang KSTI di Bandung Jawa Barat. Dari proses kurasi tingkat nasional, ZAPA EMAS akhirnya masuk sebagai 8 penelitian unggulan yang mewakili Program Berdikari.

ZAPA menawarkan alternatif alami pengganti pewarna sintetis yang selama ini banyak digunakan industri tekstil. Dengan karakter warna yang kuat, aman untuk kulit, dan berasal dari limbah organik, ZAPA diharapkan menjadi solusi berkelanjutan bagi industri wastra Nusantara sekaligus meningkatkan nilai jual kain tradisional Indonesia. Inovasi ini juga sejalan dengan tren global menuju eco-fashion, menjadikan produk lokal Sulawesi Selatan relevan di tingkat nasional bahkan internasional.

“Sebelum adanya pendanaan riset ini, pewarnaan alam dianggap rumit oleh masyarakat, sehingga melalui riset ini kami menemukan bahwa dengan pewarnaan alam ini akhirnya dalam 1 hari pun kita dapat memproduksi kain yang kemudian dapat menjadikan kain tradisional memiliki nilai jual tinggi”, ungkap Zul bersemangat.

Turut hadir dalam acara launching yang bertajuk: “Riset Berdampak Polipangkep: Hilirisasi Riset Zapa Emas Berdikari”, antara lain dari Dekranasda Provinsi Sulawesi Selatan, Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Provinsi Sulsel dan Maros, Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) kab. Pangkep, masyarakat sekitar Geosite Rammang-Rammang, mahasiswa, Duta Pemuda Makassar, para Mitra dan tim LPDP.

Kehadiran tim LPDP dalam launching ZAPA EMAS bukan sekadar dokumentasi, tetapi sebagai bagian dari upaya memperlihatkan dampak nyata pendanaan riset nasional. Melalui wawancara eksklusif, LPDP berencana mengangkat cerita ZAPA sebagai contoh bagaimana pendanaan riset dapat menghadirkan inovasi yang aplikatif, bernilai ekonomi, dan relevan dengan pelestarian budaya Indonesia.

Riset ini juga diharapkan menjadi solusi, limbah pertanian tidak lagi dibuang namun menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi, serta memberdayakan masyarakat desa. Diharapkan riset ini memberikan kontribusi nyata dalam menghidupkan kembali minat masyarakat terhadap kain tradisional, serta memperkuat sektor ekonomi kreatif dan UMKM lokal.

Comment