Bersatu Kita Teguh (5)

MEDIAWARTA, MAKASSAR – Saya terpengaruh dari pembaca untuk melanjutkan membahas tentang “jatuh” dalam kaitannya dengan takdir. Apakah jatuh ala mangga atau pohon kelapa itu takdir atau pilihan? Saya jawab secara sederhana, menjadi mangga atau menjadi kelapa itu adalah takdir. Tidak ada daya mangga untuk memilih dan merubah dirinya menjadi kelapa. Demikian pula sebaliknya.

Cara jatuhnya mangga atau kelapa juga adalah takdir. Karena model pohon mangga yang ditakdirkan berakar tunggang, ia tumbuh menjadi pohon yang berdahan dan beranting. Lain halnya dengan pohon kelapa. Ia ditakdirkan menjadi pohon yang berakar serabut, jadinya tumbuh menjadi pohon yang lurus ke atas, istilah guru Biologi, tumbuhan yang berkeping satu. Dengan takdir itu, buahnya jatuh dengan cara berbeda pula.

Ada upaya untuk menyiasati takdir pohon mangga dan pohon kelapa tapi lebih kepada metode persilangan atau kita sebutlah sebagai kawin silang. Sama juga dengan buah kelapa. Tapi dari keduanya, tidak ada yang bisa melintasi takdir kemanggaannya atau kekelapaannya. Kita belum pernah mencoba mangga rasa kelapa atau melihat kelapa berbentuk setengah mangga. Yang ada mungkin jus kelapa mangga, yang rasanya belum bisa saya bayangkan.

Pada aspek ini, saya hanya berspekulasi dengan menggunakan “common sense,” karena ini masalah biologi tumbuhan, apalagi menyinggung yang disebut persilangan, yang menjadi bagian dalam ilmu Biologi. Atau kita sebut saja sebagai “teologi buah,” supaya terkesan ada kebaruan.

Jadi gambaran di atas, menjelaskan bahwa baik buah mangga maupun buah kelapa, sudah memiliki paket takdir, mulai dari pembentukan dirinya, tumbuhnya, sampai pada jatuhnya. Kedua buah itu tidak bisa menghindar dari takdir yang sudah digariskan untuknya. Yang bisa terjadi pada kedua buah itu adalah menyiasati takdirnya atau dalam bahasa motivasi saya “melawan takdir” yang bermakna melawan persepsi takdir yang keliru.

Meskipun kedua buah ini sudah pasti jatuh, dan memililiki esensi kejatuhan yang berbeda, namun dari cara memahami takdir, keduanya bisa disiasati supaya jatuh secara terhormat, utuh, tidak retak, apalagi pecah. Menyiasati takdir inilah membutuhkan campur tangan. Disinilah ilmu pengetahuan bekerja, yang menghasilkan teknologi. Persilangan pohon mangga dilakukan sehingga tidak perlu dipanjat, bisa dipetik. Sama dengan pohon kelapa, dengan sains lahirlah kelapa hibrida. Untuk mengambilnya tidak perlu menunggu jatuh, bisa dipetik. Jadi menyiasati esensi takdir itulah yang perlu dipelajari.

Akhirnya, kita akan pasti jatuh. Kita juga sudah tahu kalau jatuh pasti ke bawah. Namun yang terpenting, bagaimana kita menyikapi kejatuhan itu. Itulah yang menjadi pembeda kita dari yang lain, yaitu dari cara menyikapi takdir kejatuhan. Kita mengilmui sebuah kejatuhan. Lebih bijaknya, kita mengambil ibrah sebuah peristiwa kejatuhan. Asal jangan seperti seorang teman, suatu hari dia berkata: “saya ditakdirkan untuk jatuh hati padanya.” Itu namanya memperalat takdir.

Oleh:
Hamdan Juhannis
Rektor UIN Alauddin

Comment