MEDIAWARTA, MAKASSAR – Ada tiga orang yang akan saya akan gambarkan tentang praktek kebohongan. Orang pertama, terakhir mengingat dirinya berbohong saat terdesak. Pilihannya saat itu adalah berbohong. Dia menggunakan tiket pesawat atas nama temannya, untuk pulang kampung. Ibunya sekarat, sementara dia kehabisan tiket. Temannya berkorban untuk dirinya. Dia tidak punya pilihan lain untuk bisa melihat ibunya untuk terakhir kalinya.
Orang yang kedua, sering berbohong. Bila kebohongannya dianggap bermanfaat, maka dia berbohong. Dia berbohong, dulu pernah hidup kaya, supaya tidak dianggap rendah. Dia berbohong kalau tidak mengenal orang yang dibicarakan padahal dia sebenarnya kenal baik. Dia tidak mau menjadi penghubung transaksi ilegal. Dia bohong bahwa memiliki kemampuan supranatural supaya bisa tenangkan dengan sugesti pada orang yang jiwanya terganggu.
Orang yang ketiga, perilaku berbohongnya lebih dari jadwal makan obat. Hampir semua ujarannya mengandung kebohongan. Kalau dia cerita pernah berada di suatu tempat, pasti tempat itu fiktif. Saat menyebut berbicara dengan seorang tokoh, pasti tokoh itu adalah tokoh imaginatif. Saat memberi data, pasti data itu murni karangan. Tujuannya adalah untuk mengglorifikasi dirinya, mengetahui banyak hal, atau membuat dirinya terkesan tanpa cacat.
Kita dapat menarik garis bahwa semua orang yang berbohong karena motif. Motif itulah yang kemudian membedakan mana yang berbohong karena terdesak dan yang berbohong karena terbiasa. Motif itu bisa menjelaskan level kebohongan seperti apa yang bisa menodai tingkat kepercayaan seseorang.
Kebohongan orang pertama di atas tidak lantas menyandang predikat sebagai pembohong. Motif orang pertama menjelaskan bahwa kebohongan bisa ditoleransi untuk kebaikan. Namun, pemahaman kebaikan itu sering menjadi “absurb”, karena bisa untuk pemaknaan subyektif orang yang berbohong. Kasus orang yang kedua itulah yang bisa menimbulkan keraguan atas integritas dirinya. Orang lain banyak yang hati-hati untuk bertransaksi sosial dengan tipe yang kedua ini.
Untuk orang yang ketiga, menjelaskannya lebih singkat. Meskipun dia melakukannya dengan motif, tapi berbohong adalah kebiasannya. Itulah yang disebut sebagai pembohong.
Anda pernah mengalami berbohong di tipe mana? Anda masih ingat terakhir kali berbohong? Jangan bilang dalam hati barusan saja kepada isteri. “Sayang, sajian sahurnya nikmat sekali.” Padahal itu hanya untuk menggembirakan. Menurut anda, itu jenis kebohongan keberapa?
Oleh:
Hamdan Juhannis
Rektor UIN Alauddin

Comment