Salju di Hatiku (From Seoul with Love)

Wheelock Place masih menghadirkan kemegahan kosmopolitan ketika saya dan Kim Yong Hyung tiba di sana dengan ditangkup temaram lembayung yang menggantung di langit barat. Rimba manusia yang menyemut di Orchard Road seperti tidak ada habis-habisnya. Saya tarik tangan Kim Yong Hyung ke salah satu book store unik di sana, Borders.

Tidak leluasa sebenarnya. Untunglah Kim Yong Hyung pandai menyamarkan dirinya dengan sebuah pet sport dan jaket kerah gantung. Juga kacamata separo gelap yang menambah manis parasnya yang aristokrat. Jadi serbuan nyamuk pers dan kerubungan fans dapat dihindari. Kalau tidak begitu, seumur-umur dia tidak dapat menikmati waktu luangnya dengan santai dan rileks.

Borders ramai seperti biasa. Sejak menginjakkan kaki di Singapura, saya selalu menyempatkan diri mengunjungi toko buku ini. Di sini saya dapat membaca lektur bagus dan langka yang tidak dijual di Indonesia karena kemahalan. Selain itu Borders juga merupakan kafe buku terbaik di sini selain Kinokuniya. Di ruang dalam ada tempat makan dan minum dengan nuansa perpustakaan. Kembali saya tarik tangan Kim Yong Hyung ke sana. Memesan makanan dalam daftar menu berupa booklet yang terpapar di atas meja.

“Kamu sering kemari?”

“He-eh.”

“Oh, I see. Kamu kan jurnalis. Jelas kamu suka buku.”

“Hyung, tahu tidak, saya tuh kaget begitu tahu kamu ternyata sudah menjadi penyanyi kondang. Tadinya saya pikir….”

Kalimat saya terpenggal. Seorang pelayan membawa nampan berisi pesanan makanan kami. Dihidangkannya dengan cukup hati-hati. Mengatur sendok-garpu di muka kami. Sukiyaki Kim Yong Hyung masih mengepulkan asap. Dia mendinginkan dengan meniup-niup. Lucu. Saya terkikik melihat tingkahnya, lalu menyeruput jus strawberry begitu pelayan meninggalkan meja kami.

“Kenapa?”

“Saya pikir kamu pasti berubah jadi sombong. Pasti tidak mau mengenal teman lama lagi.”

“Buktinya saya masih mengenal kamu, kan? Sekalipun hanya via telepon, tapi saya masih hapal beberapa suara teman di Jakarta, kok. Termasuk kamu.”

“Nah, di situlah kelebihan seorang Kim Yong Hyung. Makanya, waktu di Jakarta dulu semua cowok penghuni kelas naksir sama kamu.”

“Hah, saya tersanjung, nih!”

“Kenyataan, kok!”

“Trims deh atas sanjungannya.”

“Tapi sayang kita tidak bisa sering ketemu seperti dulu lagi, Hyung!”

“Lho, kenapa?”

“Bukan apa-apa. Posisi kamu sekarang sudah beda. Tentu saja saya tidak dapat menemui kamu di sembarang tempat. Harus membuat appointment terlebih dahulu. Harus melalui prosedur yang berbelit-belit. Huh, merepotkan sekali!”

“Yeah, I know. Itu merupakan konsekuensi saya sebagai publik figur. Tapi, kamu jangan kuatir. Kapan saja kamu dapat menemui saya.”

Saya menunduk. Menggigit pelepah bibir. Meski cetusan pertemanan itu masih kuat, tapi segalanya memang sudah jauh berbeda. Ada jarak yang terbentang luas mengantarai kami. Saya telah membuang waktu percuma nyaris tiga tahun saat bersamanya di Jakarta dulu. Menyembunyikan tiga patah kata yang sampai sekarang terbebat di otak saya. Bentuk kekerdilan yang merupakan mayor inharmoni dalam hati saya.

Komentar

Check Also

Guruji

Guruji Oleh Dewi Lestari MEDIAWARTA.COM – Ada yang janggal dari wajahmu, tapi aku tak pernah …

Share This
Mediawarta