Benarkah Ada Benua Atlantis di Indonesia?

MEDIAWARTA.COM – Berdasarkan hasil tes pemetaan geologis, georadar, geolistrik, uji sampel, maupun pengeboran, hipotesis awal menyebutkan di bawah gundukan batu punden berundak di Gunung Padang, sempat ada struktur peradaban. Namun, menurut tim tersebut, hasil penelitian carbon dating yang dilakukan awal Maret 2012 lalu, belum final karena masih berupa indikasi awal.

Sementara Tim Bencana Katastropik Purba (BKP) memperkirakan situs Gunung Padang dibangun sekitar 5.500-10 ribu SM. Dengan demikian, umur situs tersebut lebih tua ketimbang Piramida di Mesir (2.560 SM) dan situs Machu Picchu di Peru (1.440 SM).

Pernyataan berbeda dikemukakan peneliti senior dari Pusat Arkeologi Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Profesor (Riset) Harry Truman Simanjutak. Menurutnya, tidak benar anggapan situs Gunung Padang adalah bagian dari Atlantis dan juga merupakan Piramida sebagaimana dipublikasikan selama ini. Harry juga memaparkan, Piramida Jawa Barat dan peradaban Atlantis Sundaland itu tidak ada.

Ia menambahkan, Gunung Padang hanya merupakan sebagian kecil dari besarnya isu “Piramida dan Atlantis” yang tengah berkembang dalam masyarakat Indonesia.

“Kami sebagai peneliti berusaha merespons isu-isu tersebut. Dalam beberapa kesempatan, kami sudah sering menyampaikan pandangan, baik melalui media, seminar, bahkan memberikan masukan-masukan tentang apa maksud pesan di balik Piramida dan peradaban Atlantis tersebut,” papar Harry, seperti termuat dalam Bayt al-Hikmah Institute.

Jika bicara tentang Piramida dan Atlantis, berbicara tentang peradaban pula. Sejak manusia pertama ada, yaitu mencari makan dengan berburu dan meramu, kemudian berkembang. Akhirnya, manusia hidup menetap untuk saling bekerja sama. Kondisi tersebut memerlukan pranata sosial dan seorang pemimpin.

Pusat Arkeologi Nasional, lanjut Harry, sudah melakukan penelitian di seluruh pelosok Nusantara selama puluhan tahun. “Kami melihat, tidak ada satu pun ada informasi mengenai Piramida dan peradaban Atlantis di Nusantara,” tegasnya.

Peradaban tertua, menurut Harry, terdapat dalam berbagai suku bangsa, Mesopotamia (3.500-1.800 SM), Minoan di Pulau Kreta (2.600-1.100 SM), Mesir (2.572-2.134 SM), Indus (2.500-1.700 SM), dan Longshan (2.500-1.900 SM). Di Nusantara, peradaban tertua berasal dari sekitar 5.000 tahun yang lalu (3.000 SM).

Isu Piramida di Jawa Barat, mirip isu sejenis di Bosnia pada 2005. Ternyata, para pakar di seluruh dunia menentang adanya Piramida tersebut. “Di Nusantara, betapa banyak gunung yang berbentuk persis seperti Piramida, misalnya Gunung Sewu atau beberapa gunung di Indonesia timur. Jika ada kesamaan tipologi, bukan lantas gunung-gunung tersebut adalah bangunan Piramida,” ujar Harry.

Sekadar diketahui, dalam bukunya Plato menulis terdapat peradaban tertua yang berasal dari 11.600 tahun yang lalu yang disebut Atlantis. Plato mengatakan, di Samudra Atlantik terdapat sebuah pulau yang berada di depan pilar-pilar Hercules. Pulau tersebut merupakan jembatan ke benua-benua lain.

Plato juga banyak mengungkap deskripsi kultural. Atlantis dikatakan induk dari seluruh kebudayaan dunia. Gambarannya indah sekali, penuh logika, dan rasional. Plato hidup pada masa 427-347 SM.

Pendapat Plato itu membuat banyak peneliti berlomba-lomba mencari keberadaan Atlantis. Banyak buku telah dihasilkan para “Atlantologi”. Yang populer di Indonesia adalah karya Prof Arysio Santos. Ia mengungkapkan, Atlantis ada di Indonesia, tepatnya di Tanah Sunda. Santos adalah seorang geolog dan pakar fisika nuklir dari Brasil.

Menurut Harry, kesimpulan Santos tidak tepat karena peradaban modern di daerah tersebut baru muncul 6.000 tahun yang lalu. Sebaliknya, Santos masih berpegang pada 11.600 tahun lalu. Pada era tersebut, peradaban manusia masih pada fase Mesolitikum. Pada masa ini, peralatan yang digunakan masih terbuat dari batu seadanya. Memasuki 8.500 tahun lalu muncul masa Neolitikum, tetapi tetap belum bisa dibilang maju.

Sumber: republika.co.id/Foto: Istimewa

Comment