Soe Hok Gie, Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani

MEDIAWARTA.COM – Satu hal yang masih menjadi momok kita adalah ketika ditanyai sebaris kalimat paradoks: “Apa kontribusi pemuda sekarang bagi bangsa ini?”. Pertanyaan tersebut saban kali membuat kita terbahak, lalu selang berikutnya bibir dipaksa menguncup satire yang menyundak.

Sungguh, kita seperti terbelenggu steoretip miris. Terus terang, kita menjadi kerdil ketika kalimat tersebut, yang seolah buntel komunal beresensi tanggung jawab, seperti khusus dibebankan pada pundak. Jujur, ketika kran ekspresi dibuka pasca Orde Baru, kita hanya bisa larut dalam euforia kebebasan tanpa pernah berbuat lebih bagi bangsa. Lantas setiap mengingat hal itu, maka kita merasa kian kecil jika dibandingkan apa yang telah ditunjukkan seorang Soe Hok Gie.

Tokoh pemuda angkatan 1960-an ini kita bahas bukan karena apa, tetapi ia hanyalah contoh kecil yang telah menunjukkan patriotismenya yang vokal terhadap permasalahan bangsa pada waktu itu. Semasa itu, korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) berkembang sedemikian cepatnya menjadi virus mematikan. Terus terang, kita memang belum menunjukkan eksistensi apa-apa bagi bangsa ini dibandingkan dengan anak muda patriotik tersebut.

Lantas kenapa harus Gie untuk menggugah kadar nasionalisme kita sebagai bagian dari anak bangsa Indonesia? Kita memiliki alasan yang kuat demi itu, bahwa sesungguhnya nasionalisme tidak tumbuh karena slogan dan gurah.

Sama ketika seorang penulis muda bernama Joanna Octavia, alumni Fisipol University of British Columbia, Kanada, menulis surat terbuka dalam sebuah blog di dunia maya yang membuka mata kita agar berkaca, sampai di mana kadar nasionalisme kita jika dibandingkan sosoknya yang fenomenal tersebut.

Semuanya terjadi secara sporaditas ketika gugah kebangsaannya menyeruak dalam keharuan. Inilah sesungguhnya kesadaran yang bermuasal dari nurani. Nasionalisme dan patriotisme adalah satu pola yang terstruktur dari perenungan, dan bukannya dari serangkaian kata beratifisial jauhar.

Dari sejarah pergolakan mahasiswa menentang rezim totaliter Orde Lama pada dekade 1960-an, bangsa Indonesia patut mencatat dan mengenang nama Gie. Ia selayaknya dikenang, tidak semata karena andil dan keterlibatannya dalam menyukseskan perjuangan mahasiswa menghancurkan otoritarianisme kekuasaan lalim, tetapi lebih dari itu ia pantas mendapatkan tempat terhormat di hati dan ingatan warga bangsa. Semuanya karena totalitas pejuangan, sikap hidupnya yang sederhana, dan patriotismenya yang mengagumkan dalam upaya menegakkan kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan.

Sebagai aktivis mahasiswa, Gie merupakan pribadi yang istimewa. Hal itu tampak melalui cakrawala pemikirannya yang visioner, militansinya yang nyaris tanpa batas, serta komitmennya yang kokoh pada prinsip-prinsip demokrasi dan humanisme universal.

Karakter demikianlah yang selanjutnya menghadirkan sosoknya sebagai intelektual dan humanis sejati. Ia adalah sosok intelektual muda pendobrak tirani Orde Lama, yang dibahas John Maxwell dalam bukunya: “Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani”.

Gie bukanlah nama yang populer, bahkan sebagai aktivis mahasiswa sosoknya hanya dikenal komunitas masyarakat terbatas. Pikiran dan sepak terjang perjuangannya tidak banyak diketahui pulik di Tanah Air. Menurut penulisnya, hal itu lantaran kendati pernah terlibat secara aktif dalam politik, ia berbeda dengan tokoh politik dari generasinya. Ia tidak mencurahkan seluruh hidupnya untuk politik, apalagi memperkaya diri dari status jabatannya.

Sukar untuk membantah, anak muda ceking keturunan Tionghoa itu adalah seorang intelektual dan pejuang yang luar biasa. Dalam konteks demikian, selain menambah khazanah studi Indonesia modern tentang biografi tokoh-tokoh politik, jalaslah Gie merupakan andil besar yang pernah dimiliki bangsa Indonesia dalam hal patriotisme. Ia sekaligus simbol pembauran etnik Tionghoa dengan suku lain di Indonesia, dengan kontemplasi kedekatannya terhadap rakyat kecil dan alam.

Gie memang telah meninggal puluhan tahun silam saat menghirup gas beracun di Gunung Semeru. Akan tetapi, semangat nasionalisme dan patriotisme yang telah ia dedikasikan tidak pernah mati. Lewat momentum ini, kita berharap dapat belajar menghargai ketulusan dan kesederhanaan Gie.

Penulis: Novianti

Komentar

Check Also

Guruji

Guruji Oleh Dewi Lestari MEDIAWARTA.COM – Ada yang janggal dari wajahmu, tapi aku tak pernah …

Share This
Mediawarta