Foto: Effendy Wongso, Model: Iin Mutmainah

Sonora de Spinola

Sonora de Spinola
Oleh Effendy Wongso

PROLOG
Los Palos, 10 September 1994

MEDIAWARTA.COM – Dari kejauhan Sonora melambaikan tangannya beberapa kali ke arah sebuah bangunan kayu berbentuk rumah adat Tetum di latar kaki Gunung Legumau. Lengking suaranya meneriakkan sebuah nama. Tampak seorang bocah bercapil membalas melambai di sana.

Dilepaskannya tudung kepala anyaman bambunya tadi. Benda itulah yang dipakainya melambai. Lantas dengan tergesa ia berlari menyambut sosok semampai berbalut gaun terusan putih itu, yang kini tengah mementangkan lebar kedua tangannya.

Pertemuan yang tak terduga. Pertemuan yang melerai rindu setelah sekian lama direntangi jarak dan waktu. Tubuh ringkih bocah itu terguncang begitu menghambur ke pelukan Sonora. Ia terisak. Sesenggukan di dada gadis enam belasan itu, yang juga menderaikan air mata haru.

Memang tak ada kegembiraan yang melebihi momen pertemuan ini. Rasanya kebahagiaan yang meruap di dada tak terbandingi apapun yang pernah dirasakan Sonora. Bahkan, jauh melebihi saat-saat indah bersama Afonso di Lisbon, Portugal.

Afonso?!

Tidak! Sonora membatin galau. Mengingat kembali pemuda itu sama juga menguakkan luka di hatinya. Jalinan kasih yang pernah mereka rajut agaknya harus diburai paksa. Banyak, banyak sekali perbedaan yang mendasari cinta mereka. Tentang latar belakang dan strata sosial yang berbeda, sangat jauh berbeda….

***

26 Juni 1991
Menyambut Tamu Istimewa

Kedatangan Eugenio Deus Rodrigus benar-benar disambut gembira seluruh keluarga Sonora. Terutama Santos de Spinola, Papanya. Ia kelihatan begitu antusias menyambut tamu istimewanya. Sejak menjemput kedatangan Paman Eugenio-begitu mereka menyebut lelaki berperawakan pendek gemuk itu di Bandara Comoro Dili tadi, sampai ia menjejaki lantai papan beratap rumbia rumahnya, Papa Santos masih saja terus menyunggingkan senyum. Beralasan memang kalau Papa Santos begitu. Karibnya yang sudah menjadi orang ‘gedean’ rupanya masih sudi menginjakkan kakinya di salah satu kota kecil Timtim, Los Palos.

Tak banyak yang berubah pada lelaki paruh baya itu. Badannya masih tetap kelihatan gempal. Tambah gempal, mungkin. Entahlah. Yang pasti senyumnya masih sama seperti dulu. Senyum yang senantiasa menyimpan seribu kesan di hati tentang seorang lelaki berkarisma.

Tidaklah mengherankan bila ia menjadi salah satu di antara segelintir orang yang berhasil di Lisbon. Diam-diam Sonora mengagumi sosok Paman Eugenio.

“Maaf yang sebesar-besarnya, Nino. Sebab kami tidak punya sesuatu yang istimewa dalam menyambut kehormatan besarmu mau datang kembali ke Los Palos ini,” tutur Papa Santos sembari merangkumkan sekali lagi pelukannya ke bahu Paman Eugenio, yang juga dipanggil dengan nama kecil ‘Nino’ itu.

Paman Eugenio membalas, “Kukira, hati yang terbuka menyambut kedatanganku kemari sudah lebih dari cukup.” Ia tersenyum tulus. “Dan aku ucapkan terima kasih untuk itu.”

Papa Santos kelihatan bangga. “Ah, kau terlalu berlebih-lebihan, Nino.”

Mereka kembali berpelukan di antara derai tawa. Mama Eletha, Sonora, dan Diaz si Bungsu tersenyum bahagia. Hari-hari yang keras seolah luruh pada saat itu juga. Kepapaan yang mengakrabi kehidupan mereka terhapus sejenak.

Memang, ada saatnya mereka harus meresapi kebahagiaan yang selama ini hanya berkelebat di dalam angan.

Komentar

Check Also

Guruji

Guruji Oleh Dewi Lestari MEDIAWARTA.COM – Ada yang janggal dari wajahmu, tapi aku tak pernah …

Share This
Mediawarta