Foto: Istimewa

Dialog Jingga Keping Hati

Dialog Jingga Keping Hati
Oleh Viona Rosalina dan Effendy Wongso

MEDIAWARTA.COM – Agnes tergesa setengah berlari ke dapur setelah didengarnya ceret ketelnya memanggil-manggil dengan suara nyaring seperti sempritan. Semenit kemudian, dia sudah keluar lagi menemui Ardan dengan nampan kayu berisi dua cangkir kopi instan.

“Minum, Dan.”
“Thank’s. Apa ini?”
“Kopi instan.”
“Hm, hm. Harum sekali. Sedap… kamu bisa buka warung kopi lho, Nes.”
“Ah, ngaco!”
“Asli. Masa aku mau bohong.”
“Oke, oke. Sebentar aku buka warung kopi. Tapi yang minum kamu doang.”
“Hahaha. Warung kopi apaan tuh, Nes? Masa pelanggannya aku doang?”
“Habis, kamunya sih yang tidak-tidak sarankan orang buka warung kopi segala.”
“Tapi, kamu ada bakat ke sana, kok.”
“Maksudmu?”
“Kamu bisa buka warung kopi. Aku serius. Asli!”
“Ah, becanda kamu!”
“Asli….”
“Dengan alasan apa, coba?”
“Soalnya kamu cantik. Manis lagi.”
“Tidak nyambung.”
“Nyambung.”
“Norak, ah!”
“Kenapa?”
“Tidak nyambung.”
“Asli. Nyambung, kok.”
“Nyambung? Nyambung bagaimana?”
“Ng, kamu kan cantik.”
“Yak.”
“Kamu juga manis, kan?”
“Yap. Benar.”
“Idih, maunya. Memuji diri nih, yee?”
“Iya, dong! Kalau aku tidak cantik manis, mana mungkin kamu gencar mengejar aku. Iya, kan?”
“Iya, iya. Kamu menang, deh.”
“Terus, nyambungnya apa, dong?”
“O, iya. Hampir lupa.”
“Dasar pikun!”
“Ng, tadi apa ya? Hahaha.”
“Eit, kok ketawa? Apa yang lucu?!”
“Nyambungnya itu, lho?”
“Apa?”

Komentar

Check Also

Guruji

Guruji Oleh Dewi Lestari MEDIAWARTA.COM – Ada yang janggal dari wajahmu, tapi aku tak pernah …

Share This
Mediawarta