Foto: Istimewa

Kisah Paku Kuntilanak

“Meni! Meni! Jangan pergi!” suara Lengger cukup keras keluar dari dalam rumahnya sambil memegang sebuah paku yang dia temukan di atas tempat tidurnya. Anak-anak mereka bertangisan memanggil-manggil ibunya. Dan malam itu para suami telah kehilangan istri mereka masing-masing.

“Kita tidak akan mendapat istri sebaik mereka lagi,” rintih Jagur sedih.

“Benar, kita bakal kerepotan sepanjang hidup tanpa kehadiran istri di sisi kita. Mereka begitu baik dan telaten mengurusi kita,” sesal Dayut sambil menangis.

“Tapi, mengapa mereka tega meninggalkan kita secara berbarengan? Apakah mereka dendam pada kita yang memiliki kedudukan lebih tinggi, sementara mereka selalu kita rendahkan hanya sebagai pengurus rumah tangga?” tanya Toyo.

“Sekarang kita harus berani mengaku bahwa kita yang salah. Karena, selain memasung istri, kita juga terlalu memperbudak mereka. Di sinilah kekeliruan kita memperlakukan mereka,” ujar Leman. Setelah mereka menyadari kekeliruannya, akhirnya satu per satu membubarkan diri untuk kembali mencari istri masing-masing.

Malam kembali sunyi. Lolong serigala dari atas bukit melengking menyusup ke relung-relung jiwa yang ditinggalkan. Para suami dan anak merasa kehilangan belahan hati mereka. Hingga pada akhirnya, anak-anak di kampung itu menuntut ayah-ayah mereka untuk bisa mengembalikan kembali ibu-ibu mereka yang telah pergi.

Namun, para suami mengambil keputusan yang sama sekali janggal. Para suami tiba-tiba memantek kepala mereka sendiri dengan sebatang paku, dan berharap bila kelak paku yang tertancap di kepala itu dicabut anak-anak mereka, maka mereka akan dapat terbang untuk menyusul istri-istri yang telah pergi.

“Cepat cabut paku yang ada di kepala Bapak ini, Seno!” pinta Lengger kepada anaknya setelah dia memaku kepalanya sendiri dengan sebuah paku hingga berdarah-darah.

Seno amat terkejut melihat darah yang mengalir deras dari kepala ayahnya. Spontan anak itu menjerit dan berlari keluar rumah.

“Tolong! Bapakku bunuh diri! Tolong Bapakku bunuh diri…!”

Depok, Januari 2006-2007

Biodata Penulis:

Gita Nuari, lahir di Jakarta, 12 Januari 1984. Merupakan salah satu di antara segelintir pengarang yang kerap menelurkan karya “sastra”. Cerpen-cerpennya sudah tersebar di berbagai media nasional termasuk situs-situs fiksi di internet. Cerpen Kisah Paku Kuntilanak pernah diterbitkan di Suara Karya dengan judul Paku di Kepala Istri Sanusi. Cerpen ini terpilih sebagai salah satu cerita terbaik versi Suara Karya. Penulis yang senang avonturir ini pernah tercatat sebagai penulis tetap di majalah Planet Pop, Jakarta.

Komentar

Check Also

Guruji

Guruji Oleh Dewi Lestari MEDIAWARTA.COM – Ada yang janggal dari wajahmu, tapi aku tak pernah …

Share This
Mediawarta