Foto: Istimewa

Manusia dari Luar Angkasa

“Siapa dia? Utusan Pemda?” selaku. Aku menyimak seksama.

“Mulanya kami dan staf lainnya menduga begitu. Ia mengunjungi laboratorium kami malam hari. Ia menjanjikan bahwa besok pagi kondisi area tanaman cabai shishitoitu akan kembali normal. Ia mengaku memiliki zat kimiawi tertentu yang ampuh memberantas hama atau penyakit. Kami senang mendengarnya. Tapi ia baru bersedia memenuhi janjinya asalkan kami sanggup menjalani satu syarat. Ini dia tujukan ke Bapak dan Ibu. Entah dari mana ia tahu kalau kami sudah menikah. Pria itu meminta agar kami mengadopsi seorang bayi dari mereka. Ibumu menyambut setuju. Sudah lama Ibu merindukan anak. Bapak turut bahagia. Maka dibuatlah perjanjian. Saatnya kamu menanjak dewasa, mereka akan menemui kami. Mengambil kamu, Ry. Membawamu pergi lagi.”

Kali ini aku kurang paham. Dan Bapak agaknya tahu hal ini.

Perlahan ia melanjutkan. “Orang itu menepati janji. Esok harinya perkebunan cabai shishito kami tampak lebih sehat, segar, kuat, dan subur. Tidak lagi layu dan meranggas kusam seperti kemarin-kemarin. Terlebih menakjubkan, sejak itu tanaman cabai shishito kami kebal terhadap gangguan hama dan penyakit apapun.”

“Bagaimana ia bisa melakukannya?” tanyaku.

“Tidak seorang pun tahu….” Suara Bapak terbata. Melirik Ibu.

“Semuanya, Pak. Ungkapkan,” ujar Ibu tampak tabah dalam duka.

“Baiklah. Kamu tidak tahu teknologi apa yang mereka terapkan. Sekitar pukul dua dini hari, sepeninggalnya, kami terjaga dari tidur. Hampir semua peneliti, staf, dan termasuk Ny Hamada, mendengar bunyi gemuruh halus di angkasa. Kami berduyun-duyum keluar laboratorium. Di atas areal perkebunan cabai, mengapung sebuah piringan raksasa. Menyerupai cakram. Garis tengahnya diperkirakan sembilan ratus meter. Cahaya kehijauan tertumpah merata dari satu lubang yang menganga di permukaan bawah benda itu. Lahan tanaman cabai benderang oleh cahaya. Lima menit berlalu, cahaya lenyap. Benda tadi membubung lamban. Kali ini tanpa bunyi sedikit pun. Suasana terasa hening. Sunyi. Sampai benda itu tiba-tiba melejit luar biasa cepatnya. Tidak sampai satu menit, kamu sudah menyaksikan benda itu tinggal sebentuk titik mungil. Membaur di antara tebaran bintang. Dari peristiwa itu, kami menyimpulkan bahwa cahaya itulah yang memulihkan tananman cabai.”

Prasangka konyol menembus benakku. “Apakah mereka….”

“Ya, pria penolong itu makhluk luar bumi,” potong Bapak. “Kami tidak pernah bertemu lagi. Tapi ia pasti muncul lagi, setelah bayi yang diserahkan ke kami meningkat dewasa. Kami rawat, didik dan asuh bayi itu dengan penuh kasih-sayang. Kami anggap darah-daging kami sendiri. Sekarang ia sudah besar, gagah, tampan, dan pintar. Sang Jabang Bayi itu adalah… kamu sendiri, anakku….”

“Bapak mengada-ada!” sangkalku keras. Kaget dan tak percaya.

Komentar

Check Also

Guruji

Guruji Oleh Dewi Lestari MEDIAWARTA.COM – Ada yang janggal dari wajahmu, tapi aku tak pernah …

Share This
Mediawarta