Napoleon Bonaparte Ternyata Keturunan Makassar

MEDIAWARTA.COM – Pada buku karya SM Noor berjudul “Prahara Benteng Somba Opu” diulas tentang banyaknya pelarian para bangsawan Makassar, termasuk dari wilayah etnik Bugis. Sayangnya, hanya yang ke Pulau Jawa yang diikuti sejarahnya. Sementara pelarian bangsawan Makassar ke Asia Tenggara dan daerah lain di dunia tidak diikuti sejarahnya. Salah satunya adalah jejak Napoleon Bonaparte,  yang terungkap ternyata anak keturunan bangsawan dari Kerajaan Gowa.

Napoleon Bonaparte pemimpin militer Perancis yang berperan penting dalam Revolusi Perancis. Pada masa kejayaannya, Napoleon Bonaparte menguasai hampir seluruh dataran Eropa, baik dengan diplomasi maupun peperangan.

Menurut beberapa sumber, Napoleon Bonaparte berasal dari keturunan Makassar, yakni dari I Yandulu Daeng Mangalle yang melarikan diri ke Siam (Thailand), setelah Kerajaan Gowa ditundukkan Belanda atas politik pecah belah bersama Kerajaan Bone.

Dua putra Daeng Mangalle, yakni Daeng Tulolo dan Daeng Ruru kemudian dibawa oleh Kapten Tentara Perancis ke Perancis, atas izin dari Raja Narai. Kemudian kedua putra keturunan Gowa tersebut disekolahkan di Akademi Militer Prancis.

Daeng Ruru dan Daeng Tulolo kemudian dibaptis oleh Uskup kota Le Mans pada tanggal 7 Maret 1687. Sedangkan  Raja Louis menjadi ayah baptis. Daeng Ruru berganti nama menjadi Louis Pierre de Macassart, sementara Daeng Tulolo menjadi Louis Dauphin. Dari kedua keturunan Gowa itulah Napoleon berasal. Makanya, ciri fisik  Napoleon mirip dengan ciri orang Melayu, postur tubuh lebih kecil dibanding orang Eropa pada umumnya.

Daeng Ruru bergelar Louis Pierre Makassar adalah perwira yang sangat disegani dalam armada laut Prancis, dan sering ditugaskan untuk membantu negara-negara di Eropa dalam peperangan. Pada tanggal 19 Mei 1708, Daeng Ruru tewas dan tidak diketahui riwayatnya. Sedangkan adiknya, Daeng Tulolo bergelar Louis Dauphin Makassar, sempat mendirikan ordo Satria yang disebut ‘Bintang’.

Louis Dauphin Makassar berpangkat Letnan muda pada usia 38 tahun dan bertugas di kapal India. Meninggal di Bres 30 November 1736 pada usia 62 tahun, jasadnya dibawa ke Gereja Carmes di kota itu untuk disemayamkan. Dia dikubur dalam Gereja Louis de Brest. Jenazahnya hancur ketika terjadi pemboman saat perang dunia II.

Komentar

Check Also

Akademisi: Debat Pertama Tuntas, DILAN Pilihan Paling Pas

MEDIAWARTA.COM, JAKARTA – Empat pasangan calon (paslon) telah memaparkan visi misi dan program pada acara …

Share This
Mediawarta