Foto: bfi.org.uk

Seorang Pelacur dan Sopir Taksi

Ia mengurungkan niatnya dan memandang saya. Matanya bertanya. Dada saya berdegup kencang.

“Saya mencintai kamu, Susan,” saya mengungkapkannya dengan tenggorokan tercekat.

Susan menatap tak percaya. Saya segera meraih tangannya. Meraba jemarinya yang halus. Mengalirkan keyakinan.

“Hentikan semua ini, Susan. Kamu seharusnya hidup lebih layak, terhormat, dan bernilai. Apa yang kamu lakukan selama ini hanya akan membuat hidupmu didera kesalahan dan dosa. Hiduplah dengan saya. Kita kawin. Saya berjanji akan membahagiakan kamu.”

Susan menggigit bibir. Ia tampaknya memikirkan sesuatu. Saya merasa cemas. Saya sudah menabah-nabahkan hati untuk siap menerima kemungkinan terburuk. Saya memandang Susan dengan tajam. Penuh harap.

Susan tersenyum. Ia mempererat genggaman tangan saya. Tatapan matanya seperti menyiratkan sesuatu. Sangat misterius.

“Saya memang harus menentukan pilihan, pada akhirnya. Tapi kita hidup dalam dunia yang berbeda, Hamzah. Kamu tak akan bisa memahami saya, seperti saya pun tak bisa memahami kamu. Terima kasih atas ketulusan tawaranmu. Saya menghargainya. Biarkan saya memilih dan melewati jalan yang menurut saya terbaik. Maafkan saya. Selamat tinggal,” Susan mengucapkannya dengan bibir bergetar. Pelupuk matanya basah. Disekanya cepat-cepat, lalu membuka handle pintu tergesa-gesa dan pergi.

Saya tak bisa mencegahnya lagi. Saya hanya sempat memandangi punggungnya serta gaunnya yang berkibar ditiup angin senja, untuk terakhir kali, dengan pandangan kosong. Terasa ada yang hilang dalam diri saya, sesuatu yang tak dapat saya ungkapkan bagaimana adanya. Yang pasti, saya seperti telah mencipta “puisi” baru dalam lakon hidup saya. Samar-samar saya mengingat sebait syair bagus:

Lihatlah gadis yang berjalan sendiri di pinggir sungai
Lihatlah rambutnya yang panjang
dan gaunnya yang kuning bernyanyi bersama angin
Cerah matanya seperti matahari
seperti pohon-pohon trembesi
Wahai, cobalah tebak kemana langkahnya pergi

(Gadis dan Sungai – karya Emha Ainun Nadjib dari buku “Sesobek Buku Harian Indonesia”)

Biodata Penulis:

Amril Taufik Gobel, lahir di Makassar, 9 April 1970. Menamatkan kuliah di Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Hasanuddin (Unhas) pada 1994. Semasa kuliah, sejak 1991-1998, sering menulis cerpen dan artikel untuk media cetak lokal di Makassar (Harian Fajar dan Pedoman Rakyat), maupun media cetak nasional (Femina, Harian Republika, Harian Suara Pembaruan). Dua antologi cerpennya yang berjudul “Seorang Pelacur dan Sopir Taksi” dan “Cinta dalam Sepiring Kangkung”, masing-masing telah diadaptasi menjadi sinetron Pintu Hidayah di RCTI. Sementara cerpen lain, “Biarkan Aku Mencintaimu dalam Sunyi”, “Email Terbuka Seorang Selingkuhan”, dan “Jatuh Cinta di Kilometer Dua Puluh Tiga” dimuat dalam buku antologi cerpen komunitas blogfam yang diterbitkan penerbit Gradien pada akhir 2006.

Komentar

Check Also

Guruji

Guruji Oleh Dewi Lestari MEDIAWARTA.COM – Ada yang janggal dari wajahmu, tapi aku tak pernah …

Share This
Mediawarta