Profesi ‘Tukang Kelon’ kini mulai dilirik oleh Psikolog

MEDIAWARTA.COM – Di dunia ini kian banyak bermunculan profesi baru yang menjanjikan yang sebelumnya tidak terpikir oleh kita. Kompleksnya permasalahan manuasia membutuhkan sistem penanganan masalah yang berbeda-beda pula tergantung jenis masalah itu sendiri. Dilansir dari vice.com, Sebuah profesi unik Desiree Robinson, seorang psikolog yang juga membantu menidurkan orang.

Seperti psikoterapis pada umumnya, Desiree Robinson menghabiskan sebagian besar harinya berbincang dengan klien-kliennya di sofa. Bedanya, setelah semua sesi terapinya hari itu kelar, Desiree Robinson beranjak ke matras Thailand dengan bantal-bantal memeluk klien yang berbeda.

“Saya tidak akan membuka sesi kelon di ruangan-ruangan yang dirancang untuk tidur atau berhubungan seks,” ungkapnya mengenai praktik kelon yang telah menjadi pekerjaan sampingannya sejak awal 2016.

Robinson adalah terapis berlisensi yang merangkap sebagai tukang kelon profesional untuk Cuddlist, sebuah layanan yang menghubungkan orang-orang yang merasa kesepian atau kurang belaian (secara nonseksual) dengan tukang kelon berbayar. Robinson bukan satu-satunya, melainkan satu diantara 20 persen tukang kelon profesional di Cuddlist yang juga memiliki lisensi psikoterapi. Hal tersebut disampaikan oleh CEO Cuddlist, Adam Lippin.

“Baik sesi psikoterapi maupun sesi kelon sama-sama memberikan afirmasi bagi klien, sehingga klien merasa diterima,” kata Lippin pada saya. “[Terapis dan tukang kelon profesional] memiliki keterampilan dalam menyimak dengan penuh perhatian, dan mendampingi klien tanpa menghakimi. Hal ini dapat percaya diri dan rasa keterhubungan klien.”

Jauh sebelum Robinson bergabung ke Cuddlist, dia telah menyadari adanya hubungan antara terapi dan kontak fisik. Terkadang, dalam sesi terapi yang amat meletihkan Robinson merasa terdorong mendekap kliennya; kali lain, kliennya yang secara eksplisit meminta kontak fisik seperti dekapan atau puk-puk sederhana di pundak.

Robinson tahu betul bahwa, sebagai terapis resmi, dia perlu menjaga jarak. Dalam ranah psikoterapi, kontak fisik dianggap area abu-abu—tidak ilegal, hanya saja banyak terapis khawatir kontak fisik menimbulkan kesalahpahaman yang dapat berujung pada tuntutan hukum.

Untuk menghindari hal tersebut, sekalian saja Robinson beralih pada terapi kelon. Mulanya dia membayar US$79 (sekitar Rp1.060.000) untuk mendapatkan sertifikat di Cuddlist. Dia percaya, dengan sertifikat itu dia bisa memperluas layanan terapinya dan mendapatkan penghasilan sampingan.

“Menangis di sofa terapis sangat berbeda rasanya dari menangis dalam dekapan seseorang”—Adam Lippin

Tiap bulannya, Robinson menghabiskan kisaran empat hingga delapan jam dengan para klien Cuddlist. Selain itu dia juga mengurus strategi marketing tiga jam per minggu untuk mendapatkan klien baru. Bahkan Robinson merelakan uang sebesar US$30 (sekitar Rp402.000) per bulan agar Cuddlist menyertakan profilnya dalam database mereka, dan membayar Psychology Today untuk memuat profilnya sebagai psiskoterapis.

Tapi sejauh ini, menurutnya, itu semua sepadan. Kini Robinson adalah tukang kelon profesional dengan tarif US$80 (sekitar Rp1.072.000) per jamnya. Tarif tersebut tak berbeda jauh dengan tarif yang ia tetapkan untuk sesi psikoterapi—US$120 (Rp1.608.000) untuk konsultasi awal, dan US$55 hingga US$85 (Rp736.000 – Rp1.138.000) per jam untuk sesi lanjutan.

Terlepas dari kemiripan kedua jasa tersebut, Robinson sangat berhati-hati untuk memisahkan sesi terapi dan sesi ndusel. Untuk menghindari perkara etika dan hukum, dia menolak mengeloni klien psikoterapinya dan begitu pula sebaliknya.

Akan tetapi, profil Robinson di Cuddlist menyebutkan bahwa dia adalah terapis berlisensi—yang dianggap Robinson nilai jual untuk mendapatkan klien baru. Terkadang dia juga membiarkan klien terapinya tahu tentang pekerjaan sampingannya itu.

“Saya engga mengiklankan jasa kelon [pada klien terapi saya], tapi ya saya juga engga menutup-nutupinya,” ujarnya.

Terapi kelon muncul dari kepercayaan bahwa sentuhan fisik non-seksual membawa manfaat bagi banyak orang. Sejak pesta kelon pertama yang tercatat di New York lebih dari satu dekade lampau, industri kelon telah menanjak. Perusahaan-perusaahan ternama di antaranya adalah Cuddlist, Cuddle Time, dan Cuddle Therapy. Di situ, siapapun dapat membayar untuk dikeloni secara profesional.

“Dalam hidup ini kita jarang dibelai,” ujar Lippin. Dia menganggap kelon sebagai pelengkap dari sesi terapi pada umumnya. “Saat terapi ngobrol selesai, bisa dilanjutin dengan terapi kelon. Menangis di sofa terapis sangat berbeda rasanya dari menangis dalam dekapan seseorang.”

Karissa Brennan juga terapis yang merangkap sebagai tukang kelon profesional. Di samping menemui dengan klien secara langsung, Brennan juga menghubungkan orang-orang melalui platform terapi daring. Menurutnya, terapi daring dan terapi kelon membantunya melengkapi keterampilan dia sebagai terapis.

“Ketika seseorang mendekapmu, kamu akan menyadari bahwa kamu mampu menyayangi diri sendiri,” ujarnya. “Karena kamu merasa dipedulikan, kamu jadi mempunyai keinginan untuk peduli pada diri sendiri.”

Terapi daring dan Cuddlist adalah dua dari banyak jalan yang bisa memberi penghasilan tambahan untuk para terapis. Jalan lainnya adalah ngeblog tentang kesehatan mental dan memasang iklan pada situs mereka, atau menerbitkan buku panduan-diri dan buku psikologi. Ada juga, meski jarang, yang mengambil posisi administratif di perusahaan kesehatan mental.

Sulit membayangkan bahwa terapis perlu berusaha begitu keras untuk menambah penghasilan mereka. Sesi terapi kan tidak murah, tarif rata-ratanya saja US$75 (Rp1.040.000) per sesi. Walau kesannya mahal, ternyata banyak juga psikolog di AS berpenghasilan per tahun kurang dari US$30.000 (Rp401.460.000). Penyebabnya bisa jadi karena mereka mensubsidi sesi terapi untuk klien tak mampu, atau mereka kekurangan klien. Tarif sesi terapi juga biasanya disalurkan untuk membayar sewa gedung dan tagihan kantor, melanjutkan pelatihan profesional, atau memperbarui lisensi. Alhasil, mereka perlu mencari penghasilan tambahan.

Bagi Brennan, penghasilan sampingan adalah bonus—dia lebih senang karena menjadi tukang kelon profesional mengasah keterampilannya untuk menjadi terapis di sesi terapi tradisional.

“Sebagai pemilik usaha, saya setuju bahwa memiliki beragam sumber penghasilan itu bijaksana. Tapi, saya juga percaya pada pendekatan holistik untuk penyembuhan,” ujar Brennan. “Saya percaya sudah menjadi bagian dari tugas saya untuk memahami jenis praktik lain dan bagaimana hal itu bisa membantu klien saya dengan cara yang saya tak bisa lakukan sebagai terapis.

Foto: Internet
Sunmber Vice.com

Komentar

Check Also

Berselancar Bersama Komunitas Inline Skate di Roof Top Nipah Mall

MEDIAWARTA.COM, MAKASSAR – Sejak tahun 90-an sepatu roda menjadi permainan yang menarik dan diminati anak-anak …

Share This
Mediawarta