MEDIAWARTA, MAKASSAR – Kebetulan teori ini pernah lewat pada bacaan saya, teori sepatu pinjaman. Sebenarnya sederhana pemaknaannya, tapi teorinya terdengar canggih, karena pakai bahasa asing.
Teori ini menunjuk kepada kesediaan memahami orang lain dengan merasakan pengalaman hidupnya sendiri. Teori yang menjelaskan bagaimana sikap empati itu mangalami proses bertumbuh pada jiwa seseorang. Caranya dengan memakai sepatu orang yang bersangkutan, “walk a mile in someone’s shoes.”
Mengapa sepatu? Saya juga berpikir, mengapa bukan barang lain! Mungkin karena sepatu adalah alat atau alas berjalan. Dan hidup ini ibarat perjalanan. Jadi untuk memahami kemampuan berjalan orang, cek sepatu yang dipakainya.
Sepatu memang mewakili diri. Itulah sebabnya orang yang mencari prestise atau identitas, bisa dilihat dari harga sepatunya. Sepatu adalah mewakili rasa seseorang tentang hidup. Mungkin anda punya pengalaman pernah memakai sepatu yang kekecilan? Betapa menderitanya jari- jari kaki anda.
Tapi bagi saya, lebih banyak punya pengalaman memakai sepatu yang kebesaran, karena memberi kesempatan kaki saya untuk bertumbuh, supaya sepatunya lama dipakai. Maklum, motif ekonomi. Padahal sepatu itu sudah rusak terlebih dahulu sebelum cocok dengan kaki yang dianggap membesar.
Memakai sepatu longgar sama menderitanya dengan memakai sepatu kekecilan. Sasarannya bukan pada jari-jari kaki, tapi irisan luka pada tumit karena gesekan bagian belakang sepatu dengan tumit saat berjalan.
Jadi teori sepatu pinjaman adalah bangunan perspektif untuk meminjam penderitaan orang yang sepatunya kekecilan atau kelonggaran, atau orang bersepatu dengan keretakan kulit bagian depannya.
Teori sepatu pinjaman adalah ketulusan jiwa untuk memahami mengapa seseorang itu memakai sepatu kumuh. Mengapa jempol seseorang itu tidak berkuku rapi karena pengalaman panjang memakau sepatu yang kekecilan.
Teori sepatu pinjaman adalah kesediaan untuk merasakan langsung penderitaan orang-orang yang mengalami kesulitan hidup. Kesediaan untuk mengalami secara nyata makna keterbatasan hidup.
Efeknya, lahirnya proses internalisasi sikap peduli, dari meminjam sepatu menjadi “meminjamkan.” Tapi jauh lebih bagus kalau membelikan yang baru, apalagi kalau bermerek.
Oleh:
Hamdan Juhannis
Rektor UIN Alauddin

Comment