Bona Fide (5): Detoks Hati

MEDIAWARTA, MAKASSAR – Saya terinspirasi dengan ceramah seorang ustad di suatu subuh, membahas tentang detoksifikasi hati. Saya tertarik karena istilah detoks ini sangat populer saat ini. Terutama yang terkait dengan masalah gaya hidup sehat.

Secara umum dipahami bahwa tubuh secara alamiah melakukan proses detoksfikasi. Organ-organ tubuh membersihkan racun dari metabolisme yang terjadi. Orang menjadi sehat karena detoks itu berlangsung lancar. Dan orang mulai menurun derajat kesehatannya saat proses detoks organ tubuh itu mengalami gangguan. Begitukah wahai sahabat-sahabat dokter?

Detoks juga dimaknai sebagai intervensi gaya hidup. Ada orang mempraktekkan puasa ketat yang berdurasi lama, sebagai proses detoksfikasi tubuh. Lemak tubuh yang berlebihan dimakan sendiri oleh tubuh kita sehingga bisa menurunkan berat badan dan racun tubuh bisa terurai. Ada istilahnya, tapi silakan cari sendiri.

Saya pernah mengikuti gaya detoks teman saya, tapi rupanya membutuhkan kedisiplinan tingkat tinggi dalam menyiasati undangan makan. Terutama kalau yang mengundang itu bukan hanya karena tokoh penting, tapi sajian makanannya enak-enak.

Jadi rupanya pak Ustad membawa istilah detoks ini ke ranah psiko-religious, pembersihan hati dari berbagai racun yang menyebabkan terjadinya penyakit hati. Pak Ustad lebih fokus pada detoks hati dari racun kesombongan. Saya sangat tertarik karena kesombongan itu bisa melanda siapa saja. Kesombongan adalah racun kemanusiaan.

Kesombongan sumber dari racun-racun hati lainnya. Orang sombong cenderung egois karena selalu mau menang sendiri. Orang sombong susah mendengar karena hanya dirinya yang mau didengar. Orang sombong pasti narsis karena itulah cara menyalurkan kesombongannya. Intinya kesombongan racun penghalang persaudaraan sejati.

Menurut ustad itu, cara mendetoks hati dari racun kesombongan adalah dengan pengobatan secara rutin sesuai dengan derajat kesombongan kita. Menurutnya, yang pertama dilakukan adalah deteksi diri dari jenis-jenis perilaku kesombongan yang sering ditampilkan.

Menurut ustad, pendeteksian ini adalah langkah yang paling mendasar, dan penentu kesukesan proses detoksifikasi. Karena deteksi diri sudah mencakup unsur pengakuan tentang racun yang melekat dalam hati. Ustadnya mengunci, bahwa berbeda dengan detoks fisik yang prosesnya bisa ditandai secara jelas, karena lahiriah. Detoks hati prosesnya lebih bersifat batiniah.

Orang sombong sering tidak sadar kalau dirinya sombong. Itu tantangannya. Kesediaan untuk melakukan deteksi diri adalah cara untuk menggugah kesadaran. Setelah itu langsung menuju ke klinik, ruang kontemplasi. Lebih bagus kalau ruangnya hening, cahayanya temaram. Silakan melakukan proses deteksi dengan cara berefleksi. Termasuk penulis. Karena khawatir sedang mempraktekkan kesombongan saat menulis tema ini, saya hentikan saja dulu, siap-siap ke klinik detoksfikasi hati.

Oleh:
Hamdan Juhannis
Rektor UIN Alauddin

Comment