MEDIAWARTA, MAKASSAR — Kinerja penghimpunan dana perbankan di Sulawesi Selatan masih menunjukkan ketahanan hingga akhir 2025, meskipun laju pertumbuhannya mulai melandai. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai, kekuatan likuiditas perbankan daerah saat ini terutama ditopang oleh simpanan bernilai besar serta aktivitas sektor swasta yang relatif stabil.
Data LPS menunjukkan, posisi Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan Sulsel pada November 2025 masih tumbuh di atas rata-rata nasional. Namun, akselerasi pertumbuhan tidak secepat tahun sebelumnya, seiring meningkatnya kehati-hatian dunia usaha dan rumah tangga dalam mengelola dana di tengah dinamika ekonomi.
Deputi Kepala Kantor Perwakilan LPS Wilayah III, Prayitno Amigoro, menjelaskan bahwa struktur pertumbuhan DPK saat ini mencerminkan perubahan pola perilaku nasabah. Simpanan dengan nominal di atas Rp2 miliar menjadi motor utama pertumbuhan, sementara dana dari kelompok nasabah kecil dan menengah tumbuh lebih terbatas.
“Likuiditas perbankan daerah masih terjaga dengan baik. Namun, kami melihat adanya pergeseran, di mana dana besar lebih aktif, sementara masyarakat cenderung menahan ekspansi simpanan,” ujar Prayitno dalam paparan di Makassar, Rabu (23/1/2026).
Secara makro, perkembangan DPK ini berjalan seiring dengan kinerja ekonomi Sulawesi Selatan yang tumbuh 5,01 persen secara tahunan pada Triwulan III 2025. Meski sedikit di bawah pertumbuhan nasional, kinerja tersebut mencerminkan perbaikan dibandingkan triwulan sebelumnya dan tetap memberikan dukungan bagi sektor perbankan.
Dari sisi geografis, Kota Makassar masih menjadi pusat penghimpunan dana terbesar dengan porsi lebih dari separuh total simpanan di Sulawesi Selatan. Namun, LPS mencatat pertumbuhan simpanan di ibu kota provinsi tersebut mulai melambat, sejalan dengan meningkatnya aktivitas investasi dan ekonomi di wilayah penyangga.
Kabupaten Luwu Timur dan Luwu Utara muncul sebagai daerah dengan pertumbuhan simpanan yang relatif lebih tinggi, didorong oleh penguatan sektor industri dan perputaran ekonomi lokal. Kondisi ini menandai mulai bergesernya sumber pertumbuhan ekonomi dari pusat kota ke sejumlah wilayah potensial di daerah.
Selain itu, kontribusi simpanan juga datang dari beberapa daerah lain seperti Bone, Gowa, Palopo, dan Wajo, yang secara kolektif memperkuat struktur DPK Sulawesi Selatan. Distribusi yang semakin merata ini dinilai penting dalam menjaga stabilitas likuiditas perbankan daerah.
LPS menilai, ke depan tantangan utama bukan hanya menjaga pertumbuhan DPK, tetapi juga memastikan pemerataan ekonomi antarwilayah. Dengan likuiditas yang tetap kuat dan perbankan yang berhati-hati, Sulawesi Selatan dinilai memiliki fondasi yang cukup solid untuk menopang pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Comment