MEDIAWARTA, MAKASSAR – Kali ini agak berbeda. Saya menampilkan respon dari seorang teman kuliah semasa S1 terhadap coretan saya. Namanya: Dr. Amir Faqihuddin. Sejujurnya saya kagum bercampur iri pada kecerdasan dan kritisismenya. Saya hanya unggul IP dari dirinya, hanya karena volume kritisismenya selalu melebihi keunggulan kecerdasannya. Mari kita ikuti pandangan kritisnya di bawah ini, yang saya copy dari group WA teman-teman alumni saya. Sebuah wujud niat baik, meskipun terasa pedas.
Assalamu Alaikum wrwb.
Izin mengomentari tulisan Prof Hamdan.
Alhamdulillah. Saya mengikuti sekian banyak tulisan Prof. Hamdan, bukan saja berupa menikmati hubungan personal saya sebagai teman sebangku di IAIN Alauddin Makassar tempo doeloe, tapi juga sebagai bentuk dialog wacana dengan sosok yang kini telah bermetamorfosa menjadi *Prominent Intellectual on Sociology of Islamic Society*, menjadi guru dan mentor akademik saya.
Ini juga sebenarnya merupakan bentuk dahaga suci saya terhadap lahirnya dreaming society, tatanan sosial Islam yang dijanjikan dalam konsep profetik Islam. Sepertinya, kami berdua punya lntelectual Curiosity yang sama, untuk peduli tentang apa maunya Tuhan terhadap nasib ummat manusia (khususnya dalam pengertian makhluk sosial), dan bagaimana historisitas masyarakat Islam terbentuk dan berkembang sepanjang sejarah, beserta faktor-faktor determinannya.
Prof Hamdan hampir selalu membicarakan issue sosial dalam frame dinamika psikologi personal dan makna simbolik yang tersimpan dalam komunikasi personal tersebut. Sesekali dikaitkan dengan beberapa popular value atau traditional wisdom Padahal transformasi sosial bukan isu personal, dan tidak pernah hadir sebagai kasus tunggal.
Sejatinya, masalah warga hanyalah akibat yang bisa diciptakan oleh skenario kekuasaan dan politik dominan. Di sisi ini, Prof. Hamdan terlalu banyak abai dengan lika-liku dan intrik busuk dalam tubuh politik ekonomi dan politik hukum, seolah berkata, (misalnya): “Luh miskin dan bodoh karena ulahmu sendiri. Agama tidak becus, negative circle, malas, korban medsos, Nggak pintar, etos belajar kurang,” dan lainnya.
Prof Hamdan terkesan mengabaikan struktur ekonomi yang eksploitatif, patronase politik birokrasi yang feodalistik, disrupsi nilai oleh amplifikasi medsos yang dibiarkan liar tanpa kontrol atau perlindungan kedaulatan digital negara, serta tendensi ideologi hegemonik yang mendominasi dan memainkan seluruh sumber daya.
Yang parah adalah, hal ini bisa bermakna blaming the victim, lebih suka memotret korban kekerasan struktural dan menciptakan relasi kausalitatif baru yang tidak proporsional atas kebodohan, premanisme, kerusakan mental, disorientasi nilai, sampai krisis kepribadian, narkoboy, dan bahkan sex bebas di kalangan gen Z, ketimbang membongkar hegemoni dan konspirasi di balik hilangnya keadilan faktual dan substansial dalam kehidupan sosial.
Setahu saya, Prof. Hamdan sudah bolak balik dari negerinya Ali Syariati, sosok Sosiolog revolusioner standar Sorbonne yang sangat menginspirasi, sudah tamat narasinya, khususnya tentang tanggung jawab intelektual muslim, tapi kenapa Prof Hamdan lebih dominan (bahkan selalu) bisu dan buta dalam menunjukkan ketimpangan struktural yang menjadi otak di balik pembodohan massal, permainan di balik ekploitasi SDA dan konglomerasi oleh Oligarki dan Globalis?
Hilangnya peta ini dalam analisa problematika sosial menyebabkan keberpihakan Prof Hamdan selaku intelektual kepada wong cilik menjadi sulit terendus. Singkatnya, core-values intelektualitasnya layak dipertanyakan.
Oleh:
Hamdan Juhannis
Rektor UIN Alauddin

Comment