Bona Fide (10): Hibernasi Ide

MEDIAWARTA, MAKASSAR – Hibernasi adalah istilah yang banyak dipakai untuk menunjuk perilaku hewan. Hibernasi adalah strategi bertahan hidup yang dilakukan hewan untuk menghemat energi dalam situasi sulit, misalnya saat cuaca ekstrim atau pada masa paceklik. Banyak hewan yang melakukan hibernasi dengan cara tidur panjang.

Yang paling sering dicontohkan adalah beruang. Beruang menghafal betul pergerakan pergantian musim untuk mengantisipasi datangnya musim dingin dan cuaca ekstrim. Cara melakukan hibernasi adalah makan sebanyak-banyaknya dan menaikkan berat badan sebagai proses “stocking” lemak selama mereka melakukan tidur panjang di gua atau di tempat-tempat tersembunyi yang lebih hangat.

Sekarang mari kita menarik istilah ini ke ranag yang lebih sosiologis, hibernasi dalam interaksi sosial. Mari mencoba memaknai hibernasi sebagai strategi adaptasi manusia dalam menjalin relasi sosial, tak terkecuali relasi akademik.

Banyak yang mengira, bahkan ada yang sudah menulis, ketika saya mengangkat komentar atau respons beberapa teman dalam tulisan saya adalah sejenis strategi bertahan dalam seri tulisan supaya saya masih bisa nongol di group, atau bahasa lainnya, masih bisa tayang, di saat mengalami paceklik ide.

Tentu itu benar. Saya terbuka saja. Tidak mudah bagi saya untuk selalu menghadirkan tulisan berseri sepanjang Ramadan, yang diikat oleh satu tema sentral. Tapi saya tidak mengeluh kepada anda, karena tidak ada juga yang menyuruh untuk melakukannya.

Sejauh ini, saya selalu yakin bahwa ada berbagai strategi untuk keluar dari “lubang jarum”. Yang paling sering saya lakukan adalah “mensyarah” ulasan singkat para pembaca yang saya anggap memiliki kebaruan atau ketajaman pandangan. Termasuk yang memiliki unsur kelucuan.

Strategi kali ini saya lakukan adalah sejenis proses hibernasi. Karena saya belajar dari pengalaman yang lalu untuk mengantisipasi kesibukan melonjak, saya menunggu respon tulisan saya yang lebih sistematis yang bisa saya tayangkan sambil saya istirahat dari tekanan krisis imaginasi di saat kurang fokus. Dan betul, saya tertolong oleh dua respons yang saya yakini memiliki kedalaman kajian.

Prof. Sofyan Salam adalah Professor seniman yang betul membaca secara jeli tentang proses hibernasi yang saya lakukan di saat terjadi krisis ide. Tapi ada yang meleset, Prof. Sofyan meyakini bahwa subuh ini saya sudah kembali keluar dari gua persembunyian ide. Nyatanya, saya masih menukil catatan beliau di sebuah group, di bawah ini:

*Bona Fide: (Tanpa nomor)*
Menuliskan hasil perenungan tentang beragam fenomena sosial yang relevan dengan semangat penyucian diri di bulan suci, tidaklah ringan. Tidak ringan, karena 30 seri tulisan harus hadir di setiap hari menjelang fajar menyingsing. Itulah tantangan yg dihadapi oleh Prof Hamdan.

Beruntung dua orang teman, hadir menolong. Meski tak sengaja. Seorang teman sebangku, seorang lainnya teman sekampung. Berkat kedua teman tersebut, Prof Hamdan berkesempatan untuk istirahat selama dua hari menuangkan hasil perenungannya sendiri.

Percayalah, teman sejati akan selalu hadir di saat yg tepat. Insyaallah, besok, Prof Hamdan akan kembali menyajikan hasil perenungannya yg genuine dan menginspirasi. Kita tunggu, sebelum fajar merekah.

Oleh:
Hamdan Juhannis
Rektor UIN Alauddin

Comment