MEDIAWARTA,-Laju inflasi di Provinsi Sulawesi Selatan pada Januari 2026 masih dalam kondisi terkendali. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan mencatat inflasi bulanan sebesar 0,47 persen (month to month/mtm), sedikit lebih rendah dibandingkan Desember 2025 yang mencapai 0,49 persen.
Meski melandai secara bulanan, inflasi tahunan (year on year/yoy) Sulsel tercatat 4,11 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,55 persen. Tekanan harga di awal tahun disebut masih didominasi kelompok makanan, terutama komoditas hasil laut.
Kepala Perwakilan BI Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda, menjelaskan bahwa faktor cuaca menjadi salah satu pemicu naiknya harga ikan segar di sejumlah daerah.
“Gangguan cuaca memengaruhi aktivitas melaut dan distribusi, sehingga pasokan beberapa jenis ikan berkurang dan mendorong kenaikan harga,” ujarnya dalam kegiatan Bincang Bareng Media di Makassar, Jumat (20/2/2026)
Kepala Perwakilan BI Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda, menjelaskan bahwa faktor cuaca menjadi salah satu pemicu naiknya harga ikan segar di sejumlah daerah.
“Gangguan cuaca memengaruhi aktivitas melaut dan distribusi, sehingga pasokan beberapa jenis ikan berkurang dan mendorong kenaikan harga,” ujarnya dalam kegiatan Bincang Bareng Media di Makassar, Jumat (20/2/2026).
Beberapa komoditas yang tercatat memberikan andil inflasi antara lain ikan layang, ikan cakalang, ikan bandeng, ikan teri, dan udang basah. Selain itu, kenaikan harga emas perhiasan juga turut memberi tekanan tambahan pada inflasi Januari.
Namun demikian, tekanan tersebut sebagian teredam oleh turunnya harga sejumlah komoditas hortikultura seperti cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah. Penurunan tarif angkutan udara pasca-libur akhir tahun juga membantu menahan laju inflasi lebih lanjut.
Dari sisi wilayah, inflasi bulanan relatif lebih tinggi terjadi di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) dan Bone. Sementara Kota Makassar dan Kabupaten Bulukumba mencatat inflasi yang lebih rendah dibandingkan daerah lainnya di Sulsel.
BI memperkirakan stabilitas harga sepanjang 2026 tetap terjaga dalam kisaran sasaran nasional 2,5±1 persen. Optimisme ini ditopang oleh penguatan pasokan pangan, perbaikan distribusi, serta sinergi antara pemerintah daerah dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID)
Selain menjaga inflasi, BI juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan tahun ini berada pada kisaran 5,0–5,8 persen. Konsumsi rumah tangga, investasi, serta aktivitas perdagangan dinilai masih menjadi motor penggerak utama perekonomian daerah.
Kendati kondisi ekonomi dinilai stabil, BI menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi gejolak harga pangan, khususnya menjelang periode musiman dan meningkatnya permintaan masyarakat sepanjang tahun

Comment