MEDIAWARTA, GOWA — Pagi itu, Suara burung berpadu dengan desau angin yang menyentuh dedaunan. Dari halaman rumah sederhana, berdirilah sebuah kebun modern yang justru lahir dari imajinasi seorang anak muda generasi digital. Bukan sekadar menanam sayur, tetapi merangkai masa depan pertanian dengan sentuhan kecerdasan buatan.
Samata Green House (SGH) berdiri lahan berukuran 16 x 50 meter, tiga greenhouse berdiri teratur, memuat sekitar 15.000 titik tanam. Dari ruang serba presisi inilah lahir hingga 1,5 ton sayuran daun dan buah setiap bulan, angka yang sulit dicapai oleh kebun rumahan biasa.
Teknologi yang Bekerja Mandiri
Di balik keberhasilan ini ada Nur Al Fauzan, pemuda 26 tahun yang mulai membangun sistem pertanian cerdas tersebut sejak 2020. Ia memadukan sensor, sistem aktuator, dan platform AI untuk mengatur seluruh proses budidaya, mulai dari keseimbangan pH, kadar nutrisi, sirkulasi udara, hingga pengontrol suhu.
Ratusan sensor membaca kondisi ruang tanam setiap detik. Data yang terkumpul diproses oleh AI, lalu diterjemahkan menjadi tindakan otomatis: nutrisi ditambahkan jika kurang, exhaust menyala saat suhu naik, dan pompa irigasi bekerja ketika tanaman membutuhkan air.
“Dulu saya harus keliling bawa alat ukur. Sekarang cukup buka laptop atau ponsel, semuanya sudah terlihat lengkap. Kalau ada masalah, sistem langsung mengambil tindakan,” ujar Fauzan, Kamis (20/11/2025).
Sebelum menerapkan teknologi digital, produksi SGH berada di kisaran 800 kilogram per bulan. Setelah sistem AI diterapkan pada 2022, hasil panen melesat hingga dua kali lipat. Selada, pakcoy, bayam Brasil, hingga mint menjadi komoditas yang paling banyak diminati pasar.
Konektivitas Telkomsel Menjadi Tulang Punggung Smart Farming
Di balik sistem cerdas SGH, ada satu aspek yang tidak terlihat tetapi sangat menentukan: jaringan internet. Seluruh sensor, panel kontrol, dan kamera pemantau bergantung pada konektivitas yang stabil selama 24 jam.
Fauzan mengandalkan jaringan Telkomsel untuk menghubungkan sistem AI miliknya.
“Kalau saya lagi di luar daerah, seperti di Jakarta, monitoring tetap aman. Saya pakai kuota 100 GB Telkomsel setiap bulan untuk modem di greenhouse, dan itu cukup untuk jalankan AI dan CCTV. Rumah saya belum ada jaringan fiber, jadi Telkomsel yang paling bisa diandalkan,” jelasnya.
Rina Dwi Noviani, Manager Corporate Communications Telkomsel Region Pamasuka, menegaskan bahwa Telkomsel memang berkomitmen memperluas cakupan jaringan hingga ke kawasan pertanian.
“Smart farming membutuhkan koneksi yang kuat dan stabil. Kami hadir untuk mendukung ekosistem pertanian modern yang bekerja secara real-time, seperti yang diterapkan SGH,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa layanan digital Telkomsel, dirancang untuk menjawab kebutuhan generasi muda yang menginginkan fleksibilitas, transparansi, dan kemudahan layanan berbasis aplikasi, termasuk bagi mereka yang bergerak di sektor pertanian digital.
SGH menjadi contoh bahwa pertanian masa depan di Indonesia dapat dibangun dari halaman rumah. Bukan hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menghadirkan model pertanian berkelanjutan yang mampu menjawab tantangan pangan di masa mendatang.

Comment