Lapangan Karebosi Saat di pakai Shalat Idul Fitri

Karebosi, Antara Sejarah dan Mistis

MEDIAWARTA.COM, MAKASSAR – Lapangan Karebosi yang membentang seluas 11,29 hektare merupakan salah satu tempat yang sering diidentikkan dengan Kota Makassar . Lapangan yang juga menjadi titik nol kilometer kota Makassar yang menjadi sentra masyarakat untuk melakukan berbagai aktifitas. Karebosi dulunya disebut Parang Lampe, dalam bahasa Indonesia dapat diartikan lapangan panjang dan lebar.

Pada masa pemerintahan Wali Kota Ilham Arief Sirajuddindi 2007, Lapangan Karebosi di Reviltalisasi dan selesai sekitar setahun kemudian. Pada awalnya, renovasi Lapangan Karebosi menuai banyak kecaman karena banyak anggapan bahwa Lapangan Karebosi akan dijadikan kawasan bisnis dan tidak lagi difungsikan sebagai ruang publik. Tapi lama kelamaan masyarakat kota makassar mulai menerima keberadaan nya setelah melihat hasil yang luar biasa dari The New Karebosi.

4november2007x
Lapangan Karebosi Saat Revitalisasi di Tahun 2007

Bila merujuk pada peta yang terpajang di Museum Kota Makassar. Karebosi awalnya hanyalah merupakan hamparan yang difungsikan sebagai sawah kerajaan. Sejarahnya dimulai pada abad ke-10, saat Karebosi masih masuk dalam wilayah Kerajaan Gowa-Tallo yang meliputi Sungai Tallo bagian Utara hingga Barombong bagian selatan.

Lapangan Karebosi dulunya juga berfungsi sebagai alun-alun pasamuan para raja se-Sulawesi Selatan sebagai tempat berkumpul untuk bermusyawarah dalam mengambil suatu kebijakan maupun keputusan, atau melakukan acara besar tertentu. Pada masa kolonial Belanda, areal ini bernama Koningsplein yang fungsinya sebagai ruang publik dan tempat latihan pasukan Belanda. Saat itu Karebosi diapit dua benteng basis militer Belanda.

Kerajaan Tallo merupakan cikal bakal Makassar yang disinyalir merupakan kerajaan yang pertama kali di tanah Anging Mammiri, karena kerajaan Tallo-lah yang mengundang kerajaan-kerajaan lainnya untuk berkumpul di alun-alun seperti Somba ri Gowa, Mangkau ri Bone, dan Payungnga di Luwu. Semua kerajaan tersebut juga disinyalir ada hubungan pertalian darah dan persaudaraan dengan Kerajaan Tallo pertama.

karebosinow
Karebosi Tahun 2006, Tergenang Sehabis Hujan

Sejarah penamaan Karebosi, Konon dimulai dari turunnya hujan deras disertai kilat tujuh hari yang mengakhiri kemarau panjang selama tujuh tahun. Setelah hujan reda, muncul tujuh gundukan tanah yang dari masing-masing gundukan keluar seorang berjubah kuning. Mereka hanya muncul sesaat. Masyarakat menyebut mereka Karaeng Angngerang Bosi, atau Tuan yang Membawa Hujan. Itulah kenapa areal ini kini disebut Karebosi yang berawal dari kalimat Kanro Bosi (hujan sebagai anugerah Tuhan).

Tetapi ada juga, menurut epos masyarakat Makassar, konon dalam Kerajaan Tallo pernah lahir seorang gadis aristokrat dari keturunan Raja Tallo yang sangat cantik, pintar, bijak bertutur, serta santun dan ramah. Gadis tersebut bergelarKaraeng Bunga Rosina Tallo atauRaja Bunga Mawar Tallo.

Karena kecerdasannya, Karaeng Bunga Rosina Tallo yang senantiasa memimpin musyawarah antar raja. Ia sigap dan tanggap terhadap permasalahan rakyat. Keputusannya selalu dilandasi kearifan sehingga ia dikenang sebagai tokoh panutan. Setelah mangkat, namanya terus dikenang. Lapangan Karebosi yang dulunya merupakan alun-alun kerajaan Tallo merupakan singkatan dari namanya, Karaeng Bunga Rosina sebagai aplikasi penghargaan terhadap jasa dan kebijaksanaannya.

Pohon besar yang ada di dalam Lapangang Karebosi, dulunya adalah pohon kecil yang ditanam sebagai tanda tempat dikuburkannya Karaeng Bunga Rosina Tallo. Penanda tersebut menguat sebagai bukti jika menilik penyebab hanya ada satu pohon besar di sana.

555deb680423bd2b158b4568
Pohon Tua Yang Masih Berdiri di Lapangan Karebosi Sampai Saat Ini.

Bagi warga Makassar, cerita berbau mistik dan alam gaib di Lapangan Karebosi bukanlah hal yang baru. Tidak sedikit yang percaya bahwa berbagai kejadian aneh di luar nalar yang muncul di lapangan itu adalah ulah dari para penjaga yang berdiam di sana

Bebrapa orang juga pernah melihat pada malam hari, ada kuda berjalan di dalam lapangan tempat penunggangnya sempat berputar-putar mengelilingi lapangan dan kemudian menghilang, berdasarkan informasi, kuda itu penghuni lapangan Karebosi.

Komentar

Check Also

Ini uang panai orang Tionghoa

MEDIAWARTA.COM – Ini uang panai orang Tionghoa. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, …

Share This
Mediawarta