LDII siap hadapi Proxy War dengan dua Strategi

MEDIAWARTA.COM, PINRANG – Menghadapi problematika masyarakat modern yang semakin pelik, diperlukan strategi jitu. Di era global saat ini, problem yang sedang Indonesia hadapi adalah proxy war (perang proksi).

Ketua Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Sulawesi Selatan Hidayat Nahwi Rasul mengungkapkan, karena jumlah penduduk dunia semakin besar, maka negara-negara yang minim Sumber Daya Alam (SDA) berupaya merebut potensi energi Indonesia dengan modus proxy war.

“Energi, pangan, dan air mereka rebut untuk mencukupi kebutuhan penduduknya yang semakin tinggi. Itulah alasan mengapa Indonesia harus dirusak dengan narkoba dan pornografi,” kata Hidayat saat menyampaikan sambutan dalam pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) V DPD LDII Kabupaten Pinrang di Gedung Andi Makkulau, Jalan Letjen S Parman, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, Kamis (13/10/2016).

Hidayat Nahwi Rasul menuturkan, dengan konsep enam tabiat luhur dan tri sukses generasi penerus, LDII siap memasuki arena proxy war. Perincian konsep enam tabiat luhur diantaranya rukun, kompak, kerjasama yang baik, jujur, amanah, dan kerja keras lagi hemat. Adapun tri sukses ialah alim dan fakih, berbudi pekerti yang baik, dan mandiri.

Hidayat mengatakan, mesiu proxy war diantaranya adalah narkoba dan pornografi. Generasi muda, kata Hidayat, menjadi sasaran penyalahgunaan narkoba. “Dengan formula 6 tabiat luhur dan tri sukses inilah, LDII optimis menjadi pemenang dalam proxy war, bukan menjadi korban dari proxy war,” sebut anggota white list nusantara Kemkominfo ini.

Baca Juga:   Area Kantor Pertamina MOR VII disemprot Disinfektan Untuk Antisipasi Covid-19

LDII, kata Hidayat, mendorong pemuda memiliki ilmu agama yang kuat. “Dengan memiliki kepahaman agama dan keimanan yang tinggi, ia akan jauh dari pornografi dan narkoba. Iitulah sebabnya, LDII melarang warganya merokok, karena kita menganggap rokok adalah jembatan emas menuju narkoba, LDII tidak main-main menghadapi proxy war,” tegas ketua forum telematika Kawasan Timur Indonesia (KTI) ini.

Pihaknya melanjutkan, nilai-nilai 6 tabiat luhur sejalan dengan nilai-nilai Pancasila di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Formula 6 tabiat luhur menjadi motor penggerak implementasi butir-butir Pancasila berupa sila ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” tuturnya.

Ia mengatakan, dengan melaksanakan 6 tabiat luhur dan tri sukses, islam menjadi solusi dan bukan menjadi bagian dari masalah. “Formula 6 tabiat luhur dan tri sukses itulah yang membuktikan kepada dunia bahwa Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin). Karena Islam sebagai rahmatan lil alamin dapat diwujudkan dengan formula tadi,” kata mantan Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) ini.

Dalam konteks Islam sebagai rahmatan lil alamin, kata Hidayat, umat Islam diperintah untuk mencintai alam dan seluruh manusia. “Kalau kita mencintai alam, maka alam akan mencintai kita, sehingga musibah banjir dan tanah longsor akan menjauh,” paparnya

Komentar

Check Also

Poltekpar Makassar Jalin Kerjasama dengan Universiti Teknologi Mara Malaysia

MEDIAWARTA.COM, JAKARTA – Perguruan Tinggi Pariwisata di bawah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Badan …

Share This
Mediawarta