Kekayaan rumah tangga di Indonesia bertumbuh sebesar 6,4% pada 2016, mencapai USD 1,8 triliun

MEDIAWARTA.COM, Credit Suisse Research Institute (CSRI) hari ini menerbitkan Global Wealth Report tahunannya yang ketujuh (29/11/2016). Menurut publikasi ini, pertumbuhan kekayaan global secara keseluruhan tetap terbatas pada 2016, melanjutkan tren yang bermula pada 2013 dan berbanding tajam dengan tingkat pertumbuhan dua-digit yang tercatat sebelum krisis finansial global 2008. Dalam jangka menengah, diperkirakan hanya akan terjadi percepatan yang moderat.

Temuan-temuan utama mengenai Indonesia

  • Kekayaan rumah tangga di Indonesia bertumbuh sebesar 6,4% pada 2016, mencapai USD1,8 triliun. Bila ditilik dari mata uang domestik, krisis finansial global tidak berpengaruh besar pada kekayaan di Indonesia, yang sejak 2008 telah naik dengan laju tahunan rata-rata 5,9%. Kekayaan diproyeksikan meningkat sebesar 7,9% per tahun selama lima tahun berikutnya sehingga mencapai USD2,6 triliun pada 2021.
  • Kekayaan per orang dewasa dalam Rupiah juga telah meningkat enam kali lipat selama 2000-2016 (12,2% per tahun), sejalan dengan pertumbuhan kuat PDB per orang dewasa di Indonesia sebesar 12,3% antara tahun 2000 dan 2016.
  • Dari segi komposisi kekayaan, 88% aset bruto di Indonesia berupa aset riil, sedangkan utang pribadi tetap berada pada angka rendah 6%.
  • Di Indonesia, 84% dari jumlah penduduk orang dewasa memiliki kurang dari USD10.000 – di atas angka rata-rata dunia yaitu 74%.
  • Pada tingkat nilai kekayaan yang lebih tinggi, jumlah miliuner bertumbuh pesat sebesar 13% menjadi 112.000 orang dengan total kekayaan sebesar USD500 miliar. Jumlah individu dengan kekayaan bersih ultra tinggi (UHNW) juga bertambah signifikan sebanyak 25% menjadi 1.092 orang. Populasi miliuner diproyeksikan bertambah sebanyak 9,1% per tahun dan akan mencapai 173.000 di tahun 2021.

Jumlah kekayaan global di tahun 2016 meningkat tipis sebesar 1,4% atau sekitar USD3,5 triliun, dan mencapai total USD256 triliun. Peningkatan ini sejalan dengan kenaikan jumlah penduduk dewasa di dunia. Terkait hal tersebut, rata-rata kekayaan penduduk dewasa di dunia tidak berubah dari nilai awalnya sebesar USD52.800. Meskipun total kekayaan global meningkat 3% jika dihitung dengan nilai tukar yang konstan, tingkat pertumbuhan mengalami penurunan dalam

beberapa tahun terakhir. Laporan ini menggarisbawahi dampak dari pelemahan nilai tukar yang mengakibatkan turunnya jumlah kekayaan di berbagai daerah kecuali Asia Pasifik. Selain itu, turunnya harga ekuitas dan kapitalisasi pasar juga berujung pada rendahnya kenaikan kekayaan finansial di tingkat rumah tangga.

Dari perbandingan tiap negara, Jepang berhasil mencatat total kekayaan dengan jumlah pertumbuhan tertinggi sebanyak USD3,9 triliun menjadi USD24 triliun, diikuti oleh AS dengan tambahan USD1,7 triliun menjadi USD85 triliun. Inggris mengalami penurunan kekayaan yang signifikan sebanyak USD1,5 triliun disebabkan oleh pemungutan suara Brexit yang memicu anjloknya harga saham dan nilai tukar.

Tabel 1: Perubahan total kekayaan di tingkat rumah tangga di tiap kawasan pada pertengahan 2015–2016 (lihat laporan untuk tabel yang lebih lengkap)  

Kawasan Total kekayaan

2016

dalam USD miliar

Perubahan kekayaan USD miliar total dalam Persentase perubahan
Afrika 2.503 –132   –5,0
Asia Pasifik 79.955 3.415   4,5
Eropa 73.305 –1.300   –1,7
Amerika Latin 7.561 –322   –4,1
Amerika Utara 92.381 1.796   2,0
Seluruh dunia 255.708 3.455   1,4

Catatan: Dalam nilai dolar AS saat ini

Sumber: James Davies, Rodrigo Lluberas dan Anthony Shorrocks, Credit Suisse Global Wealth Databook 2016

Kekayaan Asia Pasifik naik 4,5%

Asia Pasifik pada tahun 2016 mencatatkan kenaikan kekayaan sebesar 4,5% atau USD3,4 triliun menjadi hampir USD80 triliun. Hal ini disebabkan oleh ekspansi Jepang yang mencapai 19% berkat penguatan nilai tukar terhadap USD. Namun, jika dihitung menggunakan mata uang yen, tingkat kekayaan Jepang tidak banyak berubah; hal ini mencerminkan perlambatan pertumbuhan mereka dalam lima tahun terakhir. Tiongkok dan India terkena dampak pelemahan nilai tukar sehingga tingkat kekayaan mereka turun 2,8% dan 0,8% masing-masing menjadi USD23 triliun dan USD3 triliun. Akan tetapi, jika dihitung menggunakan mata uang lokal, kekayaan Tiongkok dan India masingmasing justru meningkat sebesar 4,1% dan 5,1%. Dibandingkan dengan negara-negara lain yang memiliki ukuran perekonomian relatif besar, Australia cenderung tidak mengalami banyak perubahan tingkat kekayaan, hanya sebesar 0,2%. Demikian pula dengan Korea Selatan yang hanya naik sebesar 1%.

Rata-rata kekayaan Australia dan Singapura masuk 10 besar sedunia Nilai kekayaan per orang dewasa di Asia Pasifik meningkat 2,9%, tertinggi dibandingkan kawasan lain. Di tingkat global, Swiss tetap merupakan negara terkaya dalam hal kekayaan per orang dewasa dengan nilai USD562.000 di 2016, diikuti oleh Australia (USD376.000), sedangkan Singapura berada di urutan ketujuh (lihat tabel 2) di antara negara ekonomi maju. Dari segi nilai median kekayaan, negara dengan tingkat kesenjangan yang rendah terus mencatatkan nilai median yang tinggi per orang dewasa. Swiss dan Australia masih yang teratas di dunia dengan USD244.000 dan USD163.000. Sementara itu Jepang berada di urutan keenam di antara negara-negara Asia Pasifik dengan USD120.000, dan Singapura di peringkat sembilan dengan USD101.000.

Tabel 2: 10 besar negara ekonomi maju dengan rata-rata tingkat kekayaan per orang dewasa tertinggi pada pertengahan 2016 (dalam USD) 

Peringkat Negara Rata-rata kekayaan per orang dewasa

(dalam USD)

Perubahan pertengahan

2015

sejak tahun
1 Swiss 562.000 -4,5%  
2 Australia 376.000 -1,4%  
3 Amerika Serikat 345.000 0,9%  
4 Norwegia 312.000 -4,1%  
5 Selandia Baru 299.000 12,9%  
6 Inggris 289.000 -10,3%  
7 Singapura 277.000 1,4%  
8 Belgia 271.000 3%  
9 Kanada 270.000 0,8%  
10 Denmark 260.000 1,8%  

Sumber: James Davies, Rodrigo Lluberas dan Anthony Shorrocks, Credit Suisse Global Wealth Databook 2016

Credit Suisse Chief Investment Officer untuk Asia Pasifik John Woods menyampaikan, “Konsekuensi dari resesi 2008-2009 akan terus berdampak pada pertumbuhan, dan saat ini mengindikasikan stagnasi hingga jangka panjang. Kemunculan dunia yang multi-polar, sebagaimana ditegaskan oleh pemungutan suara Brexit di Inggris dan pemilihan presiden di AS, kemungkinan akan memperburuk tren tersebut, dan akan dapat berujung pada lumrahnya tingkat pertumbuhan kekayaan yang rendah.”

“Kawasan Asia Pasifik, yang mencakup beberapa negara maju dan berkembang terbesar dunia, kini menjadi wilayah dengan tingkat kekayaan nomor dua sedunia. Kawasan ini terus menunjukkan pertumbuhan total kekayaan yang stabil meski perlahan. Pertumbuhan terjadi lebih cepat di segmen atas dari piramida kekayaan, dan tampak juga tanda-tanda bahwa kelas menengah di beberapa negara bergerak naik ke atas piramida tersebut dengan amat cepat.”

Tema kunci yang dibahas di Global Wealth Report di antaranya adalah:

 Proyeksi tingkat kekayaan

  • Pertumbuhan kekayaan telah melambat tapi kami memperkirakan akan terjadi sedikit percepatan yang menyebabkan pertumbuhan kekayaan global naik sebesar 31%, atau 5,5% per tahun, menjadi USD334 triliun di tahun 2021.
  • Amerika Serikat akan terus menjadi penggerak pertumbuhan dengan total kekayaan mereka yang naik sebesar USD28 triliun menjadi USD112 triliun di tahun 2021, yang mana angka tersebut mewakili lebih dari sepertiga pertumbuhan global.
  • Kekayaan di Asia Pasifik kemungkinan akan naik 6,3% per tahun dan mencapai USD109 triliun di tahun 2021.
  • Kekayaan Tiongkok kemungkinan akan terus meningkat hingga lima tahun ke depan dengan pertumbuhan 55% atau 9,2% per tahun sampai mencapai USD36 triliun.
  • Negara berkembang kemungkinan akan melampaui negara maju dalam hal pertumbuhan kekayaan. Namun, angka tersebut hanya akan sedikit di bawah sepertiga bagian dari total angka pertumbuhan sepanjang lima tahun ke depan. Saat ini, negara-negara tersebut masih berkontribusi sebesar sekitar 18% terhadap total kekayaan rumah tangga global, meningkat dari tahun 2000 yang hanya 12%.
  • Tiongkok diperkirakan akan menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan yang diprediksikan di perekonomian berkembang, dan India akan menyumbang lebih dari 7%.

 Perkembangan jumlah miliuner, Asia Pasifik diperkirakan tumbuh paling pesat

  • Jumlah miliuner sedunia bertambah 1,8% menjadi 33 juta di tahun 2016. Angka ini diperkirakan akan terus bertambah 6,5% per tahun menjadi 45 juta di tahun 2021. Jumlah individu dengan kekayaan bersih ultra tinggi (yang memiliki lebih dari USD50 juta) meningkat 3,9% dan diperkirakan akan mencapai 208.000, dari 141.000 di tahun 2016, dengan percepatan 8,1% per tahun.
  • Di Asia Pasifik, jumlah miliuner akan bertambah lebih cepat sebanyak 10,3% menjadi 7,8 juta, dan akan naik sebanyak 7,8% per tahunnya dalam lima tahun ke depan menjadi 11,4 juta di tahun 2021.
  • Jumlah individu dengan kekayaan bersih ultra tinggi di Asia Pasifik naik 8,8% menjadi 32.000 di tahun 2016. Sebanyak 11.000 di antaranya berada di Tiongkok yang mencatatkan pertambahan 100 kali lipat sejak tahun 2000. Kawasan ini diperkirakan akan mengalami pertambahan sebanyak 17.000 individu dengan kekayaan bersih super tinggi dalam lima tahun ke depan, mencapai jumlah total 49.000 – sebanyak 39% dari jumlah tersebut akan berasal dari Tiongkok (saat ini 34%).

 Tabel 3: Jumlah miliuner per kawasan di tahun 2016 dan 2021

Kawasan Jumlah 2016 (ribuan) Jumlah 2021 (ribuan) Selisih
Afrika 136   196   44%
Asia Pasifik 7.814   11.401   46%
Eropa 9.804   13.007   33%
Amerika Latin 502   708   41%
Amerika Utara 14.678   19.747   35%

Sumber: James Davies, Rodrigo Lluberas dan Anthony Shorrocks, Credit Suisse Global Wealth Databook 2016, Credit Suisse Research

Piramida kekayaan

  • Pembahasan mengenai nilai kekayaan sering kali dititikberatkan pada segmen atasnya saja. Global Wealth Report memberikan gambaran yang lebih lengkap dan seimbang, dengan argumentasi bahwa lapisan bawah dan menengah dari piramida kekayaan juga menawarkan daya tarik tersendiri.
  • Salah satu alasannya adalah tingginya jumlah individu pada kedua lapisan tersebut, serta kekuatan politik mereka. Laporan ini memperkirakan terdapat 4,4 miliar individu – atau lebih dari 90% jumlah orang dewasa di dunia – dengan nilai kekayaan di bawah USD 100.000 pada tahun 2016. Jumlah keseluruhan kekayaan individu di lapisan tersebut mencapai USD 35 triliun dan dapat memberikan kesempatan usaha yang mumpuni. Namun, potensi tersebut masih kurang diperhitungkan. Upaya untuk mengakomodasi para pemilik aset ini akan menghadirkan tren baru dalam industri konsumsi dan finansial.
  • Tiongkok, Korea, dan Indonesia adalah contoh negara-negara yang penduduknya menanjak pesat di piramida kekayaan. Tiongkok kini menyumbang 33% dari jumlah orang dengan kekayaan antara

USD10.000 hingga USD100.000 – dua kali lipat dari 16% di tahun 2000.

  • Meski lapisan bawah dan menengah dari piramida ini penting, lapisan atas (dengan kekayaan lebih dari USD100.000) kemungkinan akan terus menjadi motor utama pergerakan aset dan tren investasi.

Komentar

Check Also

Terkait Temuan Obat Covid-19 JK : Yang Menentukan Layak Edar BPOM

MEDIAWARTA.COM, MAKASSAR – Ketua Umun Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla (JK) meminta agar semua …

Share This
Mediawarta