Isu COIL Jadi Bahasan Utama Profesor Politeknik Negeri Se-Indonesia

MEDIAWARTA.COM, MAKASSAR – Pertemuan para guru besar (GB) atau profesor Politeknik Negeri se-Indonesia pertama kali dilaksanakan secara on site (tatap muka langsung) setelah masa pandemi covid-19 berakhir. Kegiatan dipusatkan di kampus Politeknik Negeri Bali (PNB) 25-27 Juli 2022.

Salah satu isu utama yg dibahas ialah Program Collaborative Online International Learning (COIL). Program ini dipaparkan invited speakers Dr. Maria Anityasari (Dit. Kemitraan Global ITS), Ms. Camile Bourdais (Perwakilan Attase Prancis), dan Dr. I Ketut Budarma (Kaur Kerjasama PNB).

“Berbagai hal yang mendasari penting Program COIL ini di PT disampaikan oleh pemateri antara lain: kurangnya kemampuan berbahasa Inggris mahasiswa kita sehingga kemampuan international exposure mereka juga rendah. Program ini juga cukup efisien karena dapat melibatkan peserta dari berbagai PT dan berbagai negara dalam jumlah banyak pada suatu pertemuan.” Harap Maria Anityasari

Lebih lanjut Maria Anityasari menambahkan bahwa program ini juga akan meningkat interaksi sosial dan budaya yang sangat berbeda diantara para peserta.

Salah satu peserta Prof Muhammad Suradi dari PNUP meminta konfirmasi tentang pengalaman Dr. Maria Anityasari dalam menerapkan Program COIL (Connecting Classroom di ITS) selama ini.

“Perlu dipetakan bidang ilmu apa saja yang disajikan, hambatan yang ditemui, dan dampak positif dalam penerapan program tersebut.” Harap dosen sipil ini.

Direktur PNUP, Prof. Muhammad Anshar yang ikut serta dalam pertemuan juga mendukung pentingnya penggunaan bahasa Inggris dalam PBM kita seperti dicontohkan saat awal Politeknik didirikan yang banyak menggunakan bahan ajar course note.

“Hal ini mendorong dosen dan mahasiswa memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang lebih baik saat itu”. Ucap profesor energi terbarukan ini

Prof. Kasni Sumeru dari Polban juga menyoroti metode pembelajaran Bahasa Inggris yang keliru selama ini. Mahasiswa kita telah mengikuti proses belajar Bahasa Inggris yang panjang sejak SLTP hingga PT tetapi kemampuannya tetap saja minim. Peserta didik kita lebih banyak diberikan teori-teori structure dan vocabulary tetapi kurang dalam praktek speaking yang diistilahkan speak up/speako (berbicara saja meskipun tata bahasanya kurang tepat asalkan dimengerti).

“Mereka terlalu dituntut untuk berbahasa Inggris yang benar justru menjadi hambatan besar dalam pembelajaran menggunakan bahasa tersebut.” Harapnya penuh semangat

Dari berbagai pernyataan di atas, Dr. Maria menanggapi berdasarkan pengalamannya bahwa hampir semua bidang ilmu dapat diberikan dalam PBM melalui Program COIL. Salah satu hambatan besarnya ialah budaya malu dari peserta yang cenderung menyulitkan interaksi dengan dan/atau diantara para peserta dalam pelaksanaan program tsb. Hasil testimoni dari peserta program ini juga menunjukkan bahwa mereka mendapatkan nilai plus saat diketahui pernah mengikuti Program COIL pada wawancara rekruitmen staf. Ia juga kembali menekankan pentingnya penggunaan bahasa inggris dalam PBM guna meningkatkan international exposure dan daya saing global peserta didik/lulusan kita.

Pada pertemuan ini juga disajikan pengembangan SDM PT Vokasi yang dibawakan oleh Pak Jimmy (Dit. Kelembagaan dan Sumber Daya PT. Vokasi), Dr. Rachmad Imbang Tritjahjono (Direktur Polban), dan Prof. Totok Prasetyo (Direktur Polines sekaligus mewakili FPDNI).

Pada sesi ini, beberapa poin penting yang digarisbawahi antara lain: Peraturan Kepegawaian khususnya Karier Dosen terbagi 3 kelompok yakni yang punya NIDN, NIDK, dan NIUP, perlunya transformasi penyelenggaraan PT. Vokasi menjadi lebih fleksibel, perlunya definisi yang jelas tentang PT. Vokasi agar kita memiliki prrsepsi yang sama dalam pengembangannya, serta keberlanjutan pengembangan PT. Vokasi supaya terus bertumbuh menjadi lebih baik.

Terakhir Prof. Adrianus Amheka (dari Politeknik Negeri Kupang sekaligus Ketua ISAS) mengharapkan perlunya ada Dewan Guru Besar Ilmu Terapan/Politeknik se-Indonesia yang didukung oleh seluruh guru besar yang hadir dalam pertemuan tsb.

“Pembentukan Dewan GB ini diharapkan untuk mendukung perannya dalam peningkatan kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya di lingkungan PT. Vokasi agar dapat menghasilkan keunggulan dan daya saing global dalam pengembangan bidang iptek terapan.” Harapnya disela pertemuan