MEDIAWARTA,-Dalam rangka meningkatkan pemahaman dan kesadaran tentang peran penting Apoteker dalam pelaporan Farmakovigilans, Kepala BBPOM di Makassar Yosef Dwi Irwan hadir langsung dalam kegiatan Seminar dan Konferensi PA’BURA (Pertemuan Apoteker rumah sakit Bina silatUrrahmi, Responsif dan Adaptif) pada Rabu, 22 April 2026. Kegiatan yang diselenggarakan oleh HISFARSI (Himpunan Seminat Farmasi Rumah Sakit Indonesia) Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (PD IAI) Sulawesi Selatan dihadiri sekitar 300 Apoteker se Sulawesi Selatan.
Yosef menyampaikan bahwa sejarah yang mengawali Farmakovilans adalah tragedi Thalidomide antara tahun 1950 s/d 1960an, yaitu terjadinya kecacatan janin (teratogenik) pada lebih dari 10.000 bayi di 42 negara, yang disebut “phocomelia” (bayi lahir dengan lengan atau kaki yang sangat pendek, tidak terbentuk sempurna, atau tidak ada sama sekali) akibat mengkonsumsi Thalidomide. Obat yang awalnya diindikasikan sebagai obat penenang atau efek sedatif tapi kemudian digunakan untuk berbagai kondisi lain seperti pilek, mual flu, dan utamanya menjadi pilihan mengatasi mual di pagi hari (morning sickness) pada wanita hamil.
“Pelajaran yang dapat kita ambil dari tragedi Thalidomide adalah senantiasa ada risiko yang tidak terdeteksi ketika produk obat disetujui untuk dipasarkan” ungkap Yosef
“Mengapa hal ini terjadi? Bisa jadi obat ini tidak pernah diujikan pada wanita hamil atau durasi uji klinik yang tidak cukup panjang. Dapatkah tragedy ini terjadi lagi pada produk obat lain, Ya, bisa saja terjadi jika tidak ada aktivitas pemantauan yang tepat terhadap keamanan obat” lanjut Yosef
Yosef menyampaikan bahwa pelaporan Efek Samping Obat (ESO) atau Kejadian Tidak Diinginkan (KTD) saat ini memang mandatory bagi industri / produsen, sedangkan bagi tenaga kesehatan masih bersifat voluntary. Namun sebagai ujung tombak pelayanan Apoteker sebagai bagian dari tenaga kesehatan memegang peran penting dan krusial dalam Farmakovilans untuk mewujudkan keamanan dan keselamatan pasien (patient safety)
“Lima menit yang rekan-rekan gunakan untuk melakukan pelaporan dapat menyelamatkan ribuan nyawa. Melalui kolaborasi dan komitmen yang berkesinambungan serta peran aktif seluruh pihak, diharapkan akan memperkuat sistem farmakovigilans yang andal dan responsif. Setiap langkah kecil yang kita lakukan hari ini akan berdampak besar bagi kesehatan bangsa di masa depan” ungkapnya
Yosef menegaskan bahwa tenaga kesehatan semua baik dokter, apoteker, bidan, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya memegang peranan penting, merupakan key player dalam keberhasilan program Farmakovilans.
“Saya sangat berharap kedepannya rekan-rekan semua dapat mendukung Farmakovilans dengan aktif melaporkan setiap kejadian ESO / KTD yang ditemukan dalam praktik sehari-hari” lanjutnya
“Tentu ini juga merupakan bagian tugas dan tanggung jawab kita bersama sebagai suatu bangsa dalam mengawal keamanan, mutu dan khasiat dari obat yang beredar di Indonesia” pungkasnya

Comment