MEDIAWARTA,-Ada istilah menarik yang berkembang dari bincang subuh dengan jamaah masjid, “positive illusion” (ilusi positif). Kita paham bahwa ilusi itu adalah hayalan, pikiran yang tidak nyata. Jadi apa yang dihayalkan adalah sesuatu yang baik atau positif.
Positive illusion mungkin berbeda dengan positive thinking, yang memikirkan sisi positif dari sesuatu kejadian. Sementara postive illusion memikirkan sisi positif sesuatu yang sama sekali tidak terjadi. Meyakini sisi positif sesuatu yang bertentangan dengan realitas yang sebenarnya.
Apa yang menarik dari teman jamaah yang mencetuskan istilah ini dalam diskusi itu. Ternyata positive illusion sangat bermanfaat untuk mempertahankan keutuhan diri dan menjaga kebersamaan kekompok. Saya mencoba membedah istilah ini dalam perspektif psiko-sosial.
Seseorang yang suka memelihara positive illusion cenderung percaya diri, tidak gampang merasa rendah diri. Karena dia membayangkan dirinya memiliki kelebihan yang bisa dimanfaatkan dalam interaksi sosialnya. Dia bisa memanfaatkannya untuk bekerja atau berjuang keras karena dia membayangkan dirinya menjadi orang kaya, dihormati, atau terfasilitasi.
Postive illusion juga bisa membantu bertahannya keberadaan seseorang dalam sebuah kelompok. Ia membayangkan dirinya dibutuhkan dalam kelompok tersebut. Ia melihat dirinya sebagai salah satu orang berjasa pada kelompok tersebut. Dia membayangkan tanpa kehadirannyan organisasi itu tidak akan mungkin berkembang.
Ilusi inilah yang membuat dia merasa nyaman pada kelompok itu. Dia lesuh tanpa berkumpul dengan mereka. Semua yang dia pikirkan itu sesuatu yang sama sekali tidak terjadi dalam realitas kehidupan kelompok tersebut.
Yang paling menarik, adalah pernyataan anggota jamaah ini bahwa sebenarnya keutuhan kehidupan berkeluarga itu sebagian besarnya karena dukungan positi ve illusion dari masing-masing pasangan. Isteri selalu meyakini bahwa suaminya yang paling bermakna dalam hidupnya. Suaminya sangat bertanggung jawab. Suaminya tipe memahami dan sangat pemaaf. Suaminya pendengar yang baik. Pencari nafkah yang andal.
Pada aspek fisik, isterinya meyakini suaminya adalah orang terganteng se-kompleks atau se-RT. Ia memiliki bodi yang “sixpack”, rambut yang lebat hitam berombak. Giginya tersusun rapi saat senyumnya merekah. Padahal itu hanya ilusi yang dipertahankan dan sama sekali sudah berlalu.
Demikian pula suami, dia tetap “bucin” pada isterinya, dan selalu mesra pada puluhan tahun kebersamaannya. Yang dibayangkan adalah masa muda pasangannya yang selalu didaur ulang dalam hayalannya. Positive illusion inilah yang membuat mengapa ada yang terjebak pada cerita nostalgia yang tak berujung. Mengaku saja-lah!

Comment