Perkuat Ketahanan Pangan Regional, Pupuk Indonesia Pimpin Pembentukan Asosiasi Produsen Pupuk Asia Tenggara 

MEDIAWARTA,-PT Pupuk Indonesia (Persero) bersama Petronas Chemicals Group Berhad dan Brunei Fertilizer Industries resmi membentuk asosiasi produsen pupuk Asia Tenggara atau Southeast Asia Fertilizer Association (SEAFA). Asosiasi yang resmi dideklarasikan dalam rangkaian Argus Fertilizer Asia Conference pada Rabu (1/4), bertujuan mendorong kerja sama antar produsen pupuk di ASEAN untuk menjaga ketahanan pangan kawasan, sekaligus memperkuat peran industri pupuk Asia Tenggara di tingkat global.

Kolaborasi ini diharapkan memberikan dampak positif bagi penguatan industri pupuk nasional. Melalui kerja sama regional, Indonesia berpeluang memperluas akses terhadap pengembangan teknologi industri, peningkatan kapasitas produksi, serta penguatan rantai pasok pupuk yang lebih tangguh di tengah dinamika pasar global. Hal ini pada akhirnya diharapkan dapat mendukung upaya menjaga ketersediaan pupuk bagi sektor pertanian nasional sekaligus meningkatkan daya saing industri pupuk Indonesia di tingkat regional dan global.

“Apa yang kita saksikan hari ini bukan sekadar seremoni penandatanganan, melainkan sebuah langkah menuju pertumbuhan dan kemajuan jangka panjang bagi kawasan. Pembentukan SEAFA berangkat dari pemahaman sederhana bahwa tantangan dalam lanskap pertanian dan ketahanan pangan regional semakin kompleks. Menghadapi tantangan tersebut membutuhkan informasi yang lebih baik, kesadaran yang lebih tinggi serta rasa tanggung jawab bersama dari kita semua,” kata Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi.

Rahmad juga mengatakan bahwa pembentukan SEAFA merupakan langkah penting bagi industri pupuk regional dalam merespons tantangan global, khususnya terkait meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Menurut dia, kolaborasi ini dapat memperkuat sinergi industri regional dalam memastikan ketersediaan pasokan guna mendukung ketahanan pangan regional.

“Seiring dinamika global yang terus berkembang, ditandai oleh rantai pasok yang volatil dan pergeseran kebutuhan energi yang berdampak pada sektor pertanian, penting bagi kita untuk terus bergerak adaptif. Hal ini penting untuk menjaga kelincahan, sekaligus memastikan setiap langkah tetap berpijak pada prinsip yang kita pegang,” kata Rahmad.

Pada tahap awal, SEAFA didirikan oleh tiga produsen pupuk di Asia Tenggara, yaitu Pupuk Indonesia dari Indonesia, Petronas Chemicals Group dari Malaysia, dan Brunei Fertilizer Industries dari Brunei Darussalam. Dalam kesepakatan tersebut, para anggota menyetujui bahwa Brunei Darussalam akan menjadi lokasi kantor sekretariat utama asosiasi. Sementara dari sisi struktur organisasi, Pupuk Indonesia ditunjuk sebagai Chairman pertama SEAFA, dengan Petronas Chemicals Group sebagai Co-Chairman. Posisi ketua asosiasi selanjutnya akan dipilih secara bergilir dengan masa jabatan selama satu tahun.

Ke depan, SEAFA diharapkan dapat berkembang menjadi platform kolaborasi strategis bagi industri pupuk di kawasan, termasuk sebagai wadah berbagi pengetahuan dan inovasi dalam praktik produksi berkelanjutan, pengembangan teknologi rendah karbon, serta digitalisasi rantai pasok pupuk.

Organisasi ini juga diharapkan menjadi representasi bersama industri pupuk Asia Tenggara dalam berbagai forum regional dan internasional yang berkaitan dengan ketahanan pangan, industri berkelanjutan, serta agenda perubahan iklim.

Dalam jangka panjang, SEAFA juga terbuka untuk memperluas kolaborasi dengan lebih banyak produsen pupuk dari negara-negara ASEAN lainnya. Dengan demikian, asosiasi ini diharapkan dapat memperkuat sinergi industri pupuk kawasan sekaligus meningkatkan kontribusi ASEAN dalam menjaga stabilitas pasokan pupuk dan ketahanan pangan global.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono juga menegaskan bahwa kolaborasi antar negara menjadi kunci dalam menjaga ketahanan pangan, terutama di tengah dinamika geopolitik global. Kerja sama tersebut perlu dibangun secara berkelanjutan, termasuk melalui forum internasional yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan termasuk negara-negara sahabat.

“Kita ingin relasi ini kita bangun dengan baik, bukan hanya kebutuhan sesaat. Pupuk ini bukan hanya urusan industri pupuk, tetapi juga berkaitan dengan ketahanan pangan. Sehingga, kita tidak bisa (berjalan) sendiri-sendiri, kita harus kolaborasi (antar negara),” kata dia.

Comment