MEDIAWARTA,-Universitas Muslim Indonesia (UMI) kembali menunjukkan komitmen kemanusiaannya dengan hadir langsung di tengah masyarakat terdampak banjir dan longsor di Kelurahan Aek Manis, Kecamatan Sibolga Selatan, Kota Sibolga, Provinsi Sumatera Utara. Melalui Tim Relawan Bantuan Medis UMI Fakultas Kedokteran, UMI berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Kota Sibolga menyalurkan bantuan susu gizi SGM bagi balita, ibu hamil, dan lanjut usia sebagai kelompok paling rentan pascabencana.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari koordinasi intensif antara Tim Relawan Bantuan Medis UMI, Wali Kota Sibolga, dan Dinas Kesehatan Kota Sibolga, sebagai respons atas kebutuhan mendesak warga pascabencana banjir dan longsor. Fokus utama kolaborasi lintas sektor ini adalah pemenuhan gizi dan perlindungan kesehatan keluarga, khususnya di wilayah yang aksesnya masih terbatas akibat material longsor.
Dari posko relawan yang berpusat di SD Inpres Aek Manis, tim relawan UMI bersama petugas Dinas Kesehatan berjalan kaki menuju titik-titik permukiman warga terdampak, termasuk salah satu rumah warga di Jalan Murai, Kelurahan Aek Manis, yang dijadikan lokasi distribusi bantuan. Akses jalan yang rusak dan tertutup longsor tidak menyurutkan langkah relawan untuk menjangkau langsung masyarakat yang membutuhkan.
Bantuan susu gizi SGM disalurkan secara langsung kepada balita, ibu hamil, dan lansia, sebagai upaya menjaga status gizi dan daya tahan tubuh masyarakat di tengah keterbatasan pascabencana. Warga mengakui bantuan ini sangat berarti, mengingat stok susu dan kebutuhan pokok di supermarket maupun minimarket setempat kosong akibat penjarahan dan gangguan distribusi.
Salah seorang warga Aek Manis, Nurhayati (34), ibu dari dua balita, mengungkapkan rasa syukurnya.
“Kami sangat terbantu. Anak-anak butuh susu, sementara di toko sudah tidak ada. Kehadiran tim medis UMI ini benar-benar menolong kami,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Dokter Tim Relawan Bantuan Medis UMI, dr. Berry, menegaskan bahwa pemenuhan gizi merupakan kebutuhan mendesak setelah fase darurat bencana.
“Dalam kondisi pascabencana seperti ini, pemenuhan gizi menjadi sangat krusial. Melalui bantuan susu ini, kami ingin memastikan balita, ibu hamil, dan lansia tetap mendapatkan asupan yang layak agar tidak muncul masalah kesehatan lanjutan,” jelasnya.
Ia menambahkan, “UMI tidak hanya hadir untuk menyalurkan bantuan, tetapi memastikan kelompok rentan mendapatkan perhatian yang memadai dan berkelanjutan.”tuturnya
Kegiatan ini melengkapi rangkaian aksi kemanusiaan UMI sebelumnya, yang diawali dengan pendirian posko kesehatan pertama di wilayah terisolasi Aek Manis, pelayanan medis langsung kepada warga, serta penyaluran obat-obatan ke fasilitas kesehatan setempat. Rilis hari ini menegaskan fase lanjutan, yakni penguatan aspek gizi keluarga dan kolaborasi sistem kesehatan daerah, menunjukkan bahwa kehadiran UMI bukan bersifat insidental, tetapi berkesinambungan dan terencana.
Melalui sinergi dengan pemerintah daerah dan pendekatan langsung ke masyarakat, UMI kembali menegaskan jati dirinya sebagai kampus kemanusiaan yang responsif, konsisten, dan hadir nyata dalam setiap fase penanganan bencana—dari respons awal, pelayanan medis, hingga pemulihan kesehatan keluarga pascabencana.

Comment