FIN Expo 2026 Dorong Masyarakat Sulsel Makin Cerdas Kelola Keuangan

Foto : Masyudi Firmansyah/Mediawarta,

MEDIAWARTA, MAKASSAR – Memiliki akses terhadap layanan keuangan kini semakin mudah. Namun, kemudahan tersebut belum tentu berjalan beriringan dengan pemahaman masyarakat dalam memilih dan menggunakan produk keuangan.

Persoalan inilah yang coba dijawab melalui Financial Expo (FIN Expo) 2026 yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) Sulawesi Selatan di Atrium Mall Trans Studio Makassar, 2–4 Oktober 2026.

Mengangkat tema “Akses Keuangan Merata, Ekonomi Berdaya, Masyarakat Sejahtera”, FIN Expo tahun ini hadir dengan konsep yang lebih dari sekadar pameran. Masyarakat tidak hanya diajak mengenal produk jasa keuangan, tetapi juga memperoleh edukasi, konsultasi, hingga kesempatan berinteraksi langsung dengan industri keuangan.

Kepala OJK Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch Muchlasin, mengatakan tantangan terbesar saat ini bukan hanya memperluas akses, tetapi memastikan masyarakat memahami layanan keuangan yang mereka gunakan.

Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 menunjukkan tingkat inklusi keuangan di Sulawesi Selatan telah berada di kisaran 94 persen. Angka tersebut menunjukkan sebagian besar masyarakat sudah memiliki akses terhadap layanan keuangan.Namun, tingkat literasi keuangan Sulsel masih sekitar 61 persen.

Kondisi tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan yang cukup besar antara masyarakat yang telah menggunakan layanan keuangan dengan mereka yang memiliki pemahaman memadai mengenai produk tersebut.

“Artinya, ada masyarakat yang sudah menggunakan jasa keuangan, tetapi belum memahami produk yang digunakan,” ujar Muchlasin dalam pembukaan FIN Expo 2026 di Atrium TSM Makassar, Sabtu (3/10/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama. Sebab, keputusan menggunakan produk keuangan tanpa pemahaman yang cukup dapat membuat masyarakat kurang mampu menilai manfaat, risiko, biaya, maupun kesesuaian produk dengan kemampuan finansialnya.

Karena itu, edukasi menjadi bagian penting dalam memperkuat inklusi keuangan.

Dari Edukasi hingga Pembiayaan

OJK Sulsel bersama berbagai pemangku kepentingan terus memperluas kegiatan edukasi keuangan. Hingga triwulan II 2026, sebanyak 198 kegiatan literasi keuangan telah dilaksanakan dengan total jangkauan sekitar 2,24 juta peserta.

Sasarannya pun semakin luas. Edukasi dilakukan kepada pelajar, mahasiswa, ASN, perempuan, nelayan, petani, pelaku UMKM, penyandang disabilitas hingga masyarakat desa.

Di FIN Expo 2026, pendekatan tersebut diterjemahkan melalui kehadiran 28 booth dari berbagai pelaku industri jasa keuangan, termasuk OJK, Bank Indonesia, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Masyarakat dapat datang bukan hanya untuk melihat produk, tetapi juga bertanya dan berkonsultasi secara langsung mengenai layanan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Pada saat yang sama, akses pembiayaan juga terus diperluas. Program Kampung Siaga Rentenir atau Pinisi telah menyalurkan pembiayaan sekitar Rp1,8 triliun melalui lebih dari 34 ribu rekening.

Pembiayaan tersebut antara lain diarahkan untuk sektor produktif seperti perikanan, perkebunan, dan kehutanan.

Penguatan UMKM juga dilakukan melalui pembentukan klaster bisnis. Hingga saat ini, lebih dari 1.600 klaster telah terbentuk dengan melibatkan lebih dari 22 ribu debitur.

“Ini merupakan proses yang terus kita bangun. Harapannya, pelaku UMKM semakin kuat dalam ekosistem keuangan dan memiliki akses pasar maupun pembiayaan yang lebih baik,” kata Muchlasin.

Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Fatmawati Rusdi, mengatakan penguatan literasi dan inklusi keuangan memiliki kaitan erat dengan upaya mendorong ekonomi kerakyatan.

Apalagi, ekonomi Sulawesi Selatan pada kuartal II 2026 tumbuh 5,59 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.

Pertumbuhan tersebut, kata dia, perlu diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Salah satu caranya dengan memastikan masyarakat, terutama pelaku UMKM, memperoleh akses pembiayaan yang mudah, aman, dan produktif.

“Literasi dan inklusi keuangan menjadi peran yang sangat vital dalam mendorong akselerasi ekonomi kerakyatan melalui penyediaan akses keuangan yang mudah dan aman, khususnya bagi para pelaku UMKM,” ujar Fatmawati.

Ia juga menekankan pentingnya kehati-hatian masyarakat dalam memilih produk keuangan.

Kemudahan akses, menurutnya, harus selalu diikuti dengan pemahaman. Masyarakat perlu memastikan produk yang digunakan legal, aman, dan benar-benar sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan.

Di sisi lain, industri jasa keuangan didorong untuk tidak berhenti berinovasi. Perluasan layanan hingga pelosok daerah menjadi penting agar masyarakat di luar pusat perkotaan juga dapat merasakan manfaat perkembangan sektor keuangan.

Bidik 25 Ribu Pengunjung

Ketua Panitia FIN Expo 2026 sekaligus RCEO BRI Region 15 Makassar, Riza Pahlevi, mengatakan FIN Expo menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara industri jasa keuangan dan masyarakat.

Menurutnya, interaksi secara langsung dapat membantu masyarakat memahami produk keuangan dengan lebih baik.

“Booth-booth ini tidak hanya menjadi tempat untuk memperkenalkan produk dan layanan, tetapi juga menjadi wadah interaksi, edukasi, konsultasi, dan komunikasi antara industri jasa keuangan dengan masyarakat,” katanya.

Selama tiga hari pelaksanaan, FIN Expo 2026 ditargetkan menarik sekitar 25 ribu pengunjung.

Tak hanya mengejar jumlah pengunjung, penyelenggara juga berharap kegiatan ini mampu mendorong transaksi dan aktivitas ekonomi masyarakat. Pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, nilai transaksi tercatat sekitar Rp5,5 miliar dan tahun ini ditargetkan meningkat.

Lebih jauh, FIN Expo 2026 membawa pesan bahwa inklusi keuangan tidak cukup hanya dengan membuat masyarakat “terhubung” dengan layanan keuangan.

Masyarakat juga harus “tercerahkan” agar mampu memilih, menggunakan, dan memanfaatkan layanan tersebut secara tepat.

Sebab, akses keuangan yang luas baru akan benar-benar berarti ketika dibarengi literasi yang kuat,sehingga layanan keuangan menjadi alat untuk meningkatkan kesejahteraan, bukan justru menjadi sumber persoalan baru.

Comment