Foto: Istimewa

Guruji

“Ari… lepaskan saya seperti saya melepaskan kamu. Hanya dengan begitu kamu tidak pernah kehilangan saya. Kamu tidak pernah kehilangan apapun,” ucapnya setengah membisik.

“Aku cuma ingin tahu, mana Ari? Apa kabar dia? Kemana saja selama ini?” balasku, tersengal. Isak itu mulai menyusul hadir. Tangisku melengkap.

“Bahkan sedetik yang lalu pun kita bukan manusia yang sama,” jawabnya, tapi mata itu menatap ruang kosong di balik punggungku.

Kami terdiam. Lama. Hanya isakanku dan embusan napas panjang teraturnya yang menghidupkan ruangan itu. Perlahan kusadari sesuatu, inilah perpisahan yang kucari. Utang karma kami yang belum lunas. Hantu yang mengejar-ngejarku setahun lebih. Aku hanya ingin mengucap selamat tinggal kepada belahan jiwaku yang telah menemukan keutuhannya dalam dirinya sendiri. Aku dan rumahku adalah persinggahan yang harus ia tempuh, tapi bukan untuk ia miliki.

Kakiku pun bergeser, beringsut hendak meninggalkannya. Misteri ini kuanggap usai. Tak ada lagi detektif pengintai. Kamu bebas, Ari, Guruji, siapapun namamu. Kamu bebas.

Namun tangan halus itu tiba-tiba menahanku.

“Kamu punya lima menit untuk melakukan apapun yang kamu mau,” ia berkata.

Aku terenyak. Air muka itu… sorot matanya… seperti air bah yang menelanku tiba-tiba. Ari yang kucari ternyata masih ada. Berlindung di balik topeng Guruji. Atau justru Ari-kah topeng yang barusan dikenakannya lagi agar urusan kami tuntas?

Rinduku yang sudah mengerontang bagai Sahara tahu-tahu dibalas dengan limpahan air Niagara. Aku betulan tidak siap. Tubuhku terkunci.

“Apapun… kamu bisa melakukan apapun….” bisiknya lagi.

Seketika tanganku melayang, mengambil sebuah bantal yang terhampar mengelilingi kami, dan aku mulai memukulinya. Bertubi-tubi. Ari tersungkur, tak melawan, tak melindungi diri. Tanganku terus melayang memukulkan bantal, sekuat tenaga, sekuat segala perasaan yang tersisa, sekuat hantunya yang bercokol di rumah serta hatiku dan sekarang kuusir pergi.

Tangan kiriku menyambar satu lagi bantal dan kupuli dia dengan kedua tangan. Habis-habisan. Ia terlentang tak berdaya di lantai kayu beralas tikar, pasrah menerima setiap pukulanku. Dan terus kuhujani dia tanpa jeda, tanpa ampun, hingga lenganku tiba-tiba berhenti. Tubuhku mengisyaratkan cukup.

Terengah dan tersengal aku bangkit berdiri. Ari perlahan juga bangkit, merapikan kemeja linennya yang kusut bukan kepalang, dan ia mulai kembali bersila dengan posisi lotus. Pipinya basah. Beberapa butir air mata masih tersembul dari pelupuknya. Badannya gemetar.

“Guruji,” aku menunduk dan memberikan salam namaste.

Ia membalas dengan gerakan serupa. Lalu tangannya membentang, menunjuk pintu, menyilakanku keluar.

Pintu membuka. Kulewati mereka yang kini menatapku dengan lebih takjub lagi. Mataku yang merah sisa menangis, rambutku yang acak-acakan, bajuku kusut masai, tapi ada ketenangan yang tak tertandingi siapa pun sore itu. Tak juga Guruji.

Semua ini hanya topeng yang dipakai dan ditanggalkan kapan saja kita mau. Kumusnahkan kedok kami barusan. Kuhancurkan hingga berkeping-keping. Ari dan Ari dan Guruji. Dan kini aku kembali menjadi aku, siapapun itu, aku tak tahu. Aku hidup. Aku utuh. Itu saja.

Biodata Penulis:

Dewi Lestari, lengkapnya Dewi Lestari Simangunsong, lahir di Bandung, 20 Januari 1976. Sebelum Supernova keluar, tak banyak orang yang tahu kalau penulis yang akrab disapa Dee ini telah sering menulis. Tulisannya sudah tak terbilang diterbitkan berbagai media nasional. Salah satu cerpennya berjudul ‘Sikat Gigi’ pernah dimuat di buletin seni terbitan Bandung, Jendela Newsletter, sebuah media berbasis budaya yang independen untuk kalangan sendiri. Pada 1993, ia mengirim tulisan berjudul “Ekspresi” ke majalah Gadis yang saat itu sedang mengadakan lomba menulis. Ia berhasil mendapat hadiah juara pertama. Tiga tahun berikutnya, ia menulis cerita bersambung berjudul “Rico the Coro” yang dimuat di majalah Mode. Bahkan ketika masih menjadi siswa SMA 2 Bandung, ia pernah menulis sendiri 15 karangan untuk buletin sekolah. Saat ini, Dewi Lestari merupakan salah satu sastrawan terkemuka yang dimiliki Indonesia. Novelnya, Supernova juga merupakan salah satu karya paling fenomenal yang pernah ada di Tanah Air.

Komentar

Check Also

Ornamen Musim Salju

Ornamen Musim Salju Oleh Ryana Mustamin MEDIAWARTA.COM – Menjelang musim semi, gurat matahari masih kerap …

Share This
Mediawarta