Oleh: Dr. Teguh Santosa, Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Maroko
MEDIAWARTA, MAROKO – Setiap 20 Agustus, Maroko seakan berhenti sejenak untuk mengenang sebuah peristiwa yang bagi rakyatnya memiliki makna jauh lebih dalam daripada sekadar hari nasional. Peristiwa itu dikenal sebagai Thawrat al-Malik wa al-Sya’b, atau Revolusi Raja dan Rakyat.
Saya merayakan momentum tersebut bersama Duta Besar Kerajaan Maroko untuk Indonesia, Redouane Houssaini, di kediamannya di Taman Mataram, Jakarta, Kamis, 20 Agustus 2026. Di sela kopi pagi dan kudapan khas Maroko, kami berbicara tentang sejarah, perjuangan, dan bagaimana semangat revolusi itu menemukan bentuk baru dalam pembangunan negeri.
Kisah tersebut bermula pada 20 Agustus 1953. Pemerintah kolonial Prancis mengambil keputusan untuk mengasingkan Sultan Mohammed V bersama keluarganya. Sang Sultan mula-mula dibuang ke Korsika sebelum kemudian dipindahkan ke Madagaskar. Bagi Prancis, menyingkirkan pemimpin berarti memutus pusat perlawanan rakyat Maroko.
Perhitungan itu ternyata keliru.
Pengasingan Sultan Mohammed V justru menyulut perlawanan yang lebih besar. Dari Casablanca hingga Fez, rakyat bergerak. Aksi mogok, sabotase, perlawanan bersenjata, hingga kemunculan kelompok pembebasan menunjukkan bahwa rakyat Maroko tidak menerima keputusan kolonial tersebut.
Pesannya sederhana: mereka menginginkan kemerdekaan sekaligus kembalinya pemimpin mereka.
Tekanan perjuangan rakyat akhirnya membuat Prancis mengubah sikap. Pada 16 November 1955, Sultan Mohammed V kembali ke Maroko dan disambut sebagai pahlawan. Dalam pidatonya, ia menyampaikan kalimat yang kemudian dikenang sepanjang generasi: perjuangan merebut kemerdekaan merupakan jihad kecil, sementara perjuangan berikutnya adalah jihad besar untuk membangun bangsa dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Beberapa bulan kemudian, pada Maret 1956, Maroko memperoleh kemerdekaannya.
Bandung dan Benang Merah Indonesia-Maroko
Bagi Indonesia, kisah perjuangan Maroko bukan sesuatu yang asing. Kita memiliki pengalaman sejarah yang hampir serupa: kemerdekaan yang diperjuangkan dengan pengorbanan, diplomasi, dan keberanian menentang kolonialisme.
Pada Konferensi Asia Afrika di Bandung 1955, Presiden Soekarno menyuarakan penolakan terhadap kolonialisme yang masih mencengkeram sejumlah bangsa di Asia dan Afrika.
Delegasi Maroko hadir dalam perhelatan bersejarah tersebut. Bandung menjadi salah satu ruang penting bagi negara-negara yang sedang memperjuangkan kemerdekaan untuk saling menguatkan.
Karena itu, hubungan Indonesia dan Maroko sesungguhnya tidak lahir semata-mata dari kepentingan diplomatik modern. Ada pengalaman sejarah yang mempertemukan kedua bangsa.
Ada memori perjuangan yang sama.
Dan ada semangat anti-kolonialisme yang menjadi bagian dari identitas hubungan kedua negara.
Dari Perlawanan Menuju Pembangunan
Namun, sejarah tidak boleh berhenti sebagai kenangan.
Di bawah kepemimpinan Raja Mohammed VI, semangat perjuangan tersebut menemukan bentuk baru. Perlawanan terhadap kolonialisme tidak lagi dilakukan melalui perjuangan bersenjata, melainkan melalui pembangunan, industrialisasi, konektivitas, pengembangan energi, dan penguatan ekonomi.
Saya telah beberapa kali mengunjungi Maroko. Perjalanan itu membawa saya tidak hanya ke Casablanca, Rabat, atau Fez, tetapi juga jauh ke wilayah selatan, termasuk Laayoune dan Dakhla.
Di kawasan Sahara Maroko, saya melihat sesuatu yang mungkin berbeda dari gambaran banyak orang tentang wilayah gurun.
Pelabuhan dikembangkan. Infrastruktur dibangun. Jalan-jalan diperbaiki. Aktivitas ekonomi tumbuh. Anak-anak muda berbicara tentang masa depan dengan optimisme.
Di sana saya melihat bahwa pembangunan juga dapat menjadi bentuk lain dari perjuangan kebangsaan.
Dari berbagai percakapan dengan akademisi, wartawan, pejabat, hingga masyarakat biasa, saya menangkap satu hal yang kuat: adanya kebanggaan terhadap negara dan keterikatan yang mendalam kepada monarki.
Bagi mereka, sejarah 1953 bukan sekadar cerita di buku pelajaran. Ia menjadi memori kolektif tentang bagaimana rakyat dan kerajaan menghadapi kolonialisme.
Sahara dan Makna Integritas Wilayah
Salah satu isu yang sangat kuat dalam kehidupan politik Maroko adalah persoalan Sahara.
Raja Mohammed VI pernah menegaskan bahwa isu Sahara merupakan ukuran integritas wilayah Maroko sekaligus prisma yang digunakan negaranya dalam melihat lingkungan internasional.
Pernyataan tersebut menunjukkan betapa pentingnya persoalan wilayah bagi identitas kebangsaan Maroko.
Saya melihatnya langsung ketika berada di kawasan Sahara. Bagi banyak masyarakat setempat, pembangunan wilayah selatan bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga bagian dari narasi kebangsaan dan integritas negara.
Di sinilah sejarah, politik, pembangunan, dan identitas bertemu.
Pelajaran untuk Indonesia
Bagi Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Maroko, hubungan kedua negara seharusnya tidak berhenti pada seremoni diplomatik.
Ada ruang yang jauh lebih besar untuk dikembangkan.
Pertukaran media, kerja sama perguruan tinggi, hubungan antarkomunitas, perdagangan, pariwisata, ekonomi kreatif, hingga kerja sama antarpelaku usaha dapat menjadi jembatan baru bagi hubungan Indonesia dan Maroko.
Indonesia dan Maroko sama-sama memiliki pengalaman sebagai bangsa yang pernah menghadapi kolonialisme. Keduanya juga memiliki posisi strategis dalam percaturan negara-negara Global South.
Karena itu, persahabatan historis seharusnya dapat diterjemahkan menjadi kerja sama ekonomi dan sosial yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dari Jakarta untuk Rabat
Setiap 20 Agustus, rakyat Maroko memperingati Revolusi Raja dan Rakyat bukan sekadar untuk mengingat masa lalu.
Ada pesan yang lebih besar di baliknya: kemerdekaan bukan garis akhir.
Kemerdekaan adalah awal dari pekerjaan yang jauh lebih panjang, yakni membangun negara, meningkatkan kesejahteraan rakyat, menjaga persatuan, dan memastikan masa depan generasi berikutnya.
Itulah yang membuat sejarah Maroko terasa dekat dengan Indonesia.
Dari Jakarta, saya mengucapkan selamat memperingati Hari Revolusi Raja dan Rakyat kepada Yang Mulia Raja Mohammed VI dan seluruh rakyat Maroko.
Semoga persahabatan Indonesia-Maroko yang tumbuh dari pengalaman sejarah dan perjuangan antikolonial terus berkembang menjadi kerja sama yang konkret.
Dari Sahara hingga Jakarta, dari sejarah perjuangan menuju masa depan, persahabatan kedua bangsa semoga terus menemukan jalan untuk menghasilkan kemakmuran bersama.

Comment