MEDIAWARTA,-Fasilitas fraksionasi plasma pertama di Indonesia, yang dikembangkan melalui kemitraan antara Indonesia Investment Authority (INA) dan SK Plasma, serta dijalankan melalui perusahaan patungan keduanya, PT SKPlasma Core Indonesia, meraih penghargaan Social Infrastructure Deal of the Year, APAC pada IJGlobal Awards 2025.
Penghargaan ini merupakan bentuk pengakuan atas pengembangan infrastruktur kesehatan yang esensial dalam mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor Produk Obat Derivat Plasma (PODP), serta menunjukkan kemampuan proyek ini dalam mengintegrasikan keahlian, permodalan, dan kemitraan yang diperlukan untuk mendukung pengembangan sektor kesehatan jangka panjang di Indonesia.
Diselenggarakan oleh IJGlobal, penghargaan ini diberikan kepada transaksi greenfield dan refinancing yang signifikan di sektor energi dan infrastruktur. Pemenang ditentukan oleh panel independen yang terdiri dari para profesional industri melalui proses evaluasi yang terstruktur, dimana setiap pengajuan dinilai berdasarkan kriteria berupa inovasi, dampak, dan eksekusi, serta pada akhirnya ditetapkan melalui keputusan berbasis konsensus.
Fasilitas fraksionasi plasma yang saat ini sedang dalam tahap pengembangan di Karawang, Jawa Barat, merupakan langkah penting dalam memperkuat ketahanan sistem kesehatan Indonesia. Setelah mulai beroperasi, fasilitas ini diharapkan dapat memungkinkan pemrosesan plasma darah di dalam negeri menjadi terapi penyelamat jiwa seperti imunoglobulin dan albumin, sehingga mendukung akses yang lebih andal dan terjangkau terhadap obat-obatan esensial.
Sejak pengumuman investasi awal pada bulan Desember 2024, proyek ini telah mencatat berbagai perkembangan penting, termasuk pengenalan produk turunan plasma yang berasal dari plasma donor Indonesia, serta kemajuan pembangunan fasilitas domestik yang ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2027. Pendanaan proyek ini juga telah diperkuat melalui fasilitas pinjaman sindikasi sebesar IDR3,7 triliun, yang dipimpin oleh PT Allo Bank Indonesia Tbk, bersama dengan PT Bank Mega Tbk, guna mendukung kelanjutan pengembangan dan kesiapan operasional fasilitas tersebut.
Eddy Porwanto, Pengganti Sementara Ketua Dewan Direktur INA, menyatakan, Pengakuan ini mencerminkan pentingnya kolaborasi yang berkelanjutan dalam menjawab kebutuhan kesehatan yang krusial dan bersifat jangka panjang. Proyek fraksionasi plasma ini menunjukkan bagaimana kemitraan dapat menerjemahkan kebutuhan tersebut ke dalam solusi yang layak secara investasi dan dapat dieksekusi, sekaligus memperkuat kapabilitas layanan kesehatan secara berkelanjutan.
Hyunho (Ted) Roh, Presiden Direktur SK Plasma Core Indonesia, menyatakan, Penghargaan ini mencerminkan kemajuan dalam pengembangan kapasitas fraksionasi plasma di dalam negeri. Selama ini Indonesia sangat bergantung pada impor untuk obat-obatan penting berbasis plasma seperti albumin dan imunoglobulin. Melalui proyek ini, produksi dalam negeri akan terealisasi, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup jutaan pasien. Selain itu, dengan menyediakan pilihan terapi yang menggabungkan aspek keamanan, keberlanjutan, dan keterjangkauan dibandingkan dengan produk impor, inisiatif ini diharapkan dapat memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan standar layanan kesehatan nasional.
“Kami sangat bangga dapat memimpin fasilitas sindikasi pinjaman untuk proyek fasilitas fraksionasi plasma pertama di Indonesia ini. Penghargaan sebagai Social Infrastructure Deal of the Year, APAC pada program IJGlobal Awards 2025 merupakan validasi terhadap nilai strategis dari proyek ini,” ujar Yogi Bima Sakti, Chief Wholesale dan Treasury Allo Bank. “Bagi Allo Bank, keterlibatan kami bukan sekadar bentuk dukungan finansial, melainkan perwujudan komitmen nyata dalam memperkuat kedaulatan kesehatan nasional melalui pembiayaan infrastruktur sosial yang inovatif. Kami percaya bahwa kolaborasi antara institusi keuangan domestik, investor global, dan otoritas pemerintah adalah kunci untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih terjangkau dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Indonesia.”tuturnya
Perkembangan ini mencerminkan pendekatan kolaboratif yang menggabungkan investasi institusional, keahlian industri global, serta lembaga keuangan domestik untuk mendukung penguatan infrastruktur kesehatan di Indonesia.

Comment