Bona Fide (30):Bila Hari Terakhir Hidup Anda

MEDIAWARTA,-Pada hari terakhir Ramadan ini, saya ingin bertanya kepada anda, apa yang anda akan lakukan sekiranya anda tahu bahwa hari ini adalah hari terakhir hidup anda?

Kira-kira anda masih memikirkan dunia? Atau anda akan menyelesaikan masalah-masalah yang terkait urusan dunia anda? Membagi warisan yang anda akan tinggalkan? Mengurus di mana anda akan dimakamkan? Memanggil orang-orang yang anda perlu lihat mukanya untuk terakhir kalinya?

Kira-kira anda masih berpikir untuk memenuhi kenikmatan fana yang bersifat material? Ingin memakan makanan paling disukainya? Ingin memenuhi apa yang menjadi hobby terbaiknya? Ingin menikmati dan menggenggam sesutu yang sudah diimpikan untuk terakhir kalinya?

Atau anda ingin mempersiapkan bekal menjemput kehidupan sesudah kematian? Atau anda memanfaatkan momentum satu hari itu untuk mensucikan diri? Karena anda bersyukur bahwa itu yakininya sebagai “privilege” dari Tuhan karena ada waktu mempersiapkan diri meenjadi “husnul khatimah”?

Lalu apa yang anda lakukan saat itu? Apakah anda merapikan hati serapi-rapinya? Apakah anda melipat dendam, lalu menyimpannya di lemari, menguncinya, dan melemparkan kunci pada tempat yang tidak bisa anda dapatkan kembali? Lalu anda mau apakan kenangan baik anda? Apakah anda menggantungnya pada lemari hias dengan kaca yang tembus pandang hari itu untuk anda nikmati sepuasnya?

Apakah anda akan masih menggunakan chat untuk menghubungi seseorang? Atau anda akan menelpon langsung orang-orang yang anda akan minta maaf atau memaafkan? Apakah anda akan melunasi utang-utang kehidupan anda? Lalu bagaimana dengan piutang anda, apakah anda akan mengatakan sudah selesai?

Apakah anda masih ingin berbicara banyak, atau duduk diam sambil menunggu ajal menjemput? Apakah anda akan melantungkan zikir-zikir penyejuk hati? Atau anda akan membaca doa-doa tobat terbaik yang anda pahami? Atau anda akan memanggil ustad supaya hati anda tidak tercermari sedikit-pun?

Atau anda memastikan bahwa ada jejak kebaikan yang tidak perlu besar tapi cukup terasa. Atau anda akan meyakinkan hatinya di hari itu bahwa hidup ini tidak ada satu biji kecil pun yang sia-sia, semua punya makna. Apakah anda betul tersadar bahwa manusia khususnya anda, seperti hempasan debu di depan kebesaran Tuhan?

Apakah anda akan memastikan bahwa anda sudah merasa “pulang” sebelum “benar-benar pulang”? Apakah anda akan memastikan bahwa anda tidak akan meraung-meraung karena anda masih ingin hidup seribu tahun lagi? Apakah anda tahu bahwa Chairil Anwar saja sudah mati kan?

Comment