MEDIAWARTA, MAKASSAR – Lebih dari 1.000 pelaku UMKM dan pengusaha muslim dari berbagai penjuru Sulawesi Selatan hingga kawasan Indonesia Timur berkumpul dalam ajang Business Excellence Summit and Talk (BEST) 1 Makassar yang digelar Sukses Berkah Community (SBC) Chapter Makassar di Four Points by Sheraton Makassar, Sabtu-Minggu, 20-21 Juni 2026.
Forum bisnis berskala besar ini menjadi ruang konsolidasi bagi para pelaku usaha lokal untuk memperkuat daya saing di tengah ketatnya persaingan bisnis modern. Tak sekadar seminar, BEST 1 Makassar dirancang sebagai wadah pembelajaran, penguatan mentalitas, hingga penyusunan strategi agar UMKM di Makassar dan Indonesia Timur tidak hanya bertahan, tetapi mampu naik kelas dan menguasai pasar di daerahnya sendiri.
Kehadiran jajaran pejabat Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Pemerintah Kota Makassar pada pembukaan acara mempertegas bahwa penguatan UMKM kini menjadi salah satu pilar penting dalam pembangunan ekonomi daerah. Di tengah arus masuk pelaku usaha dari luar daerah yang semakin agresif, UMKM lokal dituntut tidak hanya mengandalkan semangat, tetapi juga kesiapan sistem, data, teknologi, dan ekosistem bisnis yang kuat.
BEST 1 Makassar menghadirkan sejumlah praktisi dan mentor bisnis nasional, di antaranya Coach Dodi Dzulkifli, Khaidir Khaliq, Abdullah Mujahid, Coach Nugie Al Afghani, dan Coach Ridwan Abadi selaku Founder SBC. Para pembicara membagikan strategi praktis yang dapat langsung diterapkan UMKM untuk memperbaiki tata kelola usaha, memperkuat branding, meningkatkan penjualan, hingga membangun ketahanan bisnis jangka panjang.
Keluar dari Perang Harga
Sesi pembuka dibawakan oleh Coach Dodi Dzulkifli yang menyoroti jebakan perang harga yang masih sering dialami UMKM. Menurutnya, banyak pelaku usaha kecil terpaksa terus memberikan diskon demi mempertahankan pelanggan, namun pada akhirnya justru kehilangan margin keuntungan karena tidak memiliki pembeda yang jelas di mata konsumen.
Ia menekankan pentingnya positioning dan branding sebagai fondasi agar UMKM tidak hanya dikenal murah, tetapi juga memiliki nilai tambah yang membuat konsumen memilih mereka. Dengan strategi yang tepat, UMKM dapat keluar dari persaingan harga yang melelahkan dan mulai membangun pasar yang lebih sehat.
UMKM Harus Punya Ilmu, Sistem, Data, dan Teknologi
Salah satu sesi yang paling menyita perhatian peserta adalah materi dari Khaidir Khaliq, pengurus SBC, Ketua KPMI Korwil Sulawesi Selatan, Sekretaris Jenderal Asosiasi Laundry Indonesia, sekaligus praktisi bisnis laundry dan retail. Dalam materi bertajuk “Banjir Order dengan Teknologi”, Khaidir menegaskan bahwa teknologi bukan sekadar alat agar bisnis terlihat modern, melainkan sarana untuk membuat usaha lebih siap tumbuh secara sehat.
Menurut Khaidir, Makassar dan kawasan Indonesia Timur kini menjadi pasar yang sangat menarik bagi pelaku usaha dari luar daerah. Mereka datang dengan persiapan matang, membawa data, modal, tim, sistem, teknologi, serta strategi ekspansi yang rapi. Karena itu, pengusaha lokal tidak boleh hanya mengandalkan keberanian dan kerja keras, tetapi harus mulai membangun fondasi bisnis yang kuat.
“Makassar hari ini bukan lagi pasar kecil. Indonesia Timur sedang dilirik. Pengusaha dari luar masuk membawa data, dana, sistem, tim, dan teknologi. Kita tidak perlu marah dengan persaingan, tapi kita sebagai pengusaha lokal tidak boleh kalah siap,” tegas Khaidir di hadapan peserta.
Ia menegaskan, menjadi tuan rumah di negeri sendiri bukan berarti menolak pelaku usaha dari luar. Sebaliknya, persaingan harus dilihat sebagai pemicu untuk belajar dan berbenah. Menurutnya, pasar akan dikuasai oleh mereka yang paling siap melayani konsumen.
“Kalau mereka datang dengan data, kita harus belajar data. Kalau mereka datang dengan sistem, kita harus bangun sistem. Kalau mereka datang dengan teknologi, kita harus gunakan teknologi,” lanjutnya.
Tujuh Kebocoran Bisnis UMKM
Dalam pemaparannya, Khaidir juga menyinggung persoalan mendasar yang masih banyak dialami UMKM, yakni bisnis yang tampak sibuk tetapi tidak benar-benar bertumbuh. Ia menyebut ada tujuh kebocoran utama yang sering menghambat perkembangan UMKM.
Kebocoran tersebut meliputi tidak adanya database pelanggan, promosi yang masih dilakukan secara dadakan, ketiadaan sistem follow-up, pencatatan keuangan yang belum rapi, SOP layanan yang belum jelas, pemilik usaha yang masih mengerjakan semuanya sendiri, serta belum masuk ke ekosistem belajar dan pendampingan bisnis.
Khaidir mengibaratkan bisnis UMKM seperti ember. Order dan omzet boleh saja terus masuk, tetapi jika embernya bocor, maka keuntungan akan habis tanpa jejak.
“Percuma banjir order kalau ember bisnisnya bocor. Banyak UMKM bukan tidak punya omzet, tapi omzetnya tidak berubah menjadi profit karena tidak ada pencatatan, tidak ada follow-up, tidak ada SOP, dan semua masih bergantung pada owner,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa banjir order tanpa sistem justru bisa menjadi masalah baru. Pesanan yang menumpuk tanpa kesiapan bisa memicu keterlambatan layanan, komplain pelanggan, kualitas produk menurun, hingga profit yang tetap bocor.
Framework TUAN RUMAH
Untuk membantu peserta memahami langkah membangun bisnis yang lebih siap bersaing, Khaidir memperkenalkan framework TUAN RUMAH. Kerangka ini disusun sebagai panduan praktis bagi pengusaha lokal agar dapat memperkuat bisnisnya secara bertahap namun terarah.
Framework tersebut terdiri atas tiga lapisan utama. Pada fondasi ada T-U-A: Tuntut Ilmu, Upgrade Diri, dan Amankan Data. Pada pilar bisnis ada N-R-U: Naikkan Amanah, Rapikan Sistem, dan Gunakan Teknologi. Sedangkan pada bagian atap ada M-A-H: Masuk Ekosistem, Aktif Kolaborasi, dan Hasilkan Dampak.
Melalui kerangka itu, Khaidir mengajak para pengusaha muslim di Makassar untuk tidak hanya mengejar omzet, tetapi membangun bisnis yang rapi, amanah, berbasis sistem, memanfaatkan teknologi, dan memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.
“Menjadi tuan rumah bukan soal lokasi. Menjadi tuan rumah adalah soal kesiapan. Tuan rumah bukan yang paling keras bicara, tapi yang paling siap menyambut, melayani, mengelola, dan memimpin,” katanya.
Teknologi Bukan Gaya-gayaan
Dalam sesi yang sama, Khaidir menekankan bahwa teknologi harus dipakai untuk membangun mesin order, bukan sekadar membuat bisnis terlihat kekinian. Menurutnya, viral di media sosial belum tentu berujung penjualan jika tidak diikuti alur bisnis yang rapi.
Ia menyebut UMKM harus mulai menguasai teknologi sederhana seperti Google Business Profile, WhatsApp Business, Instagram, TikTok, spreadsheet, aplikasi kasir, sistem label pelanggan, dashboard mingguan, hingga AI. Semua itu, kata dia, harus diarahkan untuk membuat bisnis lebih mudah ditemukan, lebih mudah dihubungi, rapi dalam pencatatan, rajin melakukan follow-up, dan jelas dalam pengukuran hasil.
“Kalau teknologi tidak membantu bisnis ditemukan, dihubungi, dicatat, difollow-up, dan diukur, berarti teknologi belum benar-benar dipakai untuk bisnis. Mungkin baru dipakai untuk gaya-gayaan,” tegasnya.
Ia mencontohkan bagaimana data pelanggan bisa diolah untuk menciptakan repeat order. Pelanggan laundry yang pernah mencuci karpet, misalnya, dapat dimasukkan ke dalam kategori khusus dan dihubungi kembali setelah dua bulan dengan penawaran yang relevan. Menurutnya, setiap order harus dicatat karena setiap data adalah peluang penjualan berikutnya.
Pendampingan Setahun Penuh
Komitmen SBC dalam penguatan UMKM tidak berhenti pada forum dua hari ini. Sekretaris Jenderal SBC, Abdullah Mujahid, mengumumkan peluncuran program pendampingan intensif selama setahun penuh bagi para alumni BEST 1 Makassar. Program ini akan berjalan dengan kurikulum terarah dan didukung jaringan 23 chapter SBC di seluruh Indonesia.
Materi penguatan bisnis juga dilengkapi oleh Coach Nugie Al Afghani yang membahas pentingnya mendongkrak penjualan lewat personal branding, serta Coach Ridwan Abadi yang menutup rangkaian acara melalui materi Resilience Protocol untuk membangun mentalitas pengusaha yang tangguh dan adaptif di tengah perubahan zaman yang sangat cepat.
Melalui BEST 1 Makassar, SBC berharap Makassar dapat berkembang menjadi salah satu episentrum lahirnya pengusaha muslim yang profesional, berbasis data, menguasai teknologi, dan mampu memimpin pasar domestik di tengah persaingan yang semakin ketat.
Dengan konsolidasi lebih dari seribu pelaku usaha, BEST 1 Makassar bukan hanya menjadi panggung berbagi ilmu, tetapi juga sinyal bahwa UMKM lokal mulai bergerak menuju fase baru: lebih terstruktur, lebih siap, dan lebih berani menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

Comment