Kisah Lindayati Menjaga Warisan Leluhur dalam Helai Tenun Alami

Ibu dari Lindayati, Lince (65) menenun kain Sekomandi disaksikan perwakilan Pertamina di Makassar, sementara Lindayati menyiapkan benang. Melalui program kemitraan CSR, Pertamina turut mendukung pengembangan ruang produksi serta promosi wastra tradisional bernilai ekonomi tinggi tersebut. Foto: Masyudi Firmansyah/Mediawarta

MEDIAWARTA, MAKASSAR – Lumpur, akar mengkudu, daun pandan hingga tanaman indigo menjadi bagian dari proses pembuatan kain tenun Sekomandi yang dirawat Lindayati melalui usaha Tenun Venisa 05 di Makassar. Berbekal teknik pewarnaan alami dan motif yang diwariskan turun-temurun, kain tradisional tersebut kini menjangkau pelanggan dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan pernah dipamerkan di Expo Dubai 2022.

Usaha yang berlokasi di kawasan Perumahan Telkomas, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, itu dirintis Lindayati sejak 2007. Namun, perjalanan untuk mengembangkan tenun warisan keluarga tersebut tidak berlangsung instan. Produk Tenun Venisa 05 mulai mendapat perhatian lebih luas pada 2018, seiring upaya Lindayati mengembangkan usaha dan memperkenalkan motif-motifnya kepada pasar.

“Saya rintis ini sejak tahun 2007, saya sudah buatkan akta, tapi dia viralnya di 2018,” kata Lindayati, Jumat (30/10/2026).

Warisan leluhur yang dikembangkan di Makassar

Pemilik usaha Tenun Venisa 05, Lindayati, menggulung benang menggunakan alat pemintal tradisional di rumah produksinya di Perumahan Telkomas, Biringkanaya, Makassar. Usaha tenun yang dirintis sejak 2007 ini mempertahankan teknik pewarnaan alami dan motif khas warisan keluarga dari Kalumpang, Sulawesi Barat. Foto: Masyudi Firmansyah/Mediawarta

Tenun yang dikembangkan Lindayati berakar dari tradisi keluarganya di Kalumpang, Sulawesi Barat. Keterampilan tersebut diwariskan dari generasi ke generasi, termasuk melalui ibunya yang hingga kini masih terlibat dalam kegiatan menenun.

Di Makassar, Lindayati tidak sekadar mempertahankan motif warisan, tetapi juga mengembangkan corak yang merepresentasikan identitas Sulawesi Selatan. Sejumlah motif yang dihadirkan antara lain Sulapa Eppa, Lagosi, Cobo-cobo, serta bentuk yang terinspirasi dari Pulau Sulawesi dan aksara lontara.

Baginya, setiap motif memiliki cerita dan makna tersendiri. Kain bukan hanya produk kerajinan, melainkan juga media untuk menyampaikan nilai-nilai yang hidup dalam tradisi masyarakat pendukungnya.

Salah satu motif yang dianggap istimewa adalah Ulu Karua Barinni dan Lepo. Menurut Lindayati, motif tersebut menggambarkan delapan pemimpin yang mengelola sebuah kampung, dengan satu orang diangkat sebagai Tobara’ atau raja untuk menyelesaikan persoalan.

Motif lainnya adalah Poredapu yang bermakna kasih sayang dan Tosobalean, yang dijelaskan Lindayati sebagai simbol meluruskan sesuatu yang bengkok. Penamaan serta filosofi tersebut menjadi bagian dari cerita yang menyertai setiap kain yang diproduksinya.

Lindayati juga menyebut Sambotanete, kain panjang yang dalam tradisi tertentu berkaitan dengan penanda kedudukan sosial. Kain-kain lama yang masih tersimpan menjadi saksi perjalanan tradisi sekaligus memiliki nilai tersendiri bagi kolektor dan pencinta wastra.

Warna dari alam, bukan pewarna sintetis

Salah satu ciri yang dipertahankan Tenun Venisa 05 adalah penggunaan bahan pewarna alami. Sejak awal, Lindayati tidak menggunakan pewarna sintetis dalam proses pewarnaan kainnya.

Untuk menghasilkan warna hitam, ia memanfaatkan lumpur. Warna terakota diperoleh dari akar mengkudu, sedangkan warna biru berasal dari tanaman indigo yang ditanam sendiri. Warna hijau dapat dihasilkan dari daun pandan dan daun pepaya.

Lindayati merapikan kain tenun Sekomandi bercorak khas yang dipajang di galeri Tenun Venisa 05, Makassar. Menggunakan bahan pewarna alami dari lumpur, akar mengkudu, hingga tanaman indigo, karya wastra ini telah menembus pasar nasional hingga dipamerkan di ajang internasional seperti Expo Dubai 2022. Foto: Masyudi Firmansyah/Mediawarta

Adapun untuk menghasilkan dan memperkuat warna tertentu, ia menggunakan bahan seperti kayu secang, mangrove, cocopeat, dan kayu jati. Komposisi bahan disesuaikan dengan warna yang ingin dicapai.

Proses pewarnaan menjadi salah satu tahapan yang membutuhkan ketelitian. Benang diikat dan dibuka-tutup secara berulang agar bagian tertentu menyerap warna sesuai pola yang direncanakan. Tahapan tersebut menentukan perpaduan warna sekaligus membentuk motif pada kain.

Warna alami yang dihasilkan memang tidak selalu seterang pewarna sintetis. Namun, karakter warna yang cenderung lembut dan khas justru menjadi bagian dari daya tarik kain tersebut.

Satu kain dikerjakan hingga setahun

Kerumitan proses pembuatan turut memengaruhi waktu produksi dan harga kain. Lindayati menyebut satu kain sepanjang empat meter dapat membutuhkan waktu sekitar enam bulan. Sementara kain sepanjang 10 meter bisa dikerjakan hingga satu tahun, bergantung pada proses dan tingkat kerumitan motifnya.

Perbedaan ukuran, jumlah motif dalam satu lembar, serta usia kain turut menentukan nilai jual. Harga produk Tenun Venisa 05 dimulai sekitar Rp250.000, sedangkan koleksi tertentu dapat mencapai puluhan juta rupiah.

Anak dari Lindayati menata dan mengikat helai benang pada bentangan alat tenun di rumah produksi Tenun Venisa 05, Makassar. Proses pengerjaan tenun ikat ini membutuhkan ketelitian tinggi dan waktu berbulan-bulan guna menghasilkan pola motif tradisional yang sarat makna filosofis. Foto: Masyudi Firmansyah/Mediawarta

Untuk kain lawas berusia lebih dari 20 tahun, harganya bahkan bisa mencapai sekitar Rp50 juta. Lindayati mengatakan koleksi yang telah berusia 20 hingga 21 tahun masih memiliki warna yang terjaga, dengan perawatan khusus melalui metode dry cleaning, bukan pencucian menggunakan mesin cuci biasa.

Nilai kain-kain tersebut tidak hanya ditentukan oleh bahan dan pengerjaan, tetapi juga oleh usia, kelangkaan, serta cerita yang menyertainya.

Menembus pasar nasional hingga Expo Dubai

Pasar Tenun Venisa 05 berkembang melalui pameran, pesanan suvenir instansi, media sosial, dan kolaborasi dengan pelaku industri kreatif. Lindayati menyebut pelanggan produknya berasal dari Makassar, Bali, Bandung, dan sejumlah daerah lainnya.

Kain tersebut juga dibeli pelaku UMKM yang kemudian mengolahnya menjadi produk lain, seperti tas. Kolaborasi dengan desainer turut membuka peluang agar kain tradisional dapat digunakan dalam rancangan busana yang lebih modern.

Salah satu desainer yang pernah membeli kainnya adalah Ali Charisma, yang dikenal sebagai Ketua Indonesia Fashion Chamber. Lindayati juga menyebut kainnya pernah dibeli pihak lain dan dibawa untuk dipamerkan dalam Expo Dubai 2022.

Ia menegaskan, keikutsertaan tersebut bukan berarti dirinya datang langsung ke Dubai. Kainnya dibeli dan dibawa oleh pihak lain untuk dipamerkan dalam ajang tersebut.

Di dalam negeri, kain Tenun Venisa 05 juga pernah ditampilkan melalui pameran Inacraft di Jakarta serta SMEXPO di Makassar. Lindayati berharap kesempatan mengikuti pameran dan peragaan busana bersama desainer dapat terus terbuka agar tenun tradisional semakin dikenal.

Dukungan Pertamina memperkuat pengembangan usaha

Dalam mengembangkan usaha, Lindayati mengaku terbantu oleh dukungan Pertamina sebagai mitra pembinaan UMKM. Selain memanfaatkan kainnya sebagai suvenir untuk tamu dan kebutuhan sejumlah instansi, Pertamina juga pernah memfasilitasi keikutsertaannya dalam kegiatan pameran.

Dukungan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR tersebut turut membantu Lindayati menyiapkan area di belakang rumahnya untuk kegiatan menenun. Lahan itu direncanakan menjadi ruang produksi yang lebih memadai sekaligus dikembangkan sebagai galeri.

“Support dari Pertamina itu sangat membantu. Utamanya itu pernah dapat CSR dan alhamdulillah saya sudah bisa menimbun di belakang lokasi untuk menenun dengan rencana buat galeri,” ujarnya.

Bagi Lindayati, ruang produksi dan galeri menjadi bagian penting untuk mengembangkan usaha sekaligus memperkenalkan proses pembuatan kain kepada pengunjung. Ia berharap dukungan yang telah diterima dapat berlanjut melalui kesempatan mengikuti pameran dan berkolaborasi dengan lebih banyak desainer.

Perjalanan Tenun Venisa 05 memperlihatkan bagaimana warisan keluarga dapat terus dikembangkan tanpa meninggalkan teknik dan cerita yang menjadi akarnya. Di tengah pasar yang terus berubah, Lindayati mempertahankan pewarna alami, motif bermakna, serta pengerjaan yang membutuhkan waktu panjang sebagai ciri khas kain yang diproduksinya dari Makassar.

Comment