MEDIAWARTA, JAKARTA – Bagi warga Desa Banuan, Nusa Tenggara Timur (NTT), air bersih bukan lagi sesuatu yang harus dicari dengan berjalan berjam-jam. Setelah jaringan perpipaan dibangun melalui program Water for Banuan, jarak warga menuju titik pengambilan air kini menyusut hampir seluruhnya.
Survei Solar Chapter terhadap 49 kepala keluarga pada Juni 2026 menunjukkan jarak menuju titik pengambilan air bersih berkurang 99 persen, dari sekitar 1.170 meter menjadi hanya 2 meter.
Perubahan itu merupakan dampak program kolaborasi Vinilon Group dan Solar Chapter yang mulai diimplementasikan pada September 2024. Jaringan perpipaan sepanjang 4,5 kilometer dibangun untuk mendekatkan distribusi air bersih ke permukiman warga.
Sebelum fasilitas tersebut tersedia, warga Banuan harus berjalan 3 hingga 5 jam, dengan jarak yang dapat mencapai 2 kilometer, untuk mengambil air. Kondisi jalan yang berbatu dan terjal membuat aktivitas memenuhi kebutuhan dasar tersebut menyita waktu dan tenaga.
Kini, waktu yang sebelumnya habis untuk mencari air dapat dialihkan untuk kebutuhan keluarga, pendidikan maupun kegiatan ekonomi. Perubahan itu juga mulai terlihat dalam kehidupan masyarakat setelah dua tahun program berjalan.
Kepala Dusun 1 Desa Banuan, Martinus Nuni, mengatakan ketersediaan air turut mengubah kondisi warga saat musim kemarau, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan air untuk ternak.
“Dulu sapi mati pada saat musim kemarau sampai ratusan ekor karena tidak ada air untuk minum, tapi sekarang sudah tidak lagi karena air sudah tersedia untuk minum ternak,” ujar Martinus.
Perubahan juga dirasakan anak-anak sekolah. Menurut Martinus, ketersediaan air membuat mereka kini dapat mandi lebih sering dibandingkan sebelumnya.
“Anak sekolah sekarang sudah bisa mandi dua kali sehari, dibanding dulu hanya sehari sekali, bahkan dua hari sekali baru bisa mandi sekali,” katanya.
Dampak terhadap perilaku hidup bersih dan kesehatan terlihat dari meningkatnya aktivitas mandi dan mencuci pakaian. Frekuensi mencuci pakaian warga meningkat dari satu kali menjadi dua kali dalam sepekan.
Praktik mencuci tangan menggunakan sabun juga mengalami perubahan besar. Jika sebelumnya hanya satu keluarga yang rutin melakukannya, kini jumlahnya meningkat menjadi 47 keluarga.
Dari sisi kesehatan masyarakat, jumlah anak stunting di tingkat desa juga turun 32 persen. Angkanya berkurang dari 31 anak pada 2023 menjadi 21 anak pada 2026.
Dampak program tidak berhenti pada akses air dan kesehatan. Laporan tahunan Solar Chapter mencatat pendapatan per kapita masyarakat meningkat 184 persen, dari Rp123.180 menjadi Rp349.218.
Sebanyak 79 persen rumah tangga juga mulai menjalankan usaha produktif baru. Jenis kegiatan ekonomi yang berkembang antara lain tenun, pertanian, peternakan dan pekerjaan konstruksi.
Perubahan tersebut menunjukkan bagaimana akses terhadap kebutuhan dasar dapat memiliki efek berantai terhadap kehidupan masyarakat. Ketika air tersedia lebih dekat, waktu dan tenaga warga tidak lagi banyak terserap untuk perjalanan mengambil air sehingga dapat digunakan untuk aktivitas yang lebih produktif.
Secara keseluruhan, program Water for Banuan telah memberikan manfaat langsung kepada 897 jiwa. Sistem penyediaan air yang dibangun juga menggunakan energi surya sebagai sumber energi, dengan pemanfaatan energi tercatat mencapai 13.218 kWh dan estimasi pengurangan emisi sebesar 10,18 ton CO₂.
General Manager Marketing Vinilon Group, Christian Rudolf, mengatakan perubahan yang dirasakan warga menjadi salah satu ukuran penting keberhasilan program CSR perusahaan.
“Melihat dampak positif dari program ini menunjukkan, bahwa ketika akses air bersih menjadi lebih mudah, masyarakat tidak hanya mudah mendapatkan air bersih, tetapi juga memiliki lebih banyak kesempatan untuk hidup sehat dan melakukan aktivitas yang produktif,” ujar Christian.
Bagi Vinilon Group, keberlanjutan program tidak hanya berhenti pada pembangunan fasilitas. Perusahaan melihat pemanfaatan fasilitas dan perubahan kehidupan masyarakat setelahnya sebagai bagian penting dalam mengukur dampak program.
Kolaborasi dengan Solar Chapter pun dilanjutkan ke wilayah lain. Pada September 2026, Vinilon Group kembali mendukung penyediaan akses air bersih di Desa Ajaobaki, NTT.
Dalam program tersebut, Vinilon Group memasok sekaligus membangun jaringan perpipaan sepanjang 7 kilometer untuk mengalirkan air bersih langsung ke permukiman warga.
Langkah lanjutan itu diarahkan untuk memperluas akses air bersih ke wilayah terpencil sekaligus membuka peluang perbaikan kesehatan, produktivitas dan kualitas hidup masyarakat.
Pengalaman Banuan memperlihatkan bahwa pembangunan infrastruktur air bersih memiliki dampak yang jauh lebih luas dari sekadar menghadirkan air di keran. Bagi warga yang sebelumnya menghabiskan berjam-jam untuk mencarinya, air yang kini berada beberapa meter dari rumah berarti waktu, kesehatan dan kesempatan ekonomi yang kembali mereka miliki.

Comment