Ini Sejarah Kuliner Szechuan Soup yang Diklaim dari Trah Dinasti Han

Salah satu makanan yang sudah mendunia adalah Szechuan Soup atau Sup Sichuan, baik yang dimasak ala seafood maupun reguler dengan ayam dan daging sapi. (Mediawarta.com / Effendy Wongso)

MEDIAWARTA, KUPANG – Menyoal kuliner memang seakan tidak ada habisnya. Salah satu makanan yang sudah mendunia adalah Szechuan Soup atau Sup Sichuan, baik yang dimasak ala seafood maupun reguler dengan ayam dan daging sapi.

Diklaim berasal dari Trah Dinasti Han, ini keistimewaan kuliner asia Szechuan Soup yang perlu kita ketahui.

Salah satu jenis menu dari Asia ini juga kerap disebut “oriental food”, merupakan salah satu jenis masakan yang paling disukai di dunia.

Seiring perkembangan zaman, saat kuliner Barat yang lebih dikenal sebagai “continental food” atau makanan kontinental yang berkembang pesat dari negara-negara di Eropa ke berbagai belahan wilayah dunia, secara parsial belum mampu mereduksi kegemaran penikmat kuliner mencicipi makanan oriental.

Bahkan, saat ini kepopuleran masakan oriental telah merambah Eropa dan Amerika Serikat (AS) sendiri yang notabene tempat lahirnya menu-menu kontinental.

Sejatinya, jika ditelusuri lebih mendetail hal itu tentu tidak salah. Alasannya, menu-menu oriental kaya berkat kontribusi penggunaan rempah-rempah dan bumbu-bumbu tradisional beraroma khas lainnya.

Szechuan Soup yang dalam implementasinya terdiri dari berbagai isian seperti daging ayam, seafood, dan bahan lainnya ini diakui sebagai salah satu kuliner terbaik.

“Sup bercita rasa asam pedas dengan aneka isian baik seafood maupun daging ayam ini sudah digemari warga Kota Kupang, terutama diaspora Tionghoa yang sudah bermukim turun-temurun di NTT,” jelas Head Chef Waroenk Group Ahmad Niko ketika ditemui beberapa waktu lalu di Waroenk Seafood, Jalan Veteran 18, Kelurahan Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurut Niko, makanan yang berakar dari entitas Tiongkok tersebut yang diluncurkan bersamaan pembukaan resto pihaknya di awal 2019 lalu, tidak dapat dipisahkan dari “trah” kuliner Asia.

“Ya, ini karena apapun isinya baik berbahan seafood, daging sapi maupun ayam, jika menyebut ‘Szechuan’ maka penikmat kuliner sejati yang sering traveling dan mencicipi makanan khas daerah yang disinggahinya, pasti tahu sup ini merupakan salah satu menu oriental terpopuler dunia,” imbuhnya.

Niko menambahkan, kepopuleran Szechuan Soup dapat dimaklumi lantaran peracikannya yang mudah dengan bahan-bahan yang tidak sulit diperoleh.

“Bahan-bahannya sederhana, mudah diperoleh sehingga mendorong pelaku usaha kuliner terutama yang bergerak dalam oriental cuisine banyak bikin menu ini sebagai makanan andalan mereka,” bebernya.

Bahan sederhana yang dimaksud Niko di luar seafood seperti udang di antaranya tahu, jamur kuping, jahe, bawang putih, bawang bombai, merica, dark soy sauce, cabai, dan lain-lain.

Niko mengatakan, Szechuan Soup (Sup Szechuan Seafood) yang dijual pihaknya dibanderol Rp 31.000 per porsi.

“Selain Szechuan Soup, kami juga menawarkan sup sejenis seperti Sup Asparagus Kepiting Rp 36.000, Sup Asparagus Ayam Jagung Rp 26.000, Sup Wonton Udang Rp 23.500, Sup Bibir Ikan Rp 36.000, dan Sup Tom Yung Goong Rp 31.000,” urainya.

Niko mengatakan, harga yang dibanderol untuk menu-menu pihaknya tadi sangat terjangkau.

“Untuk menu ‘eksklusif’ yang biasanya dibanderol selangit di resto-resto oriental, ini tergolong murah,” klaimnya.

Beraroma Eksotik Kaya akan Rempah

Sementara itu, Supervisor Waroenk Seafood Wanda Bunga saat ditemui di tempat dan kesempatan yang sama menjelaskan, menu Szechuan Soup atau biasa disebut sup Sichuan dalam dialektika Indonesia merupakan jenis masakan yang berasal dari Provinsi Szechuan (kini Sichuan), China.

Menurut Wanda, masakan ini dikenal dalam “kuliner Tiongkok” sebagai masakan yang banyak memiliki kombinasi rasa seperti pedas, asam, asin, dan manis.

“Seperti diketahui, bumbu penting dalam masakan ini antara lain cabai merah. Uniknya, cabai merah sendiri baru diperkenalkan ke China sekitar 200 tahun lalu, terutama melalui perdagangan ‘Jalur Sutra’ yang legendaris,” paparnya.

Wanda menambahkan, nama sup Szechuan ini sejatinya berasal dari nama Provinsi Sichuan yang dulu disebut Szechuan.

“Nah, dari sinilah makanan tersebut merambah dan populer di provinsi lainnya, di antaranya menyebar ke Chengdu dan Chongqing,” katanya.

Terkait sup beraroma “eksotik” ini, sebut Wanda, Szechuan Soup telah terkenal sejak zaman Dinasti Han yang diklaim sebagai dinasti tertua kedua di Negeri Tirai Bambu.

“Storinya begini, pada zaman Tiga Kerajaan (Samkok), masakan dari daerah ini dikenal dengan rasa manisnya. Pada zaman Dinasti Jin, tercatat rakyat daerah ini memasak makanan dengan bahan-bahan jahe, mustar, kucai, dan bawang sehingga kemungkinan masakan mereka memiliki aroma dan rasa bumbu yang kuat (seperti Szechuan Soup),” imbuhnya.

Pada awalnya pula, ulas Wanda, Szechuan Soup belum mengenal rasa pedas. Namun, di pengujung akhir abad ke-17 di zaman Dinasti Qing, ketika cabai merah dan bumbu rempah dari Amerika Selatan diperkenalkan ke China, barulah bahan-bahan “asing” itu menambah cita rasa baru bagi masakan masyarakat di Szechuan (Sichuan).

Metode Olahan ala Sichuan yang Menggiurkan

“Sejak era Qing, sudah tercatat sebanyak 38 jenis metode memasak dalam kuliner Szechuan, dalam artian ‘Sichuan’ adalah metode memasak, bukan jenis atau nama menu. Jadi, bukan seperti yang dikenal sebagai sup ala Szechuan atau Sichuan seperti saat ini,” bahas Wanda.

Intinya, imbuh ibu dari seorang putri tersebut, metode memasak ala Sichuan (Szechuan) bukan sekadar “soup” seperti perspektif orang yang awam terhadap Chinese food.

“Menu ala Szechuan banyak jenisnya, loh. Artinya, peracikan menu Szechuan juga populer dalam pengolahan lain seperti ditumis, direbus kering, pao atau rebus dalam air, serta hui atau goreng dan rebus dengan saus pati jagung,” tegasnya.

Wanda mencontohkan, di Waroenk Seafood pihaknya juga menawarkan menu Szechuan lainnya yang bukan hanya sup, akan tetapi juga menu lainnya yang berbahan daging sapi.

“Jadi, selain Szechuan Soup, kami juga ada menu Szechuan Se’i Hotplate. Jadi, sebenarnya dari dulu Szechuan ini lebih kepada metode memasak ala ‘Sichuan’,” katanya.

Peracikan menu ala Sichuan saat itu, imbuh Wanda, juga disesuaikan kondisi geografi sehingga memungkinkan metode mengawetkan makanan dalam berbagai cara seperti mengasinkan, fermentasi, mengasap, dan mengeringkan.

“Sebelumnya, masyarakat tempo dulu di sana (Sichuan) tidak menggunakan bahan-bahan dari laut untuk makanan karena daerahnya terisolasi daratan dan gunung,” bebernya.

Kendati demikian, ungkap Wanda, dalam perkembangannya terutama di daerah pesisir seperti Hainan yang masyarakatnya hidup dari hasil laut maka Szechuan Soup mulai menggunakan kepiting, cumi, udang serta hasil laut lainya.

“Adapun di daerah daratan Tiongkok lainnya, peracikan tetap menggunakan dan bahan-bahan berdasarkan yang ada seperti daging hewan ternak (sapi dan unggas),” sambungnya.

Sementara, lanjut Wanda, bahan-bahan untuk menciptakan berbagai cita rasa berasal dari perisa seperti racikan saus dari bumbu macam tauco, cuka, kecap asin, garam, dan mustard pedas.

Menurutnya, masyarakat di sana jarang menggunakan rasa tunggal dalam arti tawar lazimnya kuliner masyarakat di negeri jiran mereka, Jepang.

“Ya, ini karena kebanyakan Chinese food menggabungkan dua jenis bumbu atau lebih yang juga berfungsi sebagai penyedap rasa atau perisa,” kata Wanda.

Ia menjelaskan, dalam perkembangan selanjutnya Szechuan Soup dibikin dari beberapa aromatik bumbu, antara lain kayu manis, adas, jintan, lada, jintan, dan cengkeh.

Dijelaskan, adapun cabai merah sebagai bumbu untuk variasi rasa dipergunakan sejak akhir abad ke-17. Menurutnya, cabai merah sebagai bahan masakan banyak digunakan dalam berbagai masakan panas seperti sup untuk menghangatkan tubuh, termasuk Szechuan Soup ini.

“Ya, (sebenarnya) itu tidak lepas karena daerah Sichuan memiliki kelembapan tinggi dan sering hujan. Sama dengan daerah lain di dunia, iklim sangat mempengaruhi olahan masakan. Seperti kita ketahui, kepedasan cabai berfungsi untuk menghangatkan diri,” tutup Wanda.

Comment