MEDIAWARTA,-Masa remaja merupakan periode penting dalam pembentukan pengetahuan, sikap, dan kemampuan mengambil keputusan terkait kesehatan. Pada fase ini, akses terhadap informasi yang tepat menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah munculnya perilaku berisiko serta membangun kesadaran untuk menjaga kesehatan reproduksi.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin melaksanakan program bertajuk “Sekolah Siaga Reproduksi Sehat: Penguatan Konselor Remaja dalam Edukasi dan Pendampingan Sebaya sebagai Strategi Pencegahan Infeksi Menular Seksual dan HIV/AIDS” di SMP Negeri 17 Bulukumba, Kabupaten Bulukumba.
Program ini diketuai oleh Dr. Erfina, S.Kep., Ns., M.Kep. dan dilaksanakan pada Jumat (7/8). Kegiatan dirancang untuk memperkuat pengetahuan kesehatan reproduksi sekaligus membekali siswa dengan keterampilan komunikasi dan konseling sebaya.
Dr. Erfina menjelaskan, remaja perlu memperoleh informasi kesehatan reproduksi yang akurat dan sesuai dengan tahap perkembangannya. Pengetahuan tersebut adalah dasar bagi remaja memahami perubahan fisik dan psikologis, menjaga kesehatan diri, mengenali perilaku yang berisiko, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
“Penguatan konselor sebaya menjadi salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan di lingkungan sekolah. Remaja sering kali merasa lebih nyaman berkomunikasi dengan teman sebayanya. Karena itu, mereka perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan yang tepat agar dapat memberikan informasi dan dukungan secara positif,” jelas Dr. Erfina.
Kepala SMP Negeri 17 Bulukumba, Dr. Kasmawati Zainuddin, S.Pd., M.Pd., menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, pembekalan yang diberikan dapat membantu siswa memahami isu kesehatan reproduksi secara lebih baik serta membangun kepedulian terhadap kesehatan diri dan lingkungan sekitarnya.
Dirinya berharap, siswa yang mengikuti pelatihan dapat menjalankan peran sebagai konselor sebaya dengan memberikan informasi yang benar dan menjadi teman diskusi yang positif bagi rekan-rekannya.
Peran tersebut diharapkan turut mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang aman dan peduli terhadap kesehatan remaja.
Kegiatan diawali dengan edukasi mengenai perubahan fisik dan psikologis pada masa remaja, pentingnya menjaga kesehatan organ reproduksi, serta penerapan perilaku hidup sehat sebagai bagian dari persiapan menuju masa dewasa.
Materi selanjutnya membahas Infeksi Menular Seksual (IMS) dan HIV/AIDS. Peserta memperoleh penjelasan mengenai karakteristik penyakit, cara penularan, langkah pencegahan, serta pentingnya menghindari perilaku berisiko. Edukasi juga menekankan pentingnya membangun pemahaman yang benar untuk mengurangi stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS.
Setelah sesi edukasi, peserta mengikuti pelatihan komunikasi efektif dan teknik dasar konseling sebaya. Pembekalan mencakup keterampilan mendengarkan secara aktif, membangun komunikasi yang empatik, serta memberikan dukungan kepada teman sebaya sesuai dengan kapasitas dan peran mereka.
Proses pembelajaran berlangsung interaktif melalui diskusi, ice breaking, dan simulasi konseling sebaya. Melalui metode role play, peserta berkesempatan mempraktikkan situasi komunikasi dan pendampingan yang dapat mereka hadapi di lingkungan sekolah.
Pendekatan konselor sebaya dalam program ini diarahkan untuk memperluas akses siswa terhadap informasi kesehatan yang tepat melalui lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari remaja. Dengan pemahaman yang memadai, konselor sebaya diharapkan dapat menjadi penghubung awal dalam penyebaran informasi positif sekaligus mendorong teman-temannya mencari bantuan kepada pihak yang tepat apabila menghadapi persoalan yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Melalui program Sekolah Siaga Reproduksi Sehat, Tim Pengabdian FKep Unhas berharap terbentuk konselor remaja yang memiliki pengetahuan, keterampilan komunikasi, dan kepedulian terhadap isu kesehatan reproduksi. Para konselor sebaya tersebut diharapkan mampu berkontribusi dalam membangun budaya saling mendukung, menyebarkan informasi yang benar, serta memperkuat upaya pencegahan IMS dan HIV/AIDS di lingkungan sekolah.
Kegiatan ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan pengetahuan dan kesadaran remaja mengenai kesehatan reproduksi serta pencegahan IMS dan HIV/AIDS. Program ini juga sejalan dengan SDGs 4: Pendidikan Bermutu melalui penguatan literasi kesehatan, keterampilan komunikasi, dan pemberdayaan siswa dalam lingkungan pembelajaran. (*/fkep)

Comment