MEDIAWARTA, MAKASSAR — Sekitar 1.000 peserta dari unsur pemerintah, organisasi kemasyarakatan, ormas Islam, organisasi mahasiswa, tokoh agama, hingga masyarakat umum berkumpul dalam Zikir Kebangsaan Yayasan Babussalam di Masjid Amirul Mu’minin, Makassar, Minggu (16/82026) malam.
Kegiatan tersebut menjadi momentum memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus memperkuat persatuan dan kesatuan di tengah dinamika sosial yang berkembang di Kota Makassar.
Ketua Panitia sekaligus Pembina Yayasan Babussalam, Syarifuddin Nasution, mengatakan Zikir Kebangsaan digelar sebagai bentuk rasa syukur atas kemerdekaan sekaligus ikhtiar untuk menjaga persaudaraan dan persatuan masyarakat.
“Kami sangat berharap ke depannya, khususnya umat Islam, tidak ada perpecahan. Kita saling mendoakan dalam kebaikan dan mendoakan para pemimpin kita agar bisa berjalan sesuai dengan koridornya,” ujar Syarifuddin.
Menurutnya, perbedaan kepentingan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, kepentingan bersama harus tetap ditempatkan di atas kepentingan kelompok maupun pribadi.
“Kepentingan boleh, tetapi kepentingan umum di atas segalanya. Kemaslahatan masyarakat dan bangsa itu di atas segalanya,” katanya.
Satukan Beragam Latar Belakang
Syarifuddin menjelaskan, Yayasan Babussalam sebelumnya lebih sering menggelar kegiatan zikir di Masjid Babussalam, Borong Raya. Kali ini, kegiatan dipusatkan di Masjid Amirul Mu’minin untuk menghadirkan suasana berbeda sekaligus mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang.
“Kita ingin menyatukan beberapa etnis yang ada, kita berdoa bersama. Semoga masyarakat Makassar khususnya bisa aman, jauh dari sikap-sikap anarkis, saling mengingat dalam kebaikan,” ujarnya.
Sejumlah unsur masyarakat dan lembaga turut diundang dalam kegiatan tersebut, di antaranya Pemerintah Kota Makassar, Polrestabes Makassar, MUI Kota Makassar, Wahdah Islamiyah, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Meski dihadiri sejumlah tokoh dan undangan, Zikir Kebangsaan tersebut terbuka bagi masyarakat umum. Panitia berharap kegiatan itu menjadi ruang silaturahmi yang mempertemukan pemerintah, ulama, mahasiswa, organisasi masyarakat, dan warga.
Pesan yang dibawa juga tidak sebatas kegiatan keagamaan. Jamaah diajak memperkuat ukhuwah, toleransi, saling menghormati, serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila, dan nilai-nilai kebangsaan.
Masyarakat juga didorong menyelesaikan setiap perbedaan melalui musyawarah serta menyampaikan aspirasi secara tertib, santun, dan bertanggung jawab sesuai koridor hukum.
Doakan Pahlawan dan Bangsa
Sebelum memimpin zikir, Habib Husain Achmad Al-Hamid menyampaikan tausiyah singkat. Ia mengajak jamaah memaknai kemerdekaan dengan meningkatkan rasa syukur melalui ibadah sekaligus mengenang jasa para pahlawan.
“Kita juga mendoakan para pahlawan yang telah gugur dan berjuang demi kebahagiaan kita saat ini,” tuturnya.
Habib Husain mengingatkan hadis “La yashkurullah man lam yashkurinnas”, yang mengajarkan pentingnya menghargai dan mensyukuri kebaikan sesama manusia.
Menurutnya, rasa syukur atas kemerdekaan semestinya diwujudkan melalui kegiatan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan melalui tindakan yang justru merusak kehidupan sosial.
“Itulah tujuan kita berkumpul malam ini. Selain berzikir dan bermuhasabah, kita juga mendoakan para pahlawan sebagai bentuk rasa syukur. Secara tidak langsung, ini juga menjadi syiar bahwa kita mensyukuri kemerdekaan Republik Indonesia,” katanya.
Ia kemudian mengajak jamaah menyampaikan berbagai hajat kepada Allah SWT. Ia berharap masyarakat yang datang dengan persoalan masing-masing memperoleh pertolongan dan kemudahan.
“Dahulukan hajat akhirat, maka tentu Allah akan memperbaiki dunia kita, insyaallah. Kita mengharap, siapa pun yang memiliki masalah, setelah keluar dari majelis ini, Allah hilangkan masalahnya,” ujarnya.
Setelah tausiyah, Habib Husain Achmad Al-Hamid memimpin zikir dan doa bersama yang menjadi inti Zikir Kebangsaan.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tausiyah Ustaz Das’ad Latief yang mengangkat pesan-pesan keislaman dan kebangsaan. Persatuan, ketertiban, keharmonisan, serta kepedulian terhadap kondisi masyarakat menjadi bagian dari pesan yang disampaikan kepada jamaah.
Berharap Makassar Semakin Aman
Bagi Yayasan Babussalam, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni peringatan kemerdekaan. Nilai persatuan yang dibangun melalui doa dan silaturahmi diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Syarifuddin berharap masyarakat tidak mudah terpecah oleh perbedaan kepentingan, pilihan maupun latar belakang.
“Kami khususnya Yayasan Babussalam sangat berharap tidak ada lagi di masyarakat saling terkotak-kotak. Tetapi kita satu visi misi, bagaimana Indonesia ke depan bisa lebih baik,” katanya.
Ia juga berharap Makassar semakin aman dan kondusif, termasuk terbebas dari berbagai gangguan yang meresahkan masyarakat.
“Mudah-mudahan ini output yang kami harapkan dari kegiatan ini,” pungkasnya.
Melalui Zikir Kebangsaan, Yayasan Babussalam ingin menjadikan momentum HUT ke-81 RI bukan hanya sebagai perayaan kemerdekaan, tetapi juga sebagai ruang untuk menguatkan doa, persaudaraan dan kepedulian bersama terhadap masa depan Makassar dan Indonesia.

Comment