PGE Kamojang Pertahankan PROPER Ems 15 Tahun Berturut-turut,Dorong Ekonomi Sirkular Lewat Inovasi Panas Bumi

MEDIAWARTA,– PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) Area Kamojang kembali meraih penghargaan PROPER Emas sekaligus memperpanjang capaian menjadi 15 kali berturut-turut. Secara nasional, hanya dua perusahaan yang mampu mempertahankan PROPER Emas dalam kurun waktu tersebut, dan keduanya berasal dari Pertamina Group, termasuk PGE.

Berbeda dengan pemanfaatan panas bumi yang umumnya berfokus pada pembangkitan listrik, keberhasilan PGE Kamojang kali ini didorong oleh terobosan pemanfaatan langsung energi panas bumi (direct use). Melalui program KANYAAH (Kamojang Agri-Aquaculture Energized by Geothermal), PGE memanfaatkan excess steam atau uap panas bumi yang sebelumnya belum termanfaatkan menjadi penggerak ekonomi sirkular masyarakat sekitar.

Direktur Operasi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Andi Joko Nugroho mengatakan konsistensi tersebut dibangun melalui penerapan standar tinggi dalam pengelolaan lingkungan dan sosial yang terintegrasi dengan kinerja operasional berbasis prinsip ESG secara menyeluruh dan terukur.

“Kami memastikan pengelolaan energi hijau tidak hanya mendukung ketahanan energi masa depan, tetapi juga memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat melalui penguatan ekonomi lokal. Komitmen ini diwujudkan melalui sinergi efisiensi operasional, inovasi teknologi, dan penguatan kapasitas masyarakat yang diterapkan secara konsisten di seluruh wilayah operasi, termasuk di Kamojang. Sebagai world leading geothermal producer, pencapaian ini mencerminkan keselarasan antara kinerja keberlanjutan dan strategi bisnis PGE dalam mendorong akselerasi transisi energi nasional,” ungkapnya.

Konsisten Tumbuh Bersama Masyarakat

General Manager PGE Area Kamojang I Made Budi Kesuma Adi Putra menjelaskan, “Kami mengembangkan program KANYAAH dengan pendekatan ekonomi sirkular yang membangun sistem saling terhubung sekaligus meningkatkan efisiensi biaya produksi. Melalui strategi tersebut, Kamojang tidak hanya berperan sebagai penghasil energi bersih, tetapi juga berkembang sebagai sarana pemberdayaan masyarakat berbasis pemanfaatan energi panas bumi sebagai potensi alam setempat. Dengan mengoptimalkan sumber daya lokal tersebut, PGE mendorong agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat sekitar.”

Di sektor perikanan, PGE mengembangkan Geothermal Fishery melalui pemanas kolam berbasis panas bumi. Teknologi ini mampu mempercepat masa panen hingga 25 persen serta meningkatkan bobot ikan dari rata-rata 200 gram menjadi 330 gram per ekor.

Sementara itu, di sektor pertanian, PGE menghadirkan Geothermal Organic Fertilizer (GeO-Fert) yang telah menghasilkan 193,8 ton pupuk ramah lingkungan. Pupuk tersebut dimanfaatkan pada 12,34 hektar lahan pertanian.

Selain itu, PGE juga mengembangkan Geothermal Farming dengan mengoptimalkan pemanfaatan panas bumi untuk mendukung proses pembibitan dan budidaya tanaman hortikultura agar lebih efisien dan produktif. Pendekatan ini turut meningkatkan kualitas hasil panen sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal.

Selanjutnya, melalui Geothermal Food, PGE mendorong pengolahan hasil pascapanen masyarakat agar memiliki nilai tambah yang lebih tinggi. Inisiatif ini tidak hanya memperpanjang rantai manfaat di sektor pertanian, tetapi juga membuka peluang usaha baru sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat secara berkelanjutan.

Dampak Nyata bagi Masyarakat dan Lingkungan

Secara keseluruhan, program KANYAAH telah menjangkau 4.397 penerima manfaat dengan total penghasilan masyarakat mencapai Rp3,08 miliar serta nilai Social Return on Investment (SROI) sebesar 5,10. Dari sisi lingkungan, program ini turut berkontribusi terhadap reduksi emisi sebesar 146,28 ton CO₂e per tahun serta pengurangan sampah organik hingga 232 ton per tahun.

Berbagai inisiatif tersebut tidak hanya meningkatkan produktivitas usaha, tetapi juga menekan biaya operasional, khususnya dalam budidaya perikanan dan pengolahan hasil pertanian. Program ini turut mendorong terbentuknya kelompok usaha masyarakat yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

“Capaian ini mencerminkan bagaimana pengelolaan panas bumi di Kamojang mampu mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan di tingkat tapak. Kami berharap Kamojang dapat terus menjadi contoh bagaimana pengelolaan panas bumi berjalan selaras antara pertumbuhan bisnis, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Ke depan, PGE berkomitmen menghadirkan energi bersih yang andal sekaligus mendorong terciptanya ekonomi hijau di Indonesia,” kata I Made Budi Kesuma Adi Putra.

Sebagai wilayah panas bumi tertua di Indonesia, Kamojang memiliki sejarah panjang dalam pengembangan energi bersih. Eksplorasi dimulai sejak 1926, kemudian dilanjutkan oleh Pertamina pada 1974, hingga akhirnya beroperasi komersial melalui PLTP Kamojang pada 1983. Saat ini, pengelolaan WKP Kamojang berada di bawah PGE dengan lima unit PLTP yang memiliki total kapasitas 235 megawatt (MW) dari keseluruhan 727 MW kapasitas terpasang yang dikelola perusahaan.

Dengan kapasitas tersebut, PLTP Kamojang mampu memasok listrik bagi lebih dari 260.000 rumah tangga setiap hari sepanjang tahun tanpa bergantung pada cuaca maupun bahan bakar fosil. Hingga September 2025, produksi listrik Kamojang mencapai 1.326 gigawatt hour (GWh), tertinggi di antara seluruh WKP PGE. Produksi ini sekaligus berkontribusi pada pengurangan emisi karbon hingga 1,22 juta ton CO₂ per tahun, sejalan dengan target Net Zero Emission Indonesia pada 2060.

***

Tentang PT Pertamina Geothermal Energy Tbk

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) merupakan bagian dari Subholding Power & New Renewable Energy (PNRE) PT Pertamina (Persero) yang bergerak di bidang eksplorasi, eksploitasi, dan produksi panas bumi. Saat ini PGE mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan kapasitas terpasang sebesar 1.932 MW, terbagi atas 727 MW yang dioperasikan dan dikelola langsung oleh PGE dan 1.205 MW dikelola dengan skema Kontrak Operasi Bersama. Kapasitas terpasang panas bumi di wilayah kerja PGE berkontribusi sekitar 70% dari total kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia, dengan potensi pengurangan emisi CO2 sebesar sekitar 10 juta ton CO2 per tahun.

Sebagai world class green energy company, PGE ingin menciptakan nilai dengan memaksimalkan pengelolaan end-to-end potensi panas bumi beserta produk turunannya serta berpartisipasi dalam agenda dekarbonasi nasional dan global untuk menunjang Indonesia net zero emission 2060. PGE memiliki kredensial ESG yang sangat baik dengan 18 penghargaan PROPER Emas sejak 2011 sampai 2025 dalam penghargaan kepatuhan lingkungan tertinggi dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Peringkat & Keterlibatan ESG.

Comment