MEDIAWARTA,-Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan kondisi sistem keuangan Indonesia tetap terjaga pada triwulan I 2026 meski ketidakpastian ekonomi global meningkat akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan KSSK dalam konferensi pers hasil rapat berkala KSSK II Tahun 2026 yang digelar di Jakarta, Kamis (7/5/2026)
KSSK yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia (BI), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan nasional masih stabil di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global.
“Koordinasi dan sinergi kebijakan antarotoritas terus diperkuat untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” demikian keterangan resmi KSSK.
KSSK menyebut konflik di Timur Tengah berdampak pada kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok global yang memicu tekanan inflasi dunia serta meningkatnya volatilitas pasar keuangan internasional.
International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global melambat menjadi 3,1 persen pada 2026 dari sebelumnya 3,4 persen pada 2025. Sementara inflasi global diperkirakan meningkat menjadi 4,4 persen.
Di tengah tekanan global tersebut, ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tercatat tumbuh 5,61 persen secara tahunan atau year on year (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,39 persen.
Pertumbuhan ekonomi didorong oleh konsumsi rumah tangga, percepatan belanja pemerintah, investasi, serta sejumlah program prioritas nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan Desa Nelayan, dan Sekolah Rakyat.
KSSK juga mencatat inflasi nasional tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1 persen. Pada April 2026, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat sebesar 2,42 persen yoy, menurun dibandingkan Maret 2026 sebesar 3,48 persen yoy.
Sementara itu, nilai tukar rupiah pada akhir Maret 2026 berada di level Rp16.995 per dolar AS. Bank Indonesia disebut terus memperkuat kebijakan stabilisasi rupiah melalui intervensi pasar valas dan penguatan instrumen moneter.
Di sektor pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 7.048,22 per akhir Maret 2026. Penghimpunan dana di pasar modal hingga 5 Mei 2026 mencapai Rp59,35 triliun.
Kinerja perbankan nasional juga dinilai tetap solid. Kredit perbankan pada Maret 2026 tumbuh 9,49 persen yoy menjadi Rp8.659 triliun, sementara rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gross tercatat 2,1 persen.
Ketahanan industri perbankan juga tercermin dari Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 25,09 persen, yang dinilai masih berada pada level aman.
Selain itu, KSSK menegaskan APBN tetap berfungsi sebagai shock absorber untuk menjaga daya beli masyarakat dan menopang pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan global.
Pemerintah bersama BI, OJK, dan LPS juga berkomitmen memperkuat koordinasi dalam menjaga stabilitas sistem keuangan serta mendukung program prioritas nasional dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
“KSSK akan terus meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat respons kebijakan terkoordinasi guna memitigasi berbagai risiko terhadap perekonomian dan sistem keuangan nasional,” tulis KSSK dalam pernyataannya.
KSSK dijadwalkan kembali menggelar rapat berkala berikutnya pada Juli 2026.

Comment